<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904</id><updated>2011-12-22T09:42:09.933-08:00</updated><category term='Sejarah Habib Alawiyin'/><category term='Kafa&apos;ah Syarifah'/><category term='Salaf Aidid'/><category term='Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.'/><category term='Beranda'/><category term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><category term='Qabilah'/><category term='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait'/><category term='Berita'/><title type='text'>Habib Alawiyin - Sejarah Salaf Ahlul Bait</title><subtitle type='html'>Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-4770166689071327351</id><published>2011-01-06T23:22:00.007-08:00</published><updated>2011-01-07T00:19:15.320-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait'/><title type='text'>Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Cinta Ahlul Bait, Cinta Sahabat</title><content type='html'>&lt;div class="nasab_content"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h6 style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;CINTA AHLUL BAIT, CINTA SAHABAT&lt;br /&gt; Pujian Imam Ahlul Bait Terhadap Sahabat Nabi saw&lt;br /&gt;Upaya Menjaga Kemuliaan Dzat Ahlul Bait  Nabi saw&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;  &lt;a name="01"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;1. Definisi Sahabat.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sahabat adalah sebutan bagi siapa saja yang pernah bertemu  atau melihat Nabi Muhammad saw dan memeluk Islam. Para ulama berbeda pendapat  dalam mendefinisikan makna sahabat. Ada yang berpendapat bahwa orang yang hanya  sekali melihat Rasulullah saw adalah sahabat rasulullah saw. Maka kaum muslimin  yang berada di Madinah dan Mekkah setelah penaklukan adalah sahabat, atau baru  lahir pada haji wada' akhir Zulkaidah sebelum Nabi saw sampai ke Mekkah pada  tahun 10 Hijriyah dan tiga bulan sebelum wafat Nabi saw, atau orang yang hidup  pada masa Nabi saw dan beriman tetapi tidak berjumpa dengannya, atau  menjumpainya setelah wafat Nabi saw dengan hanya melihat jenazahnya, bisa juga  dikatakan sebagai sahabat Nabi saw. Batasan yang ketat berpendapat bahwa  seseorang bisa dikatakan sebagai sahabat Nabi saw bila ia lama bergaul  dengannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberikan pengertian bahwa  yang dinamakan sahabat nabi adalah orang muslim yang hidup bersama nabi atau  pernah melihatnya. Menurut Zain al-Iraqi mengatakan bahwa sahabat adalah yang  bertemu Rasulullah dalam keadaan muslim dan meninggal dalam Islam. Said bin  Musayyab berpendapat bahwa sahabat adalah orang yang pernah tinggal dan hidup  bersama nabi saw selama satu tahun penuh atau setidak-tidaknya pernah ikut  perang bersama nabi saw. Ibnu Hajar al-Haitsami mengatakan bahwa sahabat adalah  orang yang bertemu dengan Nabi saw dalam keadaan beriman kepada beliau saw dan  (sampai) meninggal (ia berada) dalam Islam, baik orang itu meriwayatkan hadits  atau tidak dari Nabi saw, atau orang yang tidak pernah melihat beliau saw karena  buta. Ahmad bin Hanbal mengatakan sahabat rasul adalah orang yang pernah hidup  bersama beliau, sebulan atau sehari atau sesaat atau hanya dengan melihatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut mayoritas ulama hadits, seseorang dapat dikatakan  sahabat apabila ia tetap dalam keadaan beriman sampai ia wafat bahkan sekalipun  seseorang yang telah mendapat gelar murtad, tetapi ia kembali beriman, ia masih  tetap dikatakan sahabat. Ulama lain berpendapat bahwa seseorang dikatakan  sahabat jika ia bergaul lama dengan Nabi saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi atau  Imam Muslim, seorang ahli hadits terkenal, mengelompokkan sahabat-sahabat  Rasulullah saw k e dalam dua belas peringkat berdasarkan peristiwa yang mereka  alami atau saksikan. Peringkat pertama adalah &lt;i&gt;al-Sabiqun al-Awwalun &lt;/i&gt; (mereka yang pertama sekali masuk Islam), dimulai dari Abubakar, Umar, Usman,  Ali bin Abi Thalib dan seterusnya. Peringkat kedua, mereka yang tergabung dalam &lt;i&gt;Dar al-Nadwah &lt;/i&gt;(gedung pertemuan bagi orang-orang Quraisy pada masa  sebelum dan awal Islam), yang ketika Umar menyatakan keislamannya mereka  membawanya menghadap Rasulullah saw, lalu memba'iatnya. Peringkat ketiga, mereka  yang ikut hijrah ke Habasyah. Peringkat keempat, mereka yang memba'iat Nabi saw  di Aqabah pertama. Peringkat kelima, mereka yang memba'iat Nabi saw di Aqabah  kedua. Peringkat keenam, orang-orang Muhajirin yang pertama menemui Nabi saw  ketika beliau tiba di Quba sebelum memasuki kota Madinah pada waktu hijrah.  Peringkat ketujuh, mereka yang ikut serta dalam perang Badar. Peringkat  kedelapan, mereka yang berhijrah ke suatu tempat antara Badar dan Hudaibiyah.  Peringkat kesembilan, mereka yang tergabung dalam kelompok ba'iat &lt;i&gt;al-Ridwan&lt;/i&gt;  (ba'iat yang dilakukan kaum muslimin ketika terjadi gazwah/perjanjian  Hudaibiyah)&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Peringkat kesepuluh, mereka yang ikut hijrah antara  al-Hudaibiyah dan al-Fatah (penaklukkan Mekkah). Peringkat kesebelas,  berdasarkan urutan masuk Islam. Peringkat kedua belas, para remaja dan anak-anak  yang sempat melihat Rasulullah saw pada waktu penaklukkan kota Mekkah dan haji  Wada' serta di tempat-tempat lain. Jumlah orang yang mendapat predikat sahabat  pada waktu Nabi saw wafat sekitar 144.000 orang, yakni para pengikut Nabi saw  dan secara nyata melihatnya lalu memeluk Islam. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentang penilaian terhadap para sahabat, juga terdapat  beberapa pendapat. Pendapat jumhur mengatakan bahwa para sahabat Nabi saw adalah  manusia-manusia arif, mujtahid, yang integritas kepribadiannya dijamin oleh  alquran dan sunnah. Mereka menurut al-Razi, adalah sahabat-sahabat Rasulullah  saw yang menyaksikan wahyu, mengetahui ta'wil dan tafsir, memahami semua ajaran  yang disampaikan Allah swt kepada Rasul-Nya dan yang disunnahkan dan  disyariatkan Nabi saw. Allah swt telah menjadikan mereka teladan bagi umat.  Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hajar al-Haitsami, Ibnu Hazm, al-Ghazali dan  lainnya. Menurut pendapat Muktazilah, semua sahabat &lt;i&gt;'udul &lt;/i&gt;(adil) kecuali  mereka yang terlibat dalam perang Siffin (perang antara Ali dan Muawiyah).  Menurut pendapat sebagian kecil ulama, semua sahabat, seperti semua periwayatan  yang lain, harus diuji &lt;i&gt;'adalah&lt;/i&gt;-nya. Para sahabat itu tidak berbeda dari  manusia lainnya dalam hal ketidakmustahilannya berbuat salah dan alpa. Ke-&lt;i&gt;'adalah&lt;/i&gt;-an  mereka bukan secara umum seperti kaidah pendapat jumhur yang mengatakan: &lt;i&gt; al-Sahabat kulluhum 'udul &lt;/i&gt;(sahabat semuanya adil), tetapi secara perorangan,  karena tingkat pengetahuan, penguasaan terhadap agama, dan kemampuan mereka  tidak sama. Jadi, bila ada sahabat yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw,  maka &lt;i&gt;'adalah&lt;/i&gt;-nya harus diteliti untuk menerima atau tidak hadits  tersebut. Sebab, bila pendapat jumhur diterima, maka semua hadis sahih.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Allamah al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas dalam kitabnya  yang berjudul &lt;i&gt;Tanwir al-Aglas &lt;/i&gt;berkata: 'Para sahabat adalah manusia  utama setelah para nabi, dan sahabat yang paling utama adalah khalifah yang  empat, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib. Semua mereka &lt;i&gt;'udul &lt;/i&gt;dan bersih dari kesalahan. Mereka dibagi menjadi tiga, Muhajirin, Anshor dan  sahabat yang beriman kepada Rasul saw dan sahabatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun definisi tentang sahabat dan penilaian terhadap  mereka diperdebatkan oleh para ulama, namun mereka menduduki posisi penting  dalam pewarisan ajaran Islam dan penyebaran Islam. Sebab, mereka adalah generasi  pertama umat Islam yang memelihara hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam  setelah Nabi saw wafat. Mereka sampaikan kepada generasi kedua (tabi'in), dan  tabi'in kepada tabi'at al-tabi'in (generasi ketiga), hingga sampai kepada kita.  Para Imam ahlul bait menerima semua yang disebutkan dalam kitab alquran dan  sunnah nabi tentang keutamaan-keutamaan mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah  generasi terbaik, seperti yang disabdakan Rasulullah saw: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Sebaik-baiknya kalian adalah generasiku, kemudian yang  datang setelah itu, kemudian yang datang setelah itu, kemudian yang datang  setelah itu."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain itu, mereka berpencar ke seluruh penjuru negri, mereka  memasuki kota-kota besar yang sudah takluk di bawah pemerintahan Islam. Di  antara mereka ada yang menjadi khalifah, gubernur, hakim atau jabatn-jabatan  penting lainnya. Di situlah mereka semua menyebarkan ajaran Rasulullah saw.  Mereka mengeluarkan fatwa-fatwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang  diajukan dengan penuh keikhlasan dan kebersihan hati untuk mendekatkan diri  kepada Allah saw. Itulah kedudukan para sahabat Nabi saw yang pasti dan dan tak  dapat dipungkiri.&lt;/p&gt;  &lt;a name="02"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Perintah mencintai Sahabat Nabi saw.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketahuilah, bahwa kecintaan terhadap Ahlul Bait tidak  mempunyai arti, jika tidak terdapat kecintaan terhadap para sahabat Nabi saw.  Sesungguhnya para sahabat Nabi saw, mereka telah menemani Nabi saw dalam segala  keadaan, baik dalam keadaan sukacita maupun dalam keadaan duka cita. Mereka rela  untuk menyerahkan nyawa dan semua hartanya untuk mendukung perjuangan Rasulullah  saw. Mereka lebih menyintai Rasulullah saw dan keluarga dibandingkan kecintaan  mereka terhadap keluarganya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkata Fakhrurozi, Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إلاّ المودّة فى القربى&lt;/span&gt;  , ayat tersebut  tidak saja pujian Allah swt kepada keluarga Rasulullah saw, tetapi juga pujian  kepada para sahabatnya, disebabkan Allah swt berfirman dalam ayat yang lain: &lt;span style="font-size:130%;"&gt;السّابقون السّابقون أولئك المقرّبون &lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;, &lt;/span&gt;sesungguhnya orang-orang yang taat kepada Allah swt  (para sahabat) mempunyai tempat yang dekat di sisi Allah swt. Sebagaimana telah  diketahui bahwa keluarga Rasulullah saw mempunyai tempat yang dekat di sisi  Allah swt, begitu pula para sahabat beliau juga mempunyai tempat yang dekat di  sisi Allah swt.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walhasil, para imam ahlul bait telah bersepakat bahwa  kewajiban mencintai keluarga Rasul saw harus bersamaan dengan sikap mencintai  para sahabatnya, sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مثل أهل بيتى كمثل سفينة نوح من ركب فيها نجا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Perumpamaan ahlul baitku bagi kalian seperti bahtera Nuh  as, barangsiapa yang menaikinya (mengikutinya) akan selamat." &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أصحابى كالنجوم بأيّهم اقتديتم اهتديتم &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sahabatku ibarat bintang (yang memberi petunjuk), barang  siapa di antara kalian yang mengikuti mereka, niscaya kalian akan  mendapatkan petunjuk."&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Jika seorang mengarungi lautan, ia memerlukan petunjuk untuk  sampai dengan selamat di tempat tujuan. Begitu pula saat ini, semua manusia  sedang mengarungi lautan dunia yang memerlukan petunjuk agar selamat ke negeri  akhirat. Dalam mengarungi lautan, seorang pelaut memerlukan dua petunjuk yaitu  perahu dan bintang. Begitu pula manusia, jika ingin selamat dalam mengarungi  lautan dunia agar selamat ke negeri akhirat harus memerlukan dua petunjuk yaitu  perahu Nuh as (ahlul bait) dan bintang (para sahabat).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara umum keutamaan sahabat terdapat dalam alquran dan hadist Rasulullah  saw. Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Peliharalah kecintaan terhadapku dengan  kecintaan kepada sahabat dan sihr-ku. Barang siapa yang memelihara  kecintaan terhadapku, maka Allah swt akan memeliharanya dalam dunia  dan akhirat. Dan bagi orang-orang yang tidak memelihara kecintaan  kepada mereka, maka Allah swt akan mencampakkannya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Muliakan sahabatku sesungguhnya mereka  orang-orang yang terbaik di antara kamu.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Janganlah kalian mencela seorangpun dari  sahabatku. Demi Allah yang jiwaku berada dalam kekuasaannya, Jika  saja seorang di antara kalian menginfaqkan emasnya sebesar gunung  Uhud, niscaya tidak akan sama walau sedikitpun atau setengahnya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Sesungguhnya Allah swt telah memilihku dan  memilihkan untukku sahabat, dan menjadikan untukku di antara mereka  seorang wazir, penolong dan sihr. Barang siapa yang mencela  mereka, maka Laknat Allah swt, para malaikat dan semua manusia  kepadanya, dan Allah swt tidak akan menerima amalnya baik yang wajib  dan yang sunnah.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Allah, Allah selalu menaungi sahabatku.  Janganlah kalian berbuat sesuatu yang buruk kepada mereka setelah  aku tiada. Barang siapa yang mencintai mereka berarti mencintaiku,  barang siapa yang membenci mereka berarti membenciku. Siapa yang  menyakiti mereka berarti menyakiti aku, siapa yang menyakiti aku  berarti menyakiti Allah swt.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Sesungguhnya manusia itu banyak, tetapi  sahabatku sedikit. Janganlah kalian mencela mereka. Allah swt telah  melaknat orang-orang yang mencela mereka.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Sesungguhnya seberat-beratnya siksa Allah swt  terhadap hambanya di hari kiamat, bagi mereka yang suka mencaci maki  para nabi kemudian sahabatku dan kaum muslimin.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Jika Allah swt menghendaki kebaikan kepada  umatnya, niscaya akan diberikan rasa cinta kepada sahabatku di dalam  hatinya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Jika kalian melihat suatu kaum mencela  sahabatku, maka katakanlah: Laknat Allah swt atas kejahatan kalian!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Seburuk-buruknya umatku adalah mereka yang  mencaci maki sahabatku.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Aku memohon kepada Allah swt terhadap sahabatku  setelah aku tiada. Maka Allah swt memberitakan kepadaku: Ya  Muhammad, sesungguhnya sahabatmu mempunyai kedudukan seperti bintang  di langit, yang satu menjadi bagian yang lainnya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Syafa'atku akan aku berikan secara umum,  kecuali kepada mereka yang mencaci maki sahabatku.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Tidak seorangpun dari sahabatku yang wafat di  bumi, niscaya akan dibangkitkan sebagai pemimpin dan cahaya di hari  kiamat nanti.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Jika dibicarakan di antara kamu (tentang  masalah yang diperselisihkan) sahabatku, maka diamlah kamu.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Akan datang suatu kaum yang mencela dan mencaci  maki sahabat. Jika kalian bertemu, janganlah kalian duduk, minum,  makan dan menikah dengan mereka.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Siapa yang mencela para nabi maka perangilah,  dan siapa yang mencela sahabatku maka cambuklah.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Kedudukan mereka (sahabat) sesaat lebih baik  dibandingkan amal perbuatan kalian sepanjang hidup.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Siapa yang menjaga (perkataan dan sikap dari  mencaci maki) sahabatku, maka akan berkumpul bersamaku di telaga  Haudh. Dan siapa yang tidak menjaga (perkataan dan sikap dari  mencaci maki) sahabatku, tidak akan berkumpul denganku di telaha  Haudh, bahkan sama sekali tidak akan melihatku.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Perumpamaan sahabatku seperti garam terhadap  makanan, tidak akan terasa lezat makanan kecuali dengan garam.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Bintang merupakan penyelamat bagi langit, jika  bintang lenyap maka akan datang apa yang dijanjikan kepada langit  (gelap gulita). Sahabatku adalah penyelamat bagi umatku, jika  sahabatku lenyap maka akan datang apa yang dijanjikan kepada umatku  (kesesatan).&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Siapa yang berkata dengan perkataan yang baik  mengenai sahabatku sesungguhnya dia telah terbebas dari sifat  munafik, dan siapa yang berkata dengan perkataan yang jelek mengenai  sahabatku sesungguhnya dia telah menyalahi sunnahku, dan akan  dimasukkan ke dalam neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;- Siapa yang mencintai sahabat-sahabatku,  bermaula kepada mereka dan memintakan ampun untuk mereka, maka Allah  swt akan memasukkannya bersama para sahabat ke dalam surga.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkata Ibnu Hajar al-Haitsami dalam kitab &lt;i&gt;Asna al-Matholib Fi Shilat  al-Aqorib, &lt;/i&gt;bahwa wajib bagi setiap muslim untuk  bersikap baik dan ridho terhadap para sahabat dan ahlul baitnya, mengenal  keutamaan dan hak-hak mereka, menahan dari mengeluarkan pendapat negatif  terhadap peristiwa yang terjadi di antara mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Hafidz al-Suyuthi dalam risalahnya &lt;i&gt;Ilqomu al-Hajar  Liman Zaka Saba Abubakar Wa Umar&lt;/i&gt;, bahwa jika seorang menganggap halal  mencela sahabat maka ia kafir karenanya. Jika ia tidak menganggap halal maka ia  fasik karenanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Qadhi Iyadh dalam kitab al-Syifa berkata: Haram hukumnya  bagi orang yang mencela dan mencaci maki sahabat dan pelakunya dilaknat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Hanbal berkata: 'Apabila kamu melihat seseorang menyebut-nyebut sahabat  Rasulullah saw dengan kejelekan, maka curigailah dia menumbangkan Islam.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Malik bin Anas, berkata: 'Barang siapa mencela Nabi saw maka perangilah  mereka, dan siapa yang mencaci maki sahabat beliau saw maka berilah hukuman yang  membuat jera.' &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Taimiyah berkata: 'Barang siapa menganggap murtad sahabat sepeninggalan  Nabi saw kecuali beberapa orang saja atau dikira mereka semuanya fasik, maka  tidak ada keraguan mengenai kekafiran orang itu.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abu Zur'ah al-Razi berkata: 'Apabila kamu melihat seseorang mencela sahabat  Nabi saw, maka ketahuilah bahwa dia itu zindik.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Abidin berkata: 'Barang siapa mencaci maki Abubakar dan Umar atau  memfitnah keduanya, maka kafirlah ia dan taubatnya tak diterima.'&lt;/p&gt;  &lt;a name="03"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Sikap Imam Ahlul Bait Terhadap Sahabat.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkenaan dengan para sahabat nabi, Ahlu Sunnah mempunyai  hati yang lurus dan bersih dengan mengatakan bahwa persahabatan dengan Nabi saw  adalah suatu kemuliaan yang tidak ada bandingannya. Mereka menjaga baik-baik  wasiat Nabi saw tentang para sahabat: '&lt;i&gt;Janganlah kalian mencaci-maki para  sahabatku&lt;/i&gt;', oleh karena itu mereka tidak pernah mencaci-maki seorang pun  dari kaum Muhajirin dan Anshor. Begitu pula dengan sikap para imam ahlul bait  terhadap sahabat-sahabat Rasulullah saw. Mereka tidak pernah mencaci maki para  sahabat, bahkan mereka banyak memuji dan mengakui keutamaan para sahabat  Rasulullah saw. Imam Ali bin Abi Thalib berkata: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Aku telah melihat para sahabat Muhammad saw, tak satupun  ada orang yang kulihat yang menyamai mereka. Siang hari mereka sujud dan  berdiri menghadap Allah swt. Mereka pergunakan malam untuk shalat dan tidur  secara bergantian. Mereka bagaikan di atas bara api karena mengingat hari  akhir, seolah-olah pada mata mereka ada bulu kambing karena banyak sujud.  Apabila disebut nama Allah, bercucuran air matanya, sehingga membasahi  dadanya. Hati mereka selamanya goncang, seperti goncangnya pohon diterpa  angin kencang karena takut pada siksa Allah dan mengharap pahala-Nya".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far al-Shiddiq meriwayatkan bahwa seorang pria dari suku Quraisy  datang kepada Ali bin Abi Thalib di masa ia menjadi khalifah. Orang itu berkata  kepada Imam Ali bin Abi Thalib:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Wahai amirul mukminin! Aku pernah mendengar engkau  berkata dalam suatu pidato: Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami hamba-Mu yang  saleh sebagaimana Engkau telah jadikan khulafaur rasyidin hamba-hamba-Mu  yang saleh. Siapakah gerangan mereka itu? sambil air matanya berlinang, ia  biarkan air matanya menetes. Lalu Imam Ali menjawab: Mereka adalah  orang-orang yang kucintai. Mereka paman-pamanmu. Abubakar dan Umar adalah  sebagai imam hidayah, syekh Islam dan para penuntun setelah Rasulullah saw.  Barangsiapa yang mengambil tauladan dari mereka akan terpelihara.  Barangsiapa mencontoh prilaku mereka mendapat prtunjuk jalan yang lurus.  Barangsiapa berpegang teguh pada jalan mereka akan masuk golongan (hizb)  Allah swt. Dan golongan Allah itu adalah orang-orang yang selamat".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Riwayat lain menceritakan bahwa seorang lelaki datang  menghadap Imam Ali seraya berkata: Wahai amirul mukminin! pada saat aku  melewati segolongan manusia terdapat di antara mereka yang membicarakan hal-hal  yang tidak pantas mengenai Abubakar dan Umar. Sejenak kemudian, Ali pun naik  mimbar mengucapkan khutbah dan ia berkata: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Demi dzat yang menciptakan biji-bijian dan membebaskan  jiwa! sebenarnya mereka itu (Abubakar dan Umar) sungguh mukmin yang luhur.  Tidaklah ada siapapun manusia yang benci kepada mereka dan melawan mereka,  melainkan orang itu jahat dan durhaka. Mencintai mereka berarti dekat kepada  Allah swt. Dan membenci mereka berarti durhaka kepada Allah swt. Mengapakah  mereka mengunjing saudara-saudara Rasulullah, pembantu dan para sahabat  beliau? Mereka adalah kepala-kepala Quraisy dan tokoh-tokoh Islam. Aku  tidak akan melepaskan diri dari orang yang mengunjingkan Abubakar dan Umar,  bahkan mereka akan mendapat ganjaran balasan yang setimpal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata: "Maukah kalian  kuberitahukan siapa orang yang terbaik bagi umat ini setelah Nabi Muhammad saw?  Lalu beliaupun berkata: Abubakar setelah itu Umar".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata tentang Usman: "Sesungguhnya  orang-orang mencercanya, sedang aku dari golongan muhajirin,  banyak memohon keridhoannya".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika Imam Hasan bin Ali ditanya, apakah mencintai Abubakar  dan Umar sunnah hukumnya? beliau menjawab: "Bukanlah semata-mata sunnah,  tetapi wajib hukumnya".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Telah datang seorang laki-laki kepada Imam Ali Zainal Abidin  dan bertanya: Bagaimanakah kedudukan Abubakar dan Umar di sisi Rasulullah saw?  Beliau menjawab: "Kedudukan mereka sekarang ini sebagai pedamping Rasulullah  saw di pembaringannya".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Hilyah al-Aulia&lt;/i&gt;, telah diriwayatkan oleh  Abu Nuaim, Imam Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib berkata: Telah datang  kepadaku beberapa orang dari Iraq dan mereka bercerita tentang Abubakar, Umar  dan Usman. Setelah mereka selesai bercerita berkata Imam Ali bin Husein kepada  mereka:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ali bin Husein: Maukah kalian memberitahu  aku, apakah kalian termasuk kaum Muhajirin yang terdahulu, yang  hijrah dari tempat mereka dan membelanjakan hartanya  demi untuk mendapatkan keutamaan dan keridhoan Allah  swt, dimana mereka membantu Allah dan Rasul-Nya, dan  mereka termasuk orang-orang yang benar? (Al-Hasyr:8) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ahlul Iraq: Tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ali bin Husein: Apakah kalian termasuk  orang-orang yang telah menempati kota Madinah (Anshor) dan telah  beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),  mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada  mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam  hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada  mereka (Muhajirin) atas diri mereka sendiri,  sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan  itu)? (Al-Hasyr: 9) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ahlul Iraq: Tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ali bin Husein: Jika kalian tidak termasuk ke  dalam dua golongan tersebut, Maka saksikanlah bahwa kalian tidaklah  termasuk dalam firman Allah: Dan orang-orang yang  datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor) dan  berdoa: "Wahai Tuhan kami, beri ampun kami dan  saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu  daripada kami dan janganlah Engkau membiarkan  kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang  beriman … (Al-Hasyr: 10). &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keluarlah kalian!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan dari Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib,  beliau berkata: "Wahai ahlul Iraq, cintailah kami sebagaimana kalian mencintai  Islam. Demi Allah, tidak akan bergeser kecintaan kalian kepada kami hingga  kalian mencampuradukan kecintaan kalian kepada kami dan membenci Abubakar dan  Umar serta mencaci maki mereka berdua".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ali Zainal Abidin berdoa untuk para sahabat Rasulullah saw yang telah  membantu beliau saw dalam perjuangan menegakkan agama Islam sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Ya Allah, untuk sahabat-sahabat Muhammad  saw, khususnya mereka yang terjalin persahabatan dengan baik bersama beliau  saw dan mereka yang telah berjasa mendukungnya, mereka yang bahu-membahu  bersama Rasulullah saw dan telah berusaha secepatnya dalam mendukung dan  segera dalam menerima ajakan Rasul saw kepada mereka, dari hujjah  risalah-Nya, mereka yang sudi dan tahan berpisah dari anak-anak dan istrinya  demi menegakkan dan menyebarkan kalimat haq, mereka yang juga tidak  segan-segan memerangi anak-anak dan ayah mereka sendiri untuk mengukuhkan  nubuwahnya, mereka adalah orang-orang yang dikucilkan oleh suku dan famili  mereka hanya karena bergantung pada tali beliau, Muhammad saw, dan  terputuslah hubungan kerabat yang sebelumnya terjalin erat sesama mereka dan  mengajaknya menjadi anggota kerabat beliau.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ya Allah, betapa banyak yang telah mereka tinggalkan  serta mereka berikan kepada-Mu, dengan segala kerelaan, balaslah hijrah  mereka dari rumah tangganya menuju rumah-Mu. Mereka tinggalkan kehidupan  yang makmur dan sentosa, lalu memilih kehidupan yang sederhana dan penuh  tantangan."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, berkata: "Memutuskan  hubungan dengan Abubakar dan Umar tidak lain arti melainkan memutuskan hubungan  dengan Ali bin Abi Thalib". Beliau berkata pula: 'Barangsiapa yang mencela  Abubakar dan Umar, maka Allah swt, para malaikat dan semua manusia akan  melaknatnya'. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu juga sikap Ja'far al-Shadiq terhadap para sahabat,  seperti yang diriwayatkan dari Salim Ibnu Abi Hafsah berkata: Ketika aku  mengunjungi Imam Ja'far al-Shadiq Ibnu Muhammad yang sedang sakit, maka beliau  berkata: "Ya Allah sesungguhnya aku mencintai Abu Bakar dan Umar, dan akupun  bermaula kepada keduanya. Ya Allah, jika perasaan yang ada dalam diriku berbeda  dengan apa yang aku ucapkan, semoga aku tidak mendapatkan syafa'at dari Muhammad  saw".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian beliau berkata: "Wahai Salim, pantaskah jika ada  seseorang yang mencaci maki kakeknya, sesungguhnya Abu Bakar ra adalah kakekku,  sesungguhnya aku tidak mengharap syafa'at dari seorangpun , kecuali aku  mengharap syafa'at yang sepertinya dari Abu Bakar." Bahkan ia pernah berkata:  "Aku berlepas tangan dari orang-orang yang mengatakan sesuatu sesudah Nabi saw  tentang Abu Bakar dan Umar kecuali yang baik."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far al-Shadiq ditanya tentang Abubakar dan Umar,  beliau menjawab: 'Aku berlepas diri terhadap orang-orang yang berlepas diri  dari keduanya'. Kemudian beliau ditanya lagi, apakah anda bersikap &lt;i&gt;taqiyyah?&lt;/i&gt; Imam Ja'far al-Shadiq menjawab:  'Jika aku bersikap seperti itu, maka aku  akan berlepas diri dari Islam dan aku tidak akan mengharap syafaat kakekku  Muhammad saw'. Selanjutnya beliau berkata: 'Allah swt berlepas diri terhadap  orang-orang yang berlepas dari Abubakar dan Umar'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu pula sikap ayah al-Shaddiq, Imam Muhammad al-Baqir.  Beliau sangat cinta kepada Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, beliau sangat  memujinya dan berkata: "Siapapun yang tidak mengucapkan al-Shiddiq di belakang  nama Abu Bakar, maka Allah tidak akan membenarkan ucapannya". Selanjutnya beliau  berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Sesungguhnya aku berlepas diri dari orang yang membenci  Abu Bakar dan Umar, andaikata aku berkuasa, pasti aku akan mendekatkan diri  kepada Allah swt dengan menumpahkan darah orang yang membenci Abu Bakar dan  Umar. Demi Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya dan akupun senantiasa  memohonkan ampun bagi keduanya, tidak seorangpun dari ahlil baitku kecuali ia  akan mencintai keduanya."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Fudhail meriwayatkan dari Salim Ibnu Hafsah, berkata:  Aku pernah bertanya kepada Abu Ja'far dan puteranya tentang Abu Bakar dan Umar,  maka keduanya menjawab: "Wahai Salim, keduanya adalah pemimpin yang adil,  cintailah keduanya dan berlepas diri dari siapa saja yang memusuhi keduanya,  sesungguhnya keduanya di hadapanku adalah petunjuk yang harus diikuti."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang wanita menemui Imam Ja'far al-Shaddiq, lalu bertanya  kepadanya tentang Abubakar dan Umar, beliau menjawab: "Jadikanlah keduanya  sebagai pemimpinmu". Wanita itu berkata: Bila berjumpa dengan Tuhanku, aku akan  mengatakan kepadanya, engkau yang memerintahkanku menjadikannya sebagai  pemimpin. Imam Ja'far menjawab: "Ya".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Muhammad al-Bagir bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib,  berkata: Barang siapa yang tidak mengenal keutamaan Abubakar dan Umar, maka ia  tidak mengenal sunnah. Ketika beliau ditanya tentang suatu kaum yang mencaci  maki Abubakar dan Umar, beliau menjawab: "Sesunguhnya kaum itu telah keluar  dari ajaran Islam, maka barangsiapa yang ragu terhadap keduanya, maka ia ragu  terhadap sunnah nabinya, barangsiapa yang membencinya maka ia termasuk dari kaum  munafik".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan oleh Mufadhal bin Umar dari ayahnya dari  kakeknya, berkata: Imam Ja'far al-Shadiq ditanya tentang sahabat, beliau  menjawab: 'Sesungguhnya Abubakar al-Shiddiq hatinya dipenuhi oleh &lt;i&gt;musyahadah  al-rububiyah,&lt;/i&gt; beliau menyaksikan tidakada tuhan selain Allah, sehingga ia  banyak berdzikir &lt;span style="font-size:130%;"&gt;لا إله إلا الله&lt;/span&gt;,  sedangkan Umar selalu menganggap kecil sesuatu selain Allah swt dan tidak tunduk  kecuali kepada Allah swt, sehingga ia banyak berdzikir &lt;span style="font-size:130%;"&gt;الله اكبر&lt;/span&gt;  , sedangkan Usman melihat  segala sesuatu selain Allah swt mempunyai sebab akibat dan beliau selalu  mensucikan Allah swt, sehingga ia banyak berdzikir &lt;span style="font-size:130%;"&gt;سبحانالله &lt;/span&gt; , sedangkan Ali bin Abi Thalib  selalu melihat keberadaan alam semesta adalah ciptaan Allah swt dan semuanya  akan kembali kepada Allah swt, sehingga ia banyak berdzikir &lt;span style="font-size:130%;"&gt;الحمدلله&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari sangat cintanya Imam Ali kepada ketiga khulafaur  rasyidin, beliau menamakan anak-anaknya dengan nama mereka, yaitu: Abubakar bin  Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib dan Usman bin Ali bin Abi  Thalib, dan beliau juga mengawinkan puterinya Ummu Kulsum dengan Umar bin  Khottob. Al-Hasan dan al-Husain juga menamakan anak-anak mereka dengan Abubakar  dan Umar, semua itu untuk dilakukan demi rasa cintanya kepada kedua sahabat  Rasulullah saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Musa bin Ja'far meriwayatkan dari ayahnya , ketika  beliau ditanya tentang Abubakar dan Umar: "Abubakar adalah kakekku dan Umar  adalah suami nenekku (suami Ummu Kulsum bin Ali bin Abi Thalib), apakah ada  orang yang membenci kakek dan suami neneknya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Musa bin Ja'far, juga memberikan nama salah satu anak  lelakinya dengan Abubakar, anak perempuannya juga dinamakan Aisyah, seperti juga  kakeknya Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib menamakan putrinya dengan Aisyah.  Begitu pula dengan Imam Ali bin Muhammad al-Hadi mempunyai anak perempuan yang  dinamakan dengan Aisyah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Daruqutni meriwayatkan dari Muhammad bin Abdullah bin  Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang bergelar &lt;i&gt;al-Nafsu al-Zakiyah&lt;/i&gt;,  ketika ditanya tentang Abubakar dan Umar, beliau menjawab: "Mereka berdua lebih  utama dari Ali bin Abi Thalib".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Abdullah al-Mahdi bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi  Thalib, berkata: "Allah swt tidak akan menerima taubat seseorang hamba yang  berlepas diri dari Abubakar dan Umar".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hasan bin Ali bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib  pernah ditanya tentang Abubakar dan Umar, beliau menjawab: 'Keduanya adalah  orang-orang yang utama dan aku selalu memintakan ampun untuk keduanya'. Kemudian  beliau ditanya, apakah ini &lt;i&gt;taqiyyah?&lt;/i&gt; Beliau menjawab: Aku tidak akan  mendapat syafaat Muhammad saw, jika apa yang aku katakan berlainan dengan  hatiku'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Syihab dalam kitabnya &lt;i&gt;Raspah al-Shodi &lt;/i&gt;mengatakan: 'Wajib atas semua manusia dan ahlul bait al-syarif khususnya, menghormati dan  mengagungkan para sahabat Rasulullah saw dan mencintai semuanya, disebabkan  mereka adalah &lt;i&gt;nujum al-hidayah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;rijal al-riwayah wa al-dirayah&lt;/i&gt;,  mereka manusia yang paling utama setelah para nabi, dan Allah telah memuji atas  mereka di dalam kitab-Nya dan telah diceritakan dalam hadits-hadits shahih.' &lt;/p&gt;  &lt;a name="04"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;4. Kaum Rafidhah Dan Sahabat.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari segi bahasa Rafidhah mempunyai beberapa makna  diantaranya menolak, yang murtad keluar dari agamanya atau golongan yang  meninggalkan pimpinannya dalam pertempuran (deserter). Di sebut kaum Rafidhah  karena kaum tersebut menolak keutamaan Abubakar dan Umar. Mereka berpendapat  bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abubakar dan Umar. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bermula sebutan Rafidhah adalah sikap memihak sebagian  kelompok kepada Ali bin Abi Thalib dan lebih mengutamakannya dari pada Usman.  Dalam kitab &lt;i&gt;Taqwiyah al-Iman, &lt;/i&gt;Sayid Muhammad bin Aqil bin Yahya menulis  bahwa syaikh Abdul Qadir Jailani berkata: 'Rafidhah adalah suatu kelompok yang  berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Usman.' Syaikh Ibnu  Taimiyah menjelaskan, telah mutawatir sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib  bahwa ia berkata: 'Sebaik-baiknya umat sesudah nabinya adalah Abubakar kemudian  Umar. Dan ini pun disepakati oleh kalangan Syiah generasi terdahulu, semua  menganggap utama Abubakar dan Umar. Hanya saja perselisihan terjadi pada Ali bin  Abi Thalib dan Usman. Sedangkan mengenai Abubakar dan Umar, seluruh umat sepakat  menerima mereka termasuk golongan Khawarij.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kitabnya &lt;i&gt;Minhaj al-Sunnah&lt;/i&gt; Ibnu Taimiyah menceritakan  seorang  tokoh syi'ah Syarik bin Abdullah ditanya oleh salah seorang: "Siapakah  yang  lebih utama, Abu Bakar atau Ali? Syarik menjawab: Abu Bakar. Ia bertanya  lagi: Bagaimana anda dapat mengatakan yang demikian itu, padahal anda  seorang Syi'ah? Syarik menjawab: Ya, barangsiapa tidak mengatakan yang  demikian itu, maka ia  bukanlah seorang Syi'ah. Demi Allah, hal tersebut telah dikumandangkan  oleh Ali  ra, ia berkata: 'Ketahuilah, bahwasanya sebaik-baiknya orang dalam ummat  ini,  sesudah Nabinya, adalah Abu Bakar kemudian Umar.' Syarik berkata:  Bagaimana  kami (kaum syi'ah) dapat menolak perkataan itu? Bagaimanakah pula kami  dapat  mendustakannya, sedang ia (Ali bin Abi Thalib), demi Allah bukanlah  seorang  pendusta." &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abu Abdullah al-Mazari pernah menerangkan bahwa pada suatu hari Imam Malik  ditanya, manakah orang-orang yang utama setelah Nabi saw? Beliau menjawab:  'Abubakar sesudah itu Umar, kemudian ia terdiam. Lalu yang bertanya mengatakan  bahwa Imam Malik ragu, dan penanya meminta kepastian antara Ali dan Usman. Imam  malik menjawab: Saya belum pernah mendapati seorang sahabat yang membeda-bedakan  keutamaan antara Usman dan Ali.' &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada zaman Zaid bin Ali Zainal Abidin, kaum Rafidhah lebih  dikenal dengan penolakan mereka terhadap keutamaan Abubakar dan Umar. Mereka  berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abubakar dan Umar. Sebutan  Rafidhah dikarenakan terjadinya dialog antara Zaid bin Ali dengan beberapa orang  Kufah. Mereka bermaksud mendukung perjuangan Zaid bin Ali melawan penguasa  zholim saat itu, tetapi mereka memberikan syarat kepada Zaid bin Ali agar beliau  mengakui bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Abubakar dan Umar. Zaid bin  Ali menolak syarat yang diajukan oleh orang-orang Kufah tersebut. Maka sejak  itulah orang-orang tersebut dikenal dengan sebutan Rafidhah. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut Sayid Husain al-Musawi, Imam Ja'far al-Shaddiq  berkata bahwa Rafidhah adalah suatu nama yang langsung diberikan oleh Allah swt,  sebagaimana perkataan beliau dalam kitab &lt;i&gt;Raudhah al-Kafi&lt;/i&gt; 5/34: 'Tidak  Demi Allah, bukan mereka yang menamainya dengan nama tersebut (&lt;i&gt;Rafidhah&lt;/i&gt;)  tetapi Allah-lah yang menamai mereka dengan nama itu.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rasulullah saw telah memperingatkan dan mengkhabarkan akan  kelahiran mereka (Rafidhah) di masa yang akan datang, sebagaimana disebutkan  dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya,  Daruquthni, al-Dzahabi, Uqaili, Qadhi Iyadh yang diriwayatkan dari banyak  sahabat diantaranya Ali bin Abi Thalib, Siti Fathimah, Ummi Salamah, al-Hasan,  Jabir al-Anshari, Ibnu Abbas, Iyadh al-Anshari, dimana mereka semua mendengar  dan meriwayatkan dari Rasulullah saw, beliau bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;سيأتي من بعدى قوم لهم نبز يقال الرّافضة. فان ادركتهم فاقتلهم  فانّهم مشركون&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Akan datang sesudah kepergianku, suatu  kaum yang mempunyai julukan Rafidhah. Maka jika kalian menemukan mereka maka  perangilah, karena sesungguhnya mereka adalah golongan orang-orang yang  mempersekutukan Tuhan".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh al-Hasan, Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يكون فىاخر الزّمان قوم يسمّون الرّافضة يرفضون الاسلام  فاقتلوهم فانّهم مشركون&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Kelak di akhir zaman terdapat suatu kaum yang disebut  Rafidhah, di mana mereka meninggalkan Islam. Maka perangilah mereka karena  mereka adalah golongan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. &lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan dari Daruquthni, Ali bin Abi Thalib berkata:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;فسألت عن علامتهم فقال: يتتحلون حبّ اهل البيت وليسوا كذالك  وعلامة ذالك أنّهم يسبّون ابابكر وعمر&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Maka aku bertanya tentang ciri-ciri  mereka (kaum Rafidhah). Maka Rasulullah saw menjawab: 'Mereka seakan-akan  mencintai keluarga Nabi, sementara mereka tidaklah begitu. Dan tanda-tanda dari  itu adalah mereka gemar mencaci maki Abubakar dan Umar."&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dalam riwayat lain dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يا على انت فى الجنّة   , يا على انت فى الجنّة   , يا على انت فى  الجنّة , وسيكون قوم يقال لهم الّرافضة فإذا ادركتهم فقاتلهم. فقال يا نبي الله ما  علامتهم ؟ قال: لايرون جماعة ولاجمعة ويشتمون ابابكر و عمر&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Wahai Ali, kamu akan masuk surga, Wahai Ali, kamu akan  masuk surga, Wahai Ali, kamu akan masuk surga. Dan kelak ada suatu kaum  yang  disebut Rafidhah, jika kamu menemukan, perangi mereka. Ali bin Abi  Thalib  bertanya, wahai nabi Allah, apa tanda-tanda mereka. Nabi saw menjawab:  'Mereka tidak pernah terlihat berjamaah, tidak melakukan shalat Jum'at  dan mereka mengumpat Abubakar dan Umar." &lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Diantara salah satu Pemuka Madzhab Fiqih dalam Ahlu Sunnah yang kita kenal  adalah Imam Syafii. Sebagaimana kita ketahui bahwa Imam Syafii adalah seorang  mujtahid yang mempunyai kecintaan kepada ahlul bait nabi saw yang dapat dilihat  dari syair-syairnya. Di samping itu beliau juga cinta kepada sahabat-sahabat  nabi saw. Imam Syafii berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Allah Tabaraka wa Ta'ala telah menyampaikan pujian  kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw di dalam Alquran, taurat dan Injil.  Dan telah lebih dahulu disampaikan tentang keutamaan mereka melalui lisan  Rasulullah saw, sesuatu yang tidak dimiliki oleh seorangpun setelah mereka.  Maka, Allah pun menyangi mereka dan menempatkan mereka pada setinggi-tinggi  derajat dan kedudukan yaitu kedudukan orang-orang yang jujur, para syuhada  dan orang-orang saleh. Merekalah yang telah menyampaikan kepada kita  sunnah-sunnah Rasulullah saw dan merekalah yang menyaksikannya. Ketika wahyu  diturunkan kepada Rasulullah saw, mereka mengerti apa yang dikehendaki oleh  Rasul dalam keadaan umum maupun khusus, dan mereka mengerti apa yang  dikehendaki oleh Rasul dalam keadaan umum maupun khusus, dan mereka  mengetahui dari sunnahnya apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita  ketahui. Dan mereka berada di atas kita dalam bidang ilmu pengetahuan,  ijtihad, sikap wara', serta perkara yang dapat difahami oleh ilmu dan  disimpulkannya. Pemikiran-pemikiran mereka untuk kita lebih terpuji dan  lebih utama daripada pemikiran-pemikiran yang datang dari kita untuk kita.  Jika seseorang di antara mereka menyatakan pendapatnya, kemudian tidak  seorangpun yang menyalahkannya, maka kita pun akan mengambil pendapatnya."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkata Imam Syafii: "Saya tidak melihat orang yang dicoba  dengan tindakan mencela para sahabat Rasulullah saw, melainkan dengan celaan itu  Allah swt menambahkan kepada mereka (sahabat) pahala di saat sudah terputusnya  amal perbuatan mereka (setelah meninggal dunia)."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Syafii berkata tentang keutamaan para khalifah yang  empat dan derajat mereka di kalangan para sahabat: "Manusia paling utama  sesudah Rasulullah saw, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib."  Setelah itu beliau bersyair:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Aku telah bersaksi bahwa Allah, tiada sesuatu selain-Nya&lt;br /&gt;Dan aku bersaksi bahwa kebangkitan itu haq dan aku ikhlas&lt;br /&gt;Bahwa pakaian iman itu adalah ucapan yang baik&lt;br /&gt;Perbuatan yang bersih yang terkadang bertambah dan berkurang&lt;br /&gt;Bahwa Abubakar itu adalah khalifah Ahmad&lt;br /&gt;Sedang Abu Hafsh terhadap kebaikan, berusaha sungguh-sungguh&lt;br /&gt;Aku mempersaksikan Tuhanku bahwa Usman itu utama&lt;br /&gt;Bahwa Ali mempunyai keutamaan yang khusus&lt;br /&gt;Imam-imam kaum, yang diikuti tuntunan mereka&lt;br /&gt;Semoga Allah swt memberikan keselamatan kepada orang yang didiskreditkan&lt;br /&gt;Mengapa orang-orang sesat itu mencaci maki dalam kebodohan&lt;br /&gt;Dan apa yang datang dari orang bodoh itu tidak dijawab tapi harus diludahi.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Syafii mengambil rujukan tentang keutamaan Abubakar  dengan beberapa perkara, antara lain melalui sejumlah hadits dari Nabi saw yang  mengisyaratkan keutamaannya, diantarannya dari hadits yang diriwayatkan oleh  Hudzaifah al-Yamani, bahwa Nabi saw bersabda: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Ikutlah kalian kepada dua orang sesudahku, Abubakar dan Umar"&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya Imam Syafii berkata bahwa tidak berselisih  pendapat seorangpun dari kalangan sahabat dan tabi'in tentang pengutamaan  Abubakar dan Umar dan mendahulukan mereka atas semua sahabat. Dalam hal ini  bukan berarti Imam Syafii merendahkan Ali bin Abi Thalib, beliau menyebutkan  bahwa seorang laki-laki dari suatu kaum berkata: 'Tidaklah pergi orang-orang  dari Ali kecuali karena ia tidak memperdulikan seseorang'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara perlahan Imam Syafii berkata: 'karena pada dirinya  terdapat empat macam budi pekerti, tidak satu pekerti pun darinya ada pada  seseorang kecuali merupakan hak baginya untuk tidak memperdulikan terhadap orang  lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ali bin Abi Thalib adalah seorang zahid&lt;br /&gt;Orang zahid itu tidak memperdulikan dunia dan penghuninya&lt;br /&gt;Dia adalah orang berilmu dan orang berilmu tidak memperdulikan terhadap  seorang&lt;br /&gt;Dia adalah pemberani dan orang pemberani tidak akan memperdulikan siapa pun&lt;br /&gt;Dia adalah orang mulia dan orang mulia tidak memperdulikan terhadap seorang&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terhadap kaum Rafidhah Imam Syafii berpendapat: 'Belum pernah saya saksikan  di kalangan manapun orang-orang yang begitu berani menjadi pembual dan  memberikan kesaksian palsu seperti golongan Rafidhah.' &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata: Kita harus meyakini keutamaan para  sahabat Nabi saw dan urutan keutamaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang  adil, baik dan pantang berdusta. Mereka tidak boleh dicerca dan dicela. Khalifah  yang benar sepeninggalan Rasulullah saw ialah Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali  bin Abi Thalib.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengenai urutan keutamaan sahabat, Imam al-Haddad pernah  ditanya oleh kaum syi'ah: Untuk apa anda mendahulukan orang lain daripada  sesepuh anda sendiri, Ali bin Abi Thalib? Imam al-Haddad menjawab: Dia (Ali  bin Abi Thalib) sendirilah yang mendahulukan orang lain (Abu Bakar ra) dan  memandangnya lebih utama ketimbang dirinya. Karena itulah kami juga  mendahulukannya (Abu Bakar) dan memandangnya lebih utama. Dalam hal itu kami  mengikuti jejak sesepuh kami (Ali bin Abi Thalib).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam al-Haddad kemudian berbicara tentang &lt;i&gt;ahlu-rafdh&lt;/i&gt; (kaum Rafidhah).  Beliau berkata: Mereka itu orang-orang bathil, tidak ada orang-orang yang  menyebut-nyebut mereka dan tidak ada pula yang menagisi mereka. Meskipun pada  mereka terdapat sekelumit kebenaran, tetapi mereka mencampurnya dengan  kebatilan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam al-Haddad di dalam suratnya kepada saudaranya Al-Hamid di India, antara  lain menyatakan: Tidak ada yang lebih buruk, lebih keji, dan lebih memalukan  daripada munculnya orang-orang yang berunjuk rasa menyatakan kebencian terhadap  dua orang syaikh, al-Shiddiq dan al-Faruq. Mereka yang membenarkan sikap menolak  (dua khalifah tersebut) sungguh sangat tercela, baik menurut syariat maupun  menurut akal, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un…&lt;/p&gt;  &lt;a name="05"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;5. Dialog Imam Ja'far al-Shaddiq dengan Kaum Rafidhah.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan oleh Ali ibnu Soleh, telah datang seorang lelaki dari kaum  Rafidhoh kepada Imam Ja'far bin Muhammad al-Shaddiq, kemudian ia berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Wahai anak Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik sesudah  Rasulullah saw?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu anhu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Apa hujjah atas yang demikian itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Allah swt berfirman: &lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا. فَأَنْزَلَ اللهُ  سَكِيْنَتَهُ   , عَليْهِ وَ أَيَّدَهُ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ  كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُفْلَى   ,إِلاَّ تَنْصُرُوهُ فَقَدْ  نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا ثَانِىَ اثْنَيْنِ  إِذْ هُمَا فِى الغَارِ إِذْيَقُولُ لِصَاحِبِهِ   , وَكَلِمَةُ  اللهِ هِىَ العُلْيَا. واللهُ عَزِيْزٌ حَكِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama  kita'. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada  (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak  melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir  itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi.  Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana.&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Selain mereka berdua yang utama, apakah ada diantara manusia  yang lebih utama dari Abu Bakar selain Nabi saw?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Ali bin Abi Thalib, karena beliau tidur di pembaringan Rasullulah untuk menggantikannya tanpa sedikitpun  merasa gelisah, cemas, khawatir dan takut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Begitu pula Abu Bakar, sesungguhnya ia bersama Nabi saw tanpa sedikitpun merasa gelisah, cemas, khawatir dan takut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Sesungguhnya Allah swt telah berfirman berlainan dengan apa yang  engkau katakan!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Apa bunyinya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Allah berfirman:&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِذْيَقُولُلِصَاحِبِهِ,لاَتَحْزَنْإِنَّاللهَمَعَنَا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;yang berarti Abu Bakar mempunyai perasaan gelisah, cemas khawatir dan takut?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Tidak! karena kata sedih (&lt;span style="font-size:180%;"&gt;حزن&lt;/span&gt; ) bukanlah gelisah, cemas, khawatir atau takut. Abu Bakar merasa sedih karena  Nabi saw akan dibunuh, sehingga beliau tidak akan dapat  lagi membela dan melayani agama Allah swt. Abubakar  tidak bersedih karena memikirkan dirinya sendiri, ketika  ia disengat lebih dari seratus sengatan ular, ia  bertahan merasakan sengatan itu, tidak gelisah, tidak  bangun dari tempatnya bahkan tidak bergerak sedikitpun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّمَا وَلِّيُكُمْ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ آ مَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya,  dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan  menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Ayat tersebut turun berkenaan dengan Ali bin Abi  Thalib ketika ia sedang ruku', ia memberikan cincinnya sebagai sedekah. Dan  Rasulullah saw bersabda: &lt;span style="font-size:130%;"&gt;الحمد لله الذي  جعلها فيَّ و في أهل بيتي&lt;/span&gt; (segala puji bagi Allah  yang telah menjadikan pahala sedekah itu untuknya dan untuk keluarganya). &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Ayat yang turun sebelumnya pada surah tersebut mempunyai  keutamaan yang lebih besar lagi. Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَاأَيُّهَّا الَّذِيْنَ آ مَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara  kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan  mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan  mereka pun mencintai-Nya.&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Yang dimaksud di atas adalah murtad setelah Rasulullah saw wafat. Sebagian orang Arab murtad dan tidak mau  menyerahkan zakat setelah Rasulullah wafat. Kaum kafir  tersebut berkumpul di Nahawan dan berkata: Orang yang  yang telah menyebarkan agama Allah telah meninggal.  Sehingga Umar bin Khottob berkata kepada Abubakar: 'Terimalah sholat mereka, tinggalkanlah zakat mereka'.  Abubakar berkata: 'Jika saja mereka menolakku untuk  mengambil zakat mereka walaupun sekedar tali leher onta  sebagaimana pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw,  maka akan aku perangi mereka, sekalipun mereka semua  berkumpul melawanku, tetap akan aku perangi sendirian'.  Ayat tersebut menunjukkan bahwa Abubakar lebih utama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Sesungguhnya Allah saw telah berfirman: &lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يُنْفِقُونَ أمْوَالَهُمْ بِالَّلَيلِ وَ النَّهَارِ سِرًّا وَ عَلاَنِيَةً&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;Orang-orang yang menginfaqkan hartanya pada waktu  malam dan siang Dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Ayat tersebut turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib yang menginfaqkan hartanya sebesar empat dinar. Beliau  menginfaqkan satu dinar pada malam hari, satu dinar pada siang hari, satu dinar dengan cara rahasia dan satu  dinar lagi beliau infaqkan dengan terang-terangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Abu Bakar Shiddiq lebih utama lagi dari peristiwa tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Alquran menggambarkan beberapa ayat yang turun  berkenaan dengan Abu Bakar Shiddiq. Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَاللّيلِ إِذَا يَغْشى   , وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلّى   , وَمَا  خَلَقَ الذَّكَرَ وَالأنْثى   , إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى   , فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقى   , وَصَدَّقَ بِالْحُسْنى  &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Abubakar)&lt;/span&gt;, فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرى &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Abubakar)&lt;/span&gt;,وَ سَيُجَنَّبُهَا الأَتْقى  , الَّذِي يُؤْتِي مَالُهُ يَتَزَكَّى&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Abubakar)&lt;/span&gt; وَمَا لأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزى   , إِلاَّ ابْتِغَاءَ  وَجْهُ رَبِّهِ الأَعْلى, وَلَسَوْفَ يَرْضى &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Abubakar)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Abubakar Shiddiq telah menginfaqkan hartanya kepada  Rasulullah saw sebesar empar puluh ribu dinar hingga ia  menjadi orang yang fakir. Maka Malaikat Jibril pun  diutus Allah swt untuk bertemu Nabi saw, dan berkata: 'Sesungguhnya Allah swt menyampaikan salam kepadamu'.  Kemudian Jibril berkata: 'Sampaikan salamku kepada Abu  Bakar. Dan tanyakan kepadanya, apakah engkau (wahai  Abubakar) ridho atas kefakiranmu ini ataukah tidak? Abu  bakar menjawab: Apakah aku pantas tidak ridho kepada  Allah swt? Sesungguhnya saya sangat ridho! (diucapkan  tiga kali). Dan Allah akan memenuhi janji kepada orang  yang diridhoi-Nya.&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Akan tetapi Allah swt berfirman berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ لاَ يَسْتَوُوْنَ عِنْدَاللهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus  masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di  jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Begitu pula dengan ayat alquran yang turun berkenaan dengan  Abubakar. Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لاَ يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَّنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ  وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلاً وَعَدَاللهُ الْحُسْنى وَاللهُ  بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan  (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka  lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang  menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah  menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih  baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.  (Al-Haddid: 10)&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Sesungguhnya Abubakar adalah orang pertama yang menginfaqkan hartanya kepada Rasulullah saw, pertama  kali yang berjihad bersama Rasulullah saw. Ketika orang-orang musyrik datang menganiaya Nabi saw hingga  berdarah di Makkah, berita tersebut terdengar oleh Abubakar, segera beliau mendatangi Nabi saw dan seraya  berkata kepada kaum musyrikin: 'Celakalah kamu, apakah kamu sekalian ingin  membunuh seorang yang berkata Allah swt adalah Tuhannya di mana kebenaran itu  telah datang kepadamu melalui Tuhanmu?' Maka kaum musyrikin tersebut  meninggalkan Nabi saw dan membawa Abubakar serta memukulnya hingga tidak terlihat jelas hidung di wajahnya ( karena tertutup oleh darah akibat pukulan kaum musyrikin).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abubakar adalah orang yang pertama berjihad di jalan Allah swt. Orang yang pertama berperang bersama  Rasulullah saw, orang yang pertama menginfaqkan hartanya, sehingga Rasulullah saw bersabda:  'Tidaklah  bermanfaat bagiku suatu harta sebagaimana harta Abubakar'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Akan tetapi Ali bin Abi Thalib tidak pernah menyekutukan Allah swt  sekejap matapun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Sesungguhnya Allah swt telah memuji kepada Abubakar dengan  berbagai macam pujian. Allah swt berfirman pada surat al-Zumar 33:&lt;/p&gt;  &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt; وَالَّذِي  جَاءَ بِالصِدْقٍ &lt;span style="font-size:78%;"&gt; (Rasulullah saw)&lt;/span&gt;  , وَصَدَّقَ بِهِ&lt;span style="font-size:78%;"&gt; (Abubakar)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Ketika kaum musyrikin saat itu berkata kepada Nabi saw: &lt;/p&gt; &lt;p&gt;'engkau adalah seorang pendusta' , tetapi Abubakar  berkata kepada Nabi saw: 'engkau adalah seorang yang  benar'. Maka turunlah ayat ini yang merupakan ayat  tashdiq (pembenaran) yang khusus ditujukan kepada  seorang yang taqwa, suci, ridho dan diridhoi, dan  menunaikan segala amanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Akan tetapi cinta kepada Ali bin Abi Thalib diwajibkan dan hal itu  terdapat dalam kitabullah. Allah swt berfirman dalam surat al-Syura ayat 23:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;قُلْ لاَّ أسْأَلُكُمْ  عَلَيْهِ أَجْرًا إَلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبى &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;Tidaklah aku minta kepada kalian, kecuali  kecintaan kalian kepada keluargaku.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Begitu pula dengan Abubakar. Allah swt berfirman dalam surat  al-Hasyr 10:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَالَّذِينَ جَاءُ وا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا  اغْفِرْلَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُوْنَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لّلَّذِينَ آمَنُوا  رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيمٌ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin  dan Anshor),mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, beri  ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah  beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau  membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap  orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya  Engkau maha penyantun lagi maha penyayang.&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Abubakar termasuk orang-orang terdahulu dalam  beriman, maka istighfar baginya adalah wajib, cinta  kepadanya adalah wajib, dan benci kepadanya adalah suatu  perbuatan kufur. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Nabi saw bersabda:  &lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;الحَسَنُ وَالحُسَينُ سَيِّدًا شَبَابِ أَهْلِ الجَنَّةِ وَاَبُوهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;Hasan dan Husein adalah penghulu pemuda ahli surga,  dan ayahnya lebih baik dari keduanya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p&gt;Imam Ja'far: Abubakar mempunyai kedudukan yang lebih  utama dari yang demikian itu, sebagaimana ayahku meriwayatkan  kepadaku dari kakekku dari Ali bin Abi Thalib: "Ketika aku bersama Nabi saw dan tidak ada orang  selain diriku, datanglah Abubakar dan Umar, maka Nabi saw berkata: &lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَا عَلي! هَذَانِ سَيِّدًا كُهُوْلِ أَهْلِ الجَنَّةِ  وَشَبَابُهُمَا   , … لاَ تَخْبرهُمَا يَا عَلي , مَا دَامَا حَيَّين &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  'Wahai Ali kedua orang ini adalah penghulu orang  dewasa dan pemuda penghuni surga, … janganlah engkau  beritahukan kabar ini selama keduanya masih hidup'. Maka  tidak aku beritahukan hal itu kepada salah seorang pun  hingga mereka berdua meninggal dunia.&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Mana yang lebih utama, Fathimah binti Rasulullah saw atau Aisyah  binti Abubakar Shiddiq?&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Imam Ja'far: &lt;/p&gt;&lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;(بِسْمِ اللهِ  الرَّحْمنِ الرَّحِيم)ِ. ( يس   , وَالْقُرْآنِ الْحَكِيْمِ )   , ( حم , وَالْكِتَابِ الْمُبِيْنِ )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Saya bertanya kepada anda mana yang lebih utama Yasin  atau Haa miim? Berdasarkan hal itu mana yang lebih  utama Fathimah binti Nabi saw atau Aisyah binti Abubakar  Shiddiq, bacalah alquran?!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Aisyah binti Abubakar Shiddiq bersama Rasulullah saw  di surga, dan Fathimah binti Nabi saw adalah penghulu  kaum wanita penghuni surga. Allah swt melaknat hambanya  yang mencemarkan kehormatan isteri Rasulullah saw serta  membinasakan hambanya yang membenci Fathimah binti  Rasulullah saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Aisyah telah membunuh Ali bin Abi Thalib, padahal ia adalah isteri Rasulullah saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Sungguh celaka engkau! Allah swt berfirman (Al-Ahzab 53):&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلُ اللهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Abubakar, Umar, Usman dan Ali, apakah kekhalifahan mereka terdapat dalam alquran?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Ya, bahkan dalam kitab Taurat dan Injil. Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَهُوَ الَّذِي  جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ الأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Dan Dialah yang menjadikan kamu  khalifah-khalifah di muka bumi dan Dia yang meninggikan sebagian  kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat.&lt;/div&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَمَّن يُجِيبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ  وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Atau siapakah yang memperkenankan  (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a  kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan menjadikanmu (manusia) sebagai  khalifah di muka bumi?&lt;/div&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ  مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكَّنَنَّ لَهُمْ دِينُهُمْ الَّذِي ارْتَضى لَهُمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  Dan Dia sungguh-sungguh akan  menjadikan mereka khalifah (berkuasa) di muka bumi,  sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang  sebelum mereka khalifah (berkuasa), dan sungguh Dia akan  meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya  untuk mereka.&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Wahai anak Rasulullah, di mana dalam kitab Taurat dan Injil yang  menceritakan kekhalifahan mereka?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Abubakar)&lt;/span&gt;   , أَشِدَّاءُ عَلَى الكُفَّارِ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Umar)&lt;/span&gt;  , رُحَمَاءُ بِيْنَهُمْ&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Usman)&lt;/span&gt;   , تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدَا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Ali)&lt;/span&gt; , سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مَِنْ أَثَرِ السُجُودِ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(para  sahabat Nabi saw)&lt;/span&gt; , ذَالِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنْجِيلِ  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Apa makna yang terdapat dalam Taurat dan Injil tersebut?  Yaitu: Muhammad adalah seorang Rasul dan khalifahnya  sesudahnya Abubakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib.  Tampak wajah Rafidhi itu belum dapat menerima penjelasan  Imam Ja'far, maka beliau berkata: 'Celakalah engkau! Allah swt berfirman: &lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Abubakar)&lt;/span&gt;,  فَاسْتَغْلَظَ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Umar)&lt;/span&gt;, فَاسْتَوى  عَلَى سُوْقِهِ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Usman)&lt;/span&gt; يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمْ الكُفَّارَ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Ali  bin Abi Thalib)&lt;/span&gt; وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ  آمَنُوا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ  مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَاَجْرًا عَظِيْمًا &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(para sahabat Rasulullah saw)&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Wahai anak Rasulullah, apakah hal ini terdapat dalam alquran?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Ya. Allah swt berfirman:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Abubakar, Umar,  Usman dan Ali bin Abi Thalib)&lt;/span&gt;,وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالحَقِّ وَهُمْ  لاَ يُظْلَمُوْنَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Rafidhi: Wahai anak Rasulullah, Apakah Allah swt akan menerima taubatku yang telah membedakan keutamaan antara  Abubakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far: Ya, pintu taubat selalu terbuka, maka  perbanyaklah istighfar bagi mereka. Jika engkau selalu  membeda-bedakan di antara mereka, maka engkau akan  meninggal bukan dalam kesucian Islam, dan kebaikan  engkau seperti amalan para orang-orang kafir yang tidak  bermanfaat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah peristiwa dialog itu, Rafidhi tersebut bertaubat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait Oleh Aidarus Alwee Almashoor&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-4770166689071327351?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/4770166689071327351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/4770166689071327351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2011/01/bunga-rampai-keutamaan-dzat-ahlul-bait_5689.html' title='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Cinta Ahlul Bait, Cinta Sahabat'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-8728980235712578742</id><published>2011-01-06T23:22:00.006-08:00</published><updated>2011-01-07T00:16:10.551-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait'/><title type='text'>Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Kafa'ah Syarifah</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;KAFA'AH SYARIFAH&lt;br /&gt;Upaya Menjaga Kemuliaan Dzat Ahlul Bait Nabi saw&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="01"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;1. Pengertian Kafa'ah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Arti dari kata Kafa'ah adalah: Sama, sederajat, sepadan atau sebanding. Dalam perkawinan, yang dimaksud dengan kufu' yaitu laki-laki sebanding dengan calon istrinya, sama kedudukan, sebanding dalam tingkat sosial dan sederajat dalam akhlaq, kekayaan dan keturunannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="02"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;2. Dasar Hukum Kafa'ah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Imam Syafei, masalah kafa'ah pertama kali diistinbat berdasarkan hadits dari Bariroh. Bariroh dikawinkan dengan lelaki yang tidak sekufu' dengannya, beliau mengadu kepada Rasulullah saw dan Rasulullah saw memberikan hak untuk memilih kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits yang diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;يا علي ثلاثل لاتؤخر الصلاة اذا اتت والجنازة اذا حضرة والايم اذا وجدت كفؤا&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Wahai Ali ada tiga perkara jika tiba waktunya tidak boleh ditunda-tunda: shalat jika telah masuk waktunya, jenazah jika telah hadir untuk dishalatkan dan wanita jika telah datang jodoh yang &lt;b&gt;sekufu' &lt;/b&gt;dengannya".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra, bersabda Rasululullah saw:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;تخيروا لنطفكم فأنكحوا الا اكفاء وانكحوا اليهم&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Pilihlah wanita sebagai wadah untuk menumpahkan nutfahmu, carilah mereka yang &lt;b&gt;sekufu' &lt;/b&gt;denganmu dan kawinilah mereka".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah An-Anshori, bersabda Rasulullah saw:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;ألا لايزوج النساء الا الأولياء ولا يزوجن من غير الأكفاء&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Janganlah engkau menikahi wanita kecuali dengan izin walinya, dan janganlah engkau menikahinya kecuali dengan yang &lt;b&gt;sekufu'&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim, Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;تخيروا لنطفكم ولا تضعوها في غير الأكفاء&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Pilihlah wanita sebagai wadah untuk menumpahkan nutfahmu, janganlah letakkan nutfahmu ke (rahim) wanita yang tidak sekufu'.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="03"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;3. Ijtihad ulama tentang kafa'ah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengenai kafa'ah, para fuqaha telah sepakat bahwa faktor agama termasuk dalam pengertian kafa'ah, kecuali pendapat dari Muhammad bin Hasan yang tidak memasukkan faktor agama dalam pengertian kafa'ah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tidak diperselisihkan lagi di kalangan madzhab Maliki, bahwa apabila seorang gadis dikawinkan oleh ayahnya dengan seorang peminum khamr atau singkatnya dengan orang fasik, maka gadis tersebut berhak menolak perkawinan tersebut. Kemudian hakim memeriksa perkaranya dan menceraikan antara keduanya. Begitu pula halnya apabila ia dikawinkan dengan pemilik harta haram atau dengan orang yang banyak bersumpah dengan kata-kata "talaq".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Fuqaha berselisih pendapat tentang faktor nasab (keturunan), apakah termasuk dalam pengertian kafa'ah atau tidak. Begitu pula tentang faktor kemerdekaan, kekayaan dan keselamatan dari cacat (aib).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut pendapat yang terkenal dari Imam Malik, dibolehkan kawin dengan hamba sahaya Arab dan mengenai hal itu ia beralasan dengan firman Allah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah swt ialah yang paling bertaqwa diantara kamu."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Akan tetapi dalam perkawinan antara hamba sahaya tersebut Imam Malik dan pengikutnya mempunyai dua pendapat,: &lt;i&gt;Pertama: &lt;/i&gt;jika hamba sahaya berkulit putih kawin dengan wanita merdeka maka perkawinannya kufu'. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;: jika perkawinan antara hamba sahaya berkulit hitam dengan wanita merdeka maka perkawinannya tidak sekufu' dan itu merupakan aib.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sufyan ats-Tsauri dan Imam Ahmad berpendapat bahwa wanita Arab tidak boleh kawin dengan hamba sahaya. Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya berpendapat bahwa wanita Quraisy tidak boleh kawin kecuali dengan lelaki Quraisy, dan wanita Arab tidak boleh kawin kecuali dengan lelaki Arab pula. Silang pendapat ini disebabkan pendapat mereka tentang mafhum (pengertian) dari Sabda Nabi saw:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Wanita itu dinikahi karena agamanya, kecantikannya, hartanya dan keturunannya, maka carilah wanita yang taat kepada agama, niscaya akan beruntung."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Segolongan fuqaha ada yang memahami bahwa factor agama sajalah yang dijadikan pertimbangan. Demikian itu karena didasarkan kepada sabda Nabi saw: … &lt;i&gt;maka carilah wanita yang taat kepada agama&lt;/i&gt;. Segolongan yang lain berpendapat bahwa factor Nasab (keturunan) sama kedudukannya dengan faktor agama, demikian pula faktor kekayaan. Dan tidak ada yang keluar dari lingkup kafa'ah kecuali apa yang dikeluarkan oleh ijma', yaitu bahwa kecantikan tidak termasuk dalam lingkup kafa'ah. Semua fuqaha yang berpendapat adanya penolakan nikah karena adanya cacat, mereka akan menganggap keselamatan dari cacat termasuk dalam lingkup kafa'ah. Berdasarkan pendapat ini ada yang memasukkan kecantikan sebagai lingkup kafa'ah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Di kalangan madzhab Maliki, tidak diperselisihkan lagi bahwa faktor kemiskinan (pada pihak lelaki) termasuk salah satu perkara yang menyebabkan dibatalkannya perkawinan yang dilakukan oleh seorang ayah bagi anak gadisnya, begitu pula faktor kemerdekaan (bukan budak). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengenai mahar mitsil (yakni mahar yang semisal ukurannya), maka Imam Malik dan Imam Syafii berpendapat bahwa hal tersebut tidak digolongkan sebagai kafa'ah. Oleh karenanya seorang ayah boleh mengawinkan anak gadisnya dengan mahar yang kurang dari mahar mitsil. Sedangkan Imam Hanafi memasukkan mahar mitsil sebagai kafa'ah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="04"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;4. Kafa'ah nasab dalam pernikahan. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Semua Imam madzhab dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah sepakat akan adanya kafa'ah walaupun mereka berbeda pandangan dalam menerapkannya. Salah satu yang menjadi perbedaan tersebut adalah dalam masalah keturunan (nasab).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam hal keturunan orang Arab adalah kufu' antara satu dengan lainnya. Begitu pula halnya orang Quraisy dengan Quraisy lainnya. Karena itu laki-laki yang bukan Arab (Ajam) tidak sekufu' dengan wanita-wanita Arab. Laki-laki Arab tetapi bukan dari golongan Quraisy tidak sekufu' dengan wanita Quraisy. Hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar , bahwa Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;العرب اكفاء بعضهم لبعض , قبيلة لقبيل , ورجل لرجل...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Orang-orang Arab sekufu' satu dengan yang lainnya. Kabilah dengan kabilah lainnya, kelompok yang satu sekufu' dengan kelompok yang lainnya, laki-laki yang satu sekufu' dengan yang lainnya …"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits riwayat Aisyah, bahwa Rasulullah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;العرب للعرب اكفاء...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Orang-orang Arab satu dengan yang lainnya adalah sekufu'…"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Imam Hanafi: Laki-laki Quraisy sepadan (kufu') dengan wanita Bani Hasyim. Menurut Imam Syafi'i: Laki-laki Quraisy tidak sepadan (tidak sekufu') dengan wanita Bani Hasyim dan wanita Bani Muthalib. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;ان الله اصطفى كنانة من بنى اسماعيل واصطفى كنانة قريشا واصطفى قريش بنى هاشم واصطفنى من بن هاشم&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Bahwasanya Allah swt memilih Kinanah dari anak-anak Ismail dan memilih Quraisy dari&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim …"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Akan tetapi kebanyakan ahli fiqih berpendapat bahwa kafa'ah merupakan hak bagi perempuan dan walinya. Seorang wali tidak boleh mengawinkan perempuan dengan lelaki yang tidak kufu' dengannya kecuali dengan ridhanya dan ridha segenap walinya. Jika para wali dan perempuannya ridha maka ia boleh dikawinkan, sebab para wali berhak menghalangi kawinnya perempuan dengan laki-laki yang tidak sepadan (tidak kufu'). Imam Syafi'i berkata: Jika perempuan yang dikawinkan dengan lelaki yang tak sepadan (tidak sekufu') tanpa ridhanya dan ridha para walinya, maka perkawinannya &lt;i&gt;batal&lt;/i&gt;. Imam Hanafi berkata: Jika seorang wanita kawin dengan pria yang tidak sederajat (tidak sekufu') tanpa persetujuan walinya, maka perkawinan tersebut &lt;i&gt;tidak sah&lt;/i&gt; dan wali berhak untuk menghalangi perkawinan wanita dengan pria yang tidak sederajat tersebut, karena yang demikian itu akan menimbulkan aib bagi keluarga. Imam Ahmad berkata Perempuan itu hak bagi seluruh walinya, baik yang dekat ataupun jauh. Jika salah seorang dari mereka tidak ridha dikawinkan dengan laki-laki yang tidak sederajat (tidak sekufu'), maka ia berhak &lt;i&gt;membatalkan&lt;/i&gt;. Riwayat lain dari Ahmad, menyatakan: bahwa perempuan adalah hak Allah, sekiranya seluruh wali dan perempuannya sendiri ridha menerima laki-laki yang tidak sederajat (tidak sekufu'), maka &lt;i&gt;keridhaan mereka tidaklah sah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="05"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;5. Kewenangan wali dalam pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Para ulama telah sepakat bahwa wanita yang waras dan dewasa dapat melaksanakan semua aqad kecuali aqad nikah, dan juga dapat mewakilkannya kepada siapa yang dikehendakinya tanpa ada hak sanggah bagi siapapun terhadapnya. Mereka sepakat pula bahwa aqad nikah wanita merdeka yang baligh dan berakal, apabila dilaksanakan oleh walinya menurut hukum syara' dengan persetujuan wanita yang bersangkutan, adalah sah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Adapun apabila wanita sendiri yang melaksanakannya atau mewakilkan kepada orang lain yang melaksanakannya, maka para ulama berbeda pendapat tentang sahnya. Abu Hanifah, Abu Yusuf menurut lahir riwayat dan Zufar berpendapat bahwa nikah itu sah, hanya wali mempunyai hak sanggah, selama belum melahirkan atau belum hamil yang nyata, apabila perkawinan itu dilangsungkan dengan tidak sekufu'. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dan diriwayatkan dari Abu Hanifah dan Abu Yusuf pendapat bahwa nikah itu hanya &lt;i&gt;sah kalau dengan yang sekufu'&lt;/i&gt; saja dan &lt;i&gt;batal kalau bukan dengan yang sekufu'&lt;/i&gt;. Sedangkan Daud dan orang-orang yang sefaham dengan dia mengambil dalil dengan hadits:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;الثيب احقّ بنفسها من وليها&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Wanita tsayyib (janda) lebih berhak mengenai dirinya daripada walinya".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengenai perbedaan hukum antara wanita perawan dan wanita janda, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;terdapat hadits:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;ليس للولي مع الثيب امر&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Tidak ada urusan wali mengenai wanita janda".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mereka mengatakan: Kedua hadits ini adalah tegas mengenai seluruh urusan wanita janda terserah kepadanya sendiri, dan di antaranya ialah aqad nikah. Dan kedua hadits itu juga jelas menunjukkan perintah minta izin wanita perawan. Maka dengan demikian, si perawan tidak ada haknya kecuali memberi izin mengenai nikahnya, dan hal itu menunjukkan bahwa yang menguasai nikah adalah orang lain dari pada dia, yaitu walinya yang meminta izin kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Abu Tsaur mengambil dalil dengan hadits Asiyah &lt;i&gt;Ayyuma imra-atin&lt;/i&gt; dan selanjutnya mengenai syarat hanyalah izin wali saja. Hadits itu menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan oleh wanita sendiri hanya batal apabila walinya tidak mengizinkan. Apabila ia mengawinkan dirinya dengan seizing walinya, maka nikah itu sah. Muhammad berpegang pada hadits ini juga mengenai pendapatnya bahwa sahnya aqad itu tergantung pada izin wali. As-Sya'bi dan Az-Zuhry mengambil dalil tentang aqad itu &lt;i&gt;sah kalau sekufu'&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;tidak sah kalau tidak sekufu&lt;b&gt;'&lt;/b&gt;. &lt;/i&gt;Malik, Syafi'i, Ahmad, Ishaq dan kebanyakan para ulama berpendapat bahwa nikah tidak sah dengan dilaksanakan oleh wanita sendiri atau wakilnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jumhur ulama kalangan Ahlus Sunnah sepakat bahwa salah satu syarat sahnya pernikahan adalah wali. Adapun alasan tersebut berdasarkan pada ayat 32 Surat An-Nuur:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;وَاَنْكِحُوا الأيَامى مِنْكُمْ...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Nikahkanlah orang-orang yang tidak bersuami/tidak beristeri dari padamu".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ayat tersebut ditujukan kepada wali di mana mereka diminta supaya menikahkan orang-orang yang belum bersuami atau orang-orang yang belum beristri. Ini menunjukkan bahwa urusan pernikahan adalah urusan wali. Kalau tidak demikian halnya, tentulah khitab ayat tersebut tidak ditujukan kepada mereka (para wali).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hal ini diperkuat oleh hadits yang datang mengenai sebab turun ayat itu. Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab sahihnya, juga Abu Daud, dan Turmudzy telah mensahihkannya, dari Ma'qal bin Yassar bahwa ayat itu turun mengenai dia. Ia berkata: Aku telah mengawinkan saudara perempuan, kemudian suaminya menceraikannya. Sesudah habis iddahnya bekas suaminya datang meminang nya lagi, maka aku katakan kepadanya: Aku telah mengawinkanmu, telah kuberi tempat kepadamu dan telah aku muliakanmu, tetapi kamu menceraikannya, kemudian kamu datang meminangnya lagi. Tidak, demi Allah, ia tidak boleh kembali kepadamu selama-lamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bekas suami itu adalah seorang laki-laki dimana bekas istrinya ingin kembali kepadanya. Allah mengetahui hajat laki-laki itu kepada bekas isterinya dan hajat perempuan itu kepada bekas suaminya, maka Allah swt menurunkan ayat: &lt;i&gt;Wa Idzaa Thallaqtumu an-nisaa&lt;/i&gt; dan seterusnya. Maka aku berkata: Sekarang saya kerjakan Ya Rasulullah. Ia berkata bahwa: ia mengawinkannya kepada bekas suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mereka mengatakan: Kalaulah wanita dapat mengawinkan dirinya, tentulah saudara perempuan Ma'qal telah melakukannya, karena ia suka kepada bekas suaminya. Dan berdasarkan ini, maka jauhlah pendapat yang mengatakan bahwa khitab dalam ayat itu ditujukan kepada suami. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Turmuzy dan Ibnu Majah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;لا نكاح الا بولي&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Tidak ada pernikahan melainkan dengan wali".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Daruqutny dan Baihaqy dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;لاتزوج المرأة المرأة ولا تزوج المرأة نفسها فإن الزّانية هي التى تزوج&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Wanita tidak dapat mengawinkan wanita dan ia tidak dapat mengawinkan dirinya, maka sesungguhnya wanita penzinalah yang mengawinkan dirinya". &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Adapun dalil logika ialah bahwa nikah mempunyai maksud yang bermacam-macam, sedang nikah itu adalah ikatan antara keluarga. Wanita dengan kekurangannya dalam hal memilih, tentulah tidak dapat memilih dengan cara yang baik, lebih-lebih lagi karena wanita itu tunduk kepada hukum perasaan halus yang kadang-kadang menutupi segi-segi kemaslahatan. Maka untuk menghasilkan tujuan-tujuan ini dengan cara yang lebih sempurna, maka dilaranglah wanita mencampuri langsung aqad nikah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut riwayat yang masyhur Imam Malik berpendapat serupa dengan Imam Syafii, tetapi yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Qasim dari beliau, bahwa mengenai wanita yang tidak mempunyai kedudukan (wanita biasa) dapat menikahkan dirinya sendiri dan aqad nikah wanita yang mempunyai kedudukan (wanita bangsawan) yang dilakukan oleh seorang muslim yang tidak berfungsi sebagai wakil wali, sahnya akad nikah tersebut tergantung kepada restu wali atau qadhi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengenai janda yang sah mengucapkan sighat ijab aqad nikahnya bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Thabari. Thabari berkata: Tentang riwayat Hafsah, ketika ia dalam status janda diaqadkan oleh Umar dan bukan yang berkepentingan mengaqadkan dirinya sendiri. Peristiwa ini membatalkan pendapat yang menyatakan bahwa wanita yang sudah dewasa dan mampu mengurus dirinya sendiri dapat mengawinkan dan mengaqadkan dirinya sendiri tanpa wali. Andaikata memang demikian, tentu Rasulullah saw meminang Hafsah secara pribadi (langsung) saja karena ia lebih berhak atas dirinya daripada ayahnya dan beliau tidak usah melamar lewat orang lain yang tak berhak mengurus persoalannya serta mengaqadkan nikahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Di dalam kitab &lt;i&gt;Usdu al-Ghabah &lt;/i&gt;diterangkan berita dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib, katanya: Pada waktu Umu Kulsum telah menjadi janda sepeninggalan Umar bin Khattab, Imam Ali berkata kepada Umu Kulsum: Anakku, sebenarnya Allah swt sudah menetapkan bahwa engkau sekarang ini berhak memilih jodohmu, namun saya ingin sekali kalau engkau menyerahkan pilihan itu kepadaku. Umu Kulsum menjawab: Ayah! Saya ini hanyalah wanita biasa, yang tentunya menginginkan apa yang biasa diinginkan oleh kaum wanita. Saya ingin memilih sendiri siapa yang akan menjadi jodoh saya. Imam Ali ra menjawab: Tidak! Demi Allah, wahai anakku, sungguh ini bukan buah pikiranmu sendiri!. Hasan dan Husein berkata: Dik Umu Kulsum! Serahkanlah urusan jodohmu itu kepada Ayah kita. Umu Kulsum menjawab: Ya ayah! Saya mengikuti apa yang ayah katakan tadi. Kemudian Imam Ali berkata: Ya, baiklah! Sekarang aku menikahkan engkau dengan 'Aun bin Ja'far bin Abi Thalib.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="06"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;6. Dalil-dalil yang mendasari kafa'ah syarifah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pada dasarnya ayat-ayat Alquran yang menyebutkan keutamaan dan kemuliaan ahlul bait secara umum merupakan dalil yang mendasari pelaksanaan kafa'ah dalam perkawinan syarifah. Begitu juga ayat yang terdapat dalam alquran surat al-An'am ayat 87, berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;وَمِنْ ءَابَائِهِمْ وَذُرِّيَتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"(&lt;b&gt;dan kami lebihkan pula derajat&lt;/b&gt;) sebahagian dari bapak-bapak mereka, &lt;b&gt;keturunan mereka&lt;/b&gt; dan saudara-saudara mereka …"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;ayat di atas jelas memberitahukan kepada kita bahwa antara keturunan para nabi (khususnya keturunan nabi Muhammad saw) dengan keturunan lainnya terdapat perbedaan derajat keutamaan dan kemuliaan, hal ini didasari oleh sabda Rasulullah saw: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;نحن اهل البيت لا نقاس بنا&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"&lt;i&gt;Kami Ahlul Bait tidaklah bisa dibandingkan dengan siapapun&lt;/i&gt;.", begitu pula dengan perkataan Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab '&lt;i&gt;Nahjul Balaghoh&lt;/i&gt;', bahwa: &lt;i&gt;"Tiada seorang pun dari umat ini dapat dibandingkan dengan keluarga (aal) Muhammad saw".&lt;/i&gt; Tentang keluarga Nabi, Imam Ali mengatakan bahwa tiada orang di dunia ini yang setaraf (sekufu') dengan mereka, tiada pula orang yang dapat dianggap sama dengan mereka dalam hal kemuliaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abbas bin Abdul Mutthalib, ketika Rasulullah ditanya tentang kemuliaan silsilah mereka, beliau menjawab: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Allah menciptakan manusia dan telah menciptakan diriku yang berasal dari jenis kelompok manusia terbaik. Kemudian Allah menciptakan kabilah-kabilah terbaik, dan menjadikan diriku dari kabilah yang terbaik. Lalu Allah menciptakan keluarga-keluarga terbaik dan menjadikan diriku dari keluarga yang paling baik. Akulah orang yang terbaik di kalangan mereka, baik dari segi pribadi maupun dari segi silsilah."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Baihaqi, Abu Nu'aim dan Tabrani meriwayatkan dari Aisyah, Disebutkan bahwa Jibril as pernah berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;قلبت مشارق الأرض و مغاربها فلم أجد رجلا افضل من محمد , وقلبت مشارق الأرض و مغاربها فلم أجد بنى أب افضل من بنى هاشم&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Aku membolak balikkan bumi, antara Timur dan Barat, tetapi aku tidak menemukan seseorang yang lebih utama daripada Muhammad saw dan akupun tidak melihat keturunan yang lebih utama daripada keturunan Bani Hasyim."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sebagai contoh para sahabat nabi, mereka adalah orang-orang yang mulia walaupun mereka bukan dari kalangan ahlul bait. Memang benar, bahwa mereka semuanya sama-sama bertaqwa, taat dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya. Persamaan keutamaan itu disebabkan oleh amal kebajikannya masing-masing. Akan tetapi ada keutamaan yang tidak mungkin dimiliki oleh para sahabat nabi yang bukan ahlul bait. Sebab para anggota ahlul bait secara kodrati dan menurut fitrahnya telah mempunyai keutamaan karena hubungan darah dan keturunan dengan manusia pilihan Allah yaitu junjungan kita Nabi Muhammad saw. Hubungan biologis itu merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal dan tidak mungkin dapat diimbangi oleh orang lain. Lebih-lebih lagi setelah turunnya firman Allah swt dalam surah Al-Ahzab ayat 33 dan wasiat Rasulullah saw berupa hadits Tsaqalain, di samping itu beliau sendiri telah menegaskan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;ياايهاالناس ان الفضل و الشرف و المنزلة و الولاية لرسول الله وذرّيته , فلا تذهبنّ الأباطيل&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Hai manusia bahwasanya keutamaan, kemuliaan, kedudukan dan kepemimpinan ada pada Rasulullah dan keturunannya. Janganlah kalian diseret oleh kebatilan."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Walaupun para ahlil bait Rasulullah menurut dzatnya telah mempunyai keutamaan, namun Rasulullah tetap memberi dorongan kepada mereka supaya memperbesar ketaqwaan kepada Allah swt, jangan sampai mereka mengandalkan begitu saja hubungannya dengan beliau. Karena hubungan suci dan mulia itu saja tanpa disertai amal saleh tidak akan membawa mereka kepada martabat yang setinggi-tingginya di sisi Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dengan keutamaan dzatiyah dan keutamaan amaliyah, para ahlul bait dan keturunan Rasul memiliki keutamaan ganda, keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keutamaan ganda itulah (khususnya keutamaan dzatiyah) yang mendasari pelaksanaan kafa'ah di kalangan keturunan Rasullulah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai kafa'ah syarifah, marilah kita perhatikan hadits yang menceritakan tentang adanya kafa'ah di kalangan wanita Arab. Telah diceritakan dalam kitab syarah &lt;i&gt;al-Wasith:&lt;/i&gt; bahwa Umar bin Khattab akan menikahkan anak perempuannya kepada Salman al-Farisi, kemudian berita tersebut sampai kepada Amr bin Ash, dan beliau berkata kepada Salman: Saya lebih setara (sekufu') dari pada engkau. Maka Salman berkata: Bergembiralah engkau. Dan selanjutnya dengan sikap tawadhu' Salman berkata: Demi Allah, saya tidak akan menikah dengan dia selamanya. Keputusan yang diambil oleh Salman berdasarkan hadits Rasulullah saw: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;من سلمان , نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتقدّم امامكم او ننكح نساءكم&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Dari Salman, sesungguhnya &lt;b&gt;Rasulullah telah melarang &lt;/b&gt;kami untuk memimpin (mengimami) kamu atau &lt;b&gt;menikahi wanita-wanita kamu&lt;/b&gt;."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dari hadits tersebut jelaslah bahwa di kalangan wanita Arab telah ada kafa'ah nasab dalam perkawinan. Hal tersebut dibuktikan oleh penolakan Salman al-Farisi yang berasal dari Persi ketika hendak dinikahkan dengan wanita Arab. Jika dalam pernikahan wanita Arab dengan lelaki non Arab saja telah ada kafa'ah, apalagi halnya dengan kafa'ah dalam pernikahan antara syarifah dimana mereka adalah wanita Arab yang mempunyai kemuliaan dan keutamaan. Kemuliaan dan keutamaan yang didapatkan tersebut dikarenakan mereka adalah keturunan Rasulullah saw. Hadits tersebut sekaligus juga merupakan jawaban yang mengeliminir perkataan Imam Ali yang berbunyi: Mu'min kufu' antara sesama mu'min, Arab dengan Ajam, Quraisy dan Bani Hasyim bila mereka telah Islam dan beriman." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sedangkan hadits Rasulullah yang memberikan dasar pelaksanaan kafa'ah syarifah adalah hadits tentang peristiwa pernikahan Siti Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib, sebagaimana kita telah ketahui bahwa mereka berdua adalah manusia suci yang telah dinikahkan Rasulullah saw berdasarkan wahyu Allah swt. Hadits tersebut berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;انما انا بشر مثلكم اتزوج فيكم وازوجكم الا فاطمة , فان تزويجها نزل من السماء , ونظر رسول الله صلىالله عليه وسلم الى اولاد على وجعفر فقال بناتنا لبنينا و بنونا لبناتنا &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Sesungguhnya aku hanya seorang manusia biasa yang kawin dengan kalian dan mengawinkan anak-anakku kepada kalian, kecuali perkawinan anakku Fathimah. Sesungguhnya perkawinan Fathimah adalah perintah yang diturunkan dari langit (telah ditentukan oleh Allah swt). Kemudian Rasulullah memandang kepada anak-anak Ali dan anak-anak Ja'far, dan beliau berkata: &lt;b&gt;"Anak-anak perempuan kami hanya menikah dengan anak-anak laki kami, dan anak-anak laki kami hanya menikah dengan anak-anak perempuan kami"&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut hadits di atas dapat kita ketahui bahwa: Anak-anak perempuan kami (syarifah) menikah dengan anak-anak laki kami (sayid/syarif), begitu pula sebaliknya anak-anak laki kami (sayid/syarif) menikah dengan anak-anak perempuan kami (syarifah). Berdasarkan hadits ini jelaslah bahwa pelaksanaan kafa'ah yang dilakukan oleh para keluarga Alawiyin didasari oleh perbuatan Rasul, yang dicontohkannya dalam menikahkan anak puterinya Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib. Hal itu pula yang mendasari para keluarga Alawiyin menjaga anak puterinya untuk tetap menikah dengan laki-laki yang sekufu sampai saat ini. Di zaman Syekh Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf, oleh para keluarga Alawiyin beliau diangkat menjadi 'Naqib al-Alawiyin' yang salah satu tugas khususnya adalah menjaga agar keluarga Alawiyin menikahkan putrinya dengan lelaki yang sekufu'. Mustahil jika ulama Alawiyin seperti Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam, Syekh Abdurahman al-Saqqaf, Syekh Umar Muhdhar, Syekh Abu Bakar Sakran, Syekh Abdullah Alaydrus, Syekh Ali bin Abi Bakar Sakran dan lainnya, melaksanakan pernikahan yang sekufu' antara syarifah dengan sayid hanya berdasarkan dan mengutamakan adat semata-mata dengan meninggalkan ajaran datuknya Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah bagi umat, padahal mereka bukan saja mengetahui hal-hal yang zhohir tapi juga mengetahui hal-hal bathin yang didapat karena kedekatan mereka dengan Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Para ulama Alawiyin mempunyai sifat &lt;i&gt;talazum &lt;/i&gt;(tidak menyimpang) dari alquran dan seruannya, mereka tidak akan berpisah meninggalkan alquran sampai hari kiamat sebagaimana hadits menyebutkan mereka sebagai padanan alquran, dan mereka juga sebagai bahtera penyelamat serta sebagai pintu pengampunan. Rasulullah mensifatkan mereka ibarat bingkai yang menyatukan umat ini. Berpegang pada mereka dan berjalan di atas jalan mereka adalah jaminan keselamatan dan tidak adanya perpecahan serta perselisihan, sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Bintang-bintang adalah sebagai pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam (di lautan) dan ahlil baitku sebagai pengaman bagi penduduk bumi dari perselisihan." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tidaklah alquran memperkenalkan mereka kepada umat, melainkan agar umat itu memahami kedudukan mereka (dalam Islam) serta agar umat mengikuti dan menjadikan mereka rujukan dalam memahami syariah, mengambil hukum-hukumnya dari mereka. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam syairnya menulis:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ahlul Bait Musthofa, mereka adalah orang-orang suci&lt;br /&gt;Mereka pemberi keamanan di muka bumi&lt;br /&gt;Mereka ibarat bintang-bintang yang bercahaya&lt;br /&gt;Demikianlah sunnatullah yang telah ditentukan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mereka ibarat bahtera penyelamat&lt;br /&gt;dari segala topan (bahaya) yang menyusahkan&lt;br /&gt;Maka menyelamatkan dirilah kepadanya&lt;br /&gt;Dan berpegang teguhlah kepada Allah swt&lt;br /&gt;serta memohon pertolongan-Nya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Wahai Tuhanku, jadikanlah kami orang yang berguna atas berkah mereka&lt;br /&gt;Tunjukkanlah kepada kami kebaikan dengan kehormatan mereka&lt;br /&gt;Cabutlah nyawa kami di atas jalan mereka&lt;br /&gt;Dan selamatkanlah kami dari berbagai macam fitnah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengapa para ulama Alawiyin mewajibkan pernikahan tersebut?, hal itu bertujuan agar kemuliaan dan keutamaan mereka sebagai keturunan Rasulullah saw yang telah ditetapkan dalam alquran dan hadits Nabi saw, tetap berada pada diri mereka. Sebaliknya, jika telah terjadi pernikahan antara syarifah dengan lelaki yang bukan sayid, maka anak keturunan selanjutnya adalah bukan sayid, hal itu disebabkan karena anak mengikuti garis ayahnya, implikasinya keutamaan serta kemuliaan yang khusus dikarunia oleh Allah swt untuk ahlul bait dan keturunannya tidak dapat disandang oleh anak cucu keturunan seorang syarifah yang menikah dengan lelaki yang bukan sayid. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits-hadits lain yang menjadi dasar pelaksanaan kafa'ah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al-Hakim dan Rafi'i:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"…maka mereka itu keturunanku diciptakan (oleh Allah) dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuannku. Celakalah (neraka wail) bagi orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan &lt;i&gt;memutuskan hubunganku &lt;/i&gt;dari mereka. Kepada mereka itu Allah tidak akan menurunkan syafa'atku." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Makna yang terkandung dalam hadits ini adalah: mustahil akan terjadi pemutusan hubungan keturunan nabi saw kalau tidak dengan terputusnya nasab seorang anak dan tidak akan terputus nasab seorang anak kalau bukan disebabkan perkawinan syarifah dengan lelaki yang tidak menyambung nasabnya kepada nabi saw. Dan jika telah terjadi pemutusan hubungan tersebut, maka menurut hadits di atas Nabi Muhammad tidak akan memberi syafa'atnya kepada orang yang memutuskan hubungan keturunannya kepada Rasulullah melalui perkawinan syarifah dengan lelaki yang bukan sayid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sejarah menginformasikan kepada kita bahwa khalifah Abu Bakar dan Umar bersungguh-sungguh untuk melamar Siti Fathimah dengan harapan keduanya menjadi menantu nabi. At-Thabary dalam kitabnya yang berjudul Dzakhairul Uqba halaman 30 mengetengahkan sebuah riwayat, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah meminang Siti Fathimah oleh Rasulullah dijawab: "Allah belum menurunkan takdir-Nya". Demikian pula jawaban Rasulullah kepada Umar bin Khattab ketika meminang Siti Fathimah ra.. Mengapa mereka ingin menjadi menantu nabi? Dua orang sahabat itu meminang Fathimah, semata-mata ingin mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah dan karena keutamaan-keutamaan yang diperoleh keluarga nabi menyebabkan mereka ingin sekali menjadi menantunya. Mereka mendengar Rasulullah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;كلّ نسب وصهر ينقطع يوم القيامة الا نسبي وصهري&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Semua hubungan nasab dan shihr (kerabat sebab hubungan perkawinan) akan terputus pada hari kiamat kecuali nasab dan shihr-ku".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Al-Baihaqi, Thabrani dan yang lain meriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khattab ra meminang puteri Imam Ali ra yang bernama Ummu Kulsum, beliau berkata: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Aku tidak menginginkan kedudukan, tetapi saya pernah mendengar Rasulullah saw berkata: 'Sebab dan nasab akan terputus pada hari kiyamat kecuali sababku dan nasabku. Semua anak yang dilahirkan ibunya bernasab kepada ayah mereka kecuali anak Fathimah, akulah ayah mereka dan kepadaku mereka bernasab.' Selanjutnya Umar ra berkata lebih lanjut: Aku adalah sahabat beliau, dan dengan hidup bersama Ummu Kulsum aku ingin memperoleh hubungan sabab dan nasab (dengan Rasulullah saw)."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Orang lain saja (khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar) ingin menjadi menantu nabi karena ingin mendapatkan keutamaan dan kemuliaan melalui perkawinan dengan keturunan Rasulullah saw , sebaliknya ada sebagian keturunan Rasulullah yang dengan sengaja melepas dan menghilangkan keutamaan dan kemuliaan itu pada diri dan keluarganya khususnya kepada keturunannya hanya karena mereka mengikuti nafsu untuk bebas memilih dan menikahkan anak perempuannya dengan seorang lelaki yang tidak sekufu' (bukan sayyid).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Seharusnya para keturunan Rasulullah yang hidup saat ini melipatgandakan rasa syukurnya kepada Allah, karena melalui kakeknya Nabi Muhammad saw mereka menjadi manusia yang memiliki keutamaan dan kemuliaan, bukan sebaliknya mereka kufur ni'mat atas apa yang mereka telah dapatkan dengan melepas keutamaan dan kemuliaan diri dan keturunannya melalui pernikahan yang mengabaikan kafa'ah nasab dalam perkawinan anak dan saudara perempuannya, yaitu dengan mengawinkan anak dan saudara perempuannya sebagai seorang syarifah dengan lelaki yang bukan sayyid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebelum pernikahan kedua manusia suci itu, Siti Fathimah pernah dilamar oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lamaran tersebut tidak diterima oleh Rasulullah dengan alasan Allah swt belum menurunkan wahyu-Nya untuk menikahkan Siti Fathimah. Begitu pula dengan Umar bin Khattab, beliau juga melamar Siti Fathimah, akan tetapi lamaran itu pun tidak diterima Rasulullah dengan alasan yang sama ketika menolak lamaran Abu Bakar Ash-Shiddiq. Akan tetapi ketika Ali bin Abi Thalib melamar Siti Fathimah kepada Rasulullah, saat itu juga Rasulullah menerima lamaran Ali bin Abi Thalib dan Rasulullah berkata: " Selamat wahai Ali, karena Allah telah menikahkanmu dengan putriku Fathimah ". &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Secara selintas memang peristiwa tersebut merupakan pernikahan biasa yang dialami nabi sebagai seorang ayah, dan sebagai utusan Allah yang senantiasa menerima wahyu dari Tuhannya. Akan tetapi dibalik peristiwa itu, terkandung nilai-nilai yang disampaikan Allah kepada nabinya yaitu berupa hukum kafa'ah dalam perkawinan keluarga Rasulullah, dimana Allah mensyariatkan pernikahan Imam Ali bin Abi Thalib dan Siti Fathimah yang keduanya mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah dan mempunyai keutamaan ganda yang tidak dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar. Mereka adalah ahlul bait, dimana Allah telah menghilangkan dari segala macam kotoran dan membersihkan mereka dengan sesuci-sucinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Generasi Nabi saw lahir dari putrinya Fathimah ra. Beliau sangat mencintai mereka, al-Hasan dan al-Husein disebut sebagai anaknya sendiri, bahkan kepada menantunya, suami dari Fathimah ra, Rasulullah saw mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Seandainya Ali bin Abi Thalib tidak lahir ke bumi maka Fathimah tidak akan mendapatkan suami yang sepadan (sekufu'), demikian pula halnya dengan Ali, bila Fathimah tidak dilahirkan maka Ali bin Abi Thalib tidak pula akan menemukan istri yang sepadan (sekufu'), mereka dan anak-anaknya diriku dan diriku adalah diri mereka." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Abu Abdillah Ja'far al-Shaddiq mengatakan, "Seandainya Allah tidak menjadikan Amirul Mukminin (Imam Ali) maka tidak ada yang sepadan (sekufu') bagi Fathimah di muka bumi, sejak Adam dan seterusnya."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Para ulama seperti Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Syafii dalam masalah kafa'ah sependapat dengan pendapat khalifah Umar bin Khattab yang mengatakan: "Aku melarang wanita-wanita dari keturunan mulia (syarifah) menikah dengan lelaki yang tidak setaraf dengannya."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut mazhab Syafii, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal, seorang wanita keturunan Bani Hasyim, tidak boleh dikawini oleh seorang laki-laki dari selain keturunan mereka kecuali disetujui oleh wanita itu sendiri serta seluruh keluarga (wali-walinya). Bahkan menurut sebagian ulama mazhab Hambali, kalaupun mereka rela dan mengawinkannya dengan selain Bani Hasyim, maka mereka itu &lt;i&gt;berdosa&lt;/i&gt;. Sebaliknya, Imamiyah tidak mensyaratkan adanya kafaah dalam pernikahan. Menurut mereka sikap muslim yang baik adalah kufu' dengan wanita muslimah yang baik. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Wanita keturunan mulia (syarifah) itu hak bagi seluruh walinya, baik yang dekat ataupun jauh. Jika salah seorang dari mereka tidak ridho di kawinkannya wanita tersebut dengan lelaki yang tidak sekufu', maka ia berhak membatalkan. Bahwa wanita (syarifah) hak Allah, sekiranya seluruh wali dan wanita (syarifah) itu sendiri ridho menerima laki-laki yang tidak sekufu', maka keridhaan mereka tidak sah."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Seorang ulama yang terkenal yang dianggap pendobrak kebekuan pemikiran kaum muslimin seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang seorang Syarif yang putrinya dikawinkan dengan seorang bukan Syarif padahal si ayah tidak setuju, apakah nikah tersebut sah? Ibnu Taimiyah menjawab: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Kafaah dalam hal nasab tidak merupakan persyaratan bagi Imam Malik. Adapun menurut Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya– kafaah adalah hak isteri dan kedua orang tua. Maka apabila mereka semua rela tanpa kafu, sahlah nikah mereka. Akan tetapi dalam riwayat lainnya dari Ahmad, kafaah adalah " hak Allah "dan oleh karenanya tidaklah sah nikah tanpa adanya kafaah."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam kitabnya '&lt;i&gt;Bughya al-Mustarsyidin&lt;/i&gt;' al-Allamah Sayid Abdurahman bin Muhammad bin Husein al-Masyhur, berkata: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Seorang syarifah yang dipinang oleh orang selain laki-laki keturunan Rasulullah, maka aku tidak melihat diperbolehkannya pernikahan tersebut. Walaupun wanita keturunan Ahlul Bait Nabi SAW dan walinya yang terdekat merestui. Ini dikarenakan nasab yang mulia tersebut tidak bisa diraih dan disamakan. Bagi setiap kerabat yang dekat ataupun jauh dari keturunan sayyidah Fatimah Az-Zahra adalah lebih berhak menikahi wanita keturunan Ahlul Bait Nabi tersebut."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Selanjutnya beliau berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Meskipun para fuqaha mengesahkan perkawinannya, bila perempuan itu ridho dan walinya juga ridho, akan tetapi &lt;b&gt;para fuqaha leluhur kami mempunyai pilihan yang para ahli fiqih lain tidak mampu menangkap rahasianya&lt;/b&gt;, maka terima sajalah kamu pasti selamat dan ambillah pendapatnya, jika kamu bantah akan rugi dan menyesal."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dijelaskan oleh Sayyid Usman bin Abdullah bin Yahya (Mufti Betawi): &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Dalam perkara kafa'ah, tidaklah sah perkawinan seorang laki-laki dengan perempuan yang tidak sekufu' apalagi perempuan itu seorang syarifah maka yang bukan sayyid tidak boleh menikahinya sekalipun syarifah itu dan walinya menyetujuinya. Sekalipun para fakih telah berkata bahwa pernikahan itu sah namun para &lt;b&gt;ulama ahlul bait mempunyai ijtihad dan ikhtiar dalam perkara syara' yang tiada di dapati oleh para fakih lain&lt;/b&gt;. Maka sesudah diketahui segala nash ini tentang larangan pernikahan wanita keturunan ahlul bait nabi SAW, sebaiknya menjauhkan diri dari memfatwakan bolehnya pernikahan syarifah dengan selain dari keturunan Rasulullah tersebut dengan berlandaskan semata-mata nash umum fuqaha, yakni nikah itu sah bila si wanitanya ridha dan walinya yang dekatpun ridha. Hal ini berlaku secara umum, tidak berlaku untuk syarifah dengan lain bangsa yang bukan sayyid."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Selanjutnya beliau berkata: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Daripada yang menjadi godaan yang menyakitkan hati Sayidatuna Fathimah dan sekalian keluarga daripada sayid, yaitu bahwa seorang yang bukannya dia daripada bangsa sayid Bani Alawi, ia beristerikan syarifah daripada bangsa Bani Alawi, demikian juga orang yang memfatwakan harus dinikahkannya, demikian juga orang yang menjadi perantaranya pernikahan itu, karena sekaliannya itu telah menyakitkan Sayidatuna Fathimah dan anak cucunya keluarga Rasulullah saw."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mufti Makkah al-Mukarromah, Sayid Alwi bin Ahmad al-Saqqaf , menjelaskan dalam kitabnya '&lt;i&gt;Tarsyih al-Mustafidin Khasiyah Fath al-Mu'in&lt;/i&gt;':&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Dalam kitab al-Tuhfah dan al-Nihayah disebutkan bahwa tidak ada satupun anak keturunan Bani Hasyim yang sederajat (sekufu') dengan anak keturunan Siti Fathimah. Hal ini disebabkan kekhususan Rasulullah saw, karena anak keturunan dari anak perempuannya (Siti Fathimah) bernasab kepada beliau dalam hal kafa'ah dan lainnya."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh para ulama keturunan Rasulullah saw tersebut merupakan dalil hukum syariat yang dapat dijadikan pedoman dalam pernikahan seorang syarifah. Mengapa demikian? Dikarenakan mereka adalah hujjah-hujjah Ilahi yang berusaha menjaga umat ini dan memelihara kelurusan terhadap penyimpangan dari aspek-aspek ibadah dan lain-lain. Oleh karena itu, umat ini seyogyanya berpegang teguh kepada mereka serta tidak mendahului dan tidak mengabaikan mereka. Orang yang bersandar dan mengikuti mereka tidak akan tersesat, sebagaimana tidak akan tersesat orang yang bersandar pada alquran, hal tersebut adalah jaminan Rasulullah kepada ummatnya, sebagaimana sabda beliau saw yang dinamakan dengan hadits al-Tsaqalain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Kepada kalian kutinggalkan sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya sepeninggalanku kalian tak akan tersesat: Kitab Allah sebagai tali yang terentang dari langit sampai ke bumi, dan &lt;b&gt;keturunanku, ahlul baitku&lt;/b&gt;. Dua-duanya tidak akan terpisah hingga kembali kepadaku di Haudh (sorga). Perhatikanlah kedua hal itu dalam kalian meneruskan kepemimpinanku." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengenai ucapan Rasulullah saw: "Dua-duanya tidak akan terpisah hingga kembali kepadaku di Haudh" dan ucapan beliau: "jika kalian berpegang teguh kepadanya sepeninggalanku kalian tak akan tersesat" yang dimaksud adalah para ulama yang berasal dari keturunan ahlul bait, tidak berlaku bagi orang-orang selain mereka. Mereka mempunyai keistimewaan sebagai teladan dan berada pada martabat lebih tinggi daripada yang tidak mempunyai keistimewaan sebagai teladan. Kita wajib berteladan kepada ulama dari kalangan mereka, dengan menimba dan menghayati ilmu-ilmu mereka yang telah dijamin oleh Allah swt. Rasulullah saw dengan ucapannya menunjuk anggota-anggota keluarga keturunan beliau, dikarenakan mereka mempunyai keistimewaan dapat memahami apa yang diperlukan (hikmah-hikmah yang terkandung dalam suatu perkara, yang tidak dapat dipahami oleh ulama selain mereka). Sebab kebaikan unsur penciptaan yang ada pada mereka dapat melahirkan kebaikan akhlaq, dan kebaikan akhlaq akan menciptakan kebersihan dan kesucian hati. Manakala hati telah bersih dan suci ia akan memberikan cahaya terang dan dengan cahaya itu dada akan menjadi lebih cerah. Semuanya itu merupakan kekuatan bagi mereka dalam usahanya memahami apa yang harus dilakukan menurut perintah syariat. Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang berjudul &lt;i&gt;al-Aqidah al-Wasithiyah &lt;/i&gt;memberi tanggapan terhadap hadits tsaqalain sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Dua kalimat hadis tsaqalain yang menyatakan 'dua-duanya tidak akan terpisah hingga kembali kepadaku di Haudh', dan 'jika kalian berpegang teguh kepadanya sepeninggalanku kalian tak akan tersesat', hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para Imam atau orang-orang terkemuka dari keluarga keturunan Rasulullah saw saja, melainkan berlaku juga bagi semua orang yang berasal dari keluarga keturunan beliau, baik yang awam maupun yang khawas, yang menjadi Imam maupun yang tidak."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Perkataan Ibnu Taimiyah semakin menjelaskan bahwa masalah kafa'ah yang dilaksanakan oleh para keturunan Rasulullah -baik ia seorang ulama ataupun ia seorang awam- di mana status mereka sebagai padanan alquran, bukanlah suatu yang bertentangan dengan ajaran Islam atau berdasar kepada adat semata-mata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Disamping itu, hal itu dilakukan berdasarkan dalil-dalil yang terdapat dalam alquran, diantaranya surat Surat al-Ra'du ayat 21:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungan (mengadakan hubungan silaturahmi dan tali persaudaraan), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Surat Muhammad ayat 22-23:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?. Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagai pelengkap uraian di atas, seorang hakim pengadilan Mesir memfasakhkan pernikahan seorang syarifah yang menikah dengan lelaki yang bukan sayid seperti yang terdapat dalam Fatawa al-Manar, Juz VII, hal 447 ditulis: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Sebagaimana yang pernah terjadi dalam kasus peradilan di Mesir pada sekitar tahun 1904, mengenai perkawinan Syekh Ali Yusuf, pemimpin majalah al-Mu'ayyad dengan sayidah Shofiyah binti sayid Abdul Khaliq al-Saadat. Hakim syar'i menetapkan batalnya akad berdasarkan tidak adanya kafa'ah. Karena si perempuan dari golongan Alawiyah sedang syekh Ali Yusuf bukan orang Alawi."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sungguh patut disesalkan jika seseorang dalam suatu pernikahan mengangkat wali kuasa sebagai wali nikah (wali hakim) dan dengan sengaja menikahkan wanita tersebut tanpa seizin wali terdekatnya, apalagi tidak sekufu' serta seorang syarifah yang kawin lari dengan laki-laki yang bukan sayid dikarenakan orang tua mereka tidak menyetujui pernikahan tersebut. Tindakan tersebut merupakan suatu hal yang mengganggu Rasulullah SAW dan menyakitinya apabila terjadi suatu perkawinan terhadap putri-putri dari keturunan beliau dengan tanpa pertimbangan kafa'ah terlebih dahulu, melalaikan amanat dan tidak memperhatikan serta tidak menjaga perihal hubungan nasab keturunan beliau. Sehubungan dengan itu, Allah SWT berfirman dalam Alquran:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Tidak boleh bagi kalian menyakiti diri Rasulullah SAW dan tidak boleh mengawini isteri-isterinya selama-lamanya setelah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu amat besar dosanya di sisi Allah SWT."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dari ayat tersebut kita dapat memahami dan mengambil kesimpulan, bahwa apabila isteri-isteri Nabi saw saja dilarang bagi orang-orang lain untuk mengawini mereka karena dianggap akan mengganggu Rasulullah saw, di mana ikatan mereka dengan Rasul karena adanya hubungan pernikahan, apalagi terhadap anak cucu beliau yang bersambung karena hubungan nasab , darah dan kefamilian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jika kita membaca sejarah, ketika anak perempuan Abu Lahab meninggalkan orang tuanya dan hijrah ke Madinah, beberapa orang dari kaum muslimin berpendapat bahwa hijrah mereka ke Madinah tidak ada gunanya sama sekali, karena orang tua mereka adalah umpan api neraka. Ketika anak perempuan Abu Lahab melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah, beliau bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Kenapa masih ada orang-orang yang masih menggangguku melalui nasab dan kerabatku? Barang siapa mengganggu nasabku dan kaum kerabatku berarti ia menggangguku, barang siapa menggangguku berarti ia mengganggu Allah SWT"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Begitu pula sabda Rasulullah SAW:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;اشتدّ غضب الله على من اذاني في عترتي&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Amat keras murka Allah SWT atas orang-orang yang menyakiti aku di dalam hal keturunanku "&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="07"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;7. Penafsiran tentang makna dzurriyah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagaimana telah dketahui bahwa "keturunan Rasulullah" ialah mereka yang telah diberi karunia besar berupa martabat kemuliaan dari Allah swt. Siapakah keturunan Rasulullah itu? Beberapa ulama memberi definisi dan batasan mengenai keturunan Rasulullah saw, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Syaikhul Islam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata dalam kitabnya '&lt;i&gt;Jala' al-Afham'&lt;/i&gt; halaman 138 menjelaskan beberapa makna 'aal Muhammad saw' (keluarga Nabi) yang mengklasifikasikan menjadi empat pendapat. Di antara pendapat tersebut mengatakan bahwa 'aal Muhammad' ialah: khusus &lt;i&gt;anak cucu Rasulullah&lt;/i&gt; saw dan para isteri beliau. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik berasal dari Nu'aim bin Mujmar. Akan tetapi pendapat yang mengatakan 'aal Muhammad' ialah isteri-isteri Nabi tidak didukung oleh dalil-dalil yang kuat. Menurut Sayyid Alwi bin Thahir Al-Haddad:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Jika ayat itu turun untuk istri-istri Nabi tentunya pembicaraan akan tetap tertuju kepada mereka sebagaimana dalam ayat sebelumnya. Akan tetapi penggunaan dhamir mudzakkar menunjukkan bahwa pembicaraan (khitab) bukan dengan mereka. Adapun peletakan ayat ini di tengah ayat-ayat yang membicarakan istri-istri Nabi menunjukkan adanya hikmah pada perintah-perintah yang diwajibkan atas istri-istri Nabi tersebut dan ini cukup sebagai alasan peletakannya dan sekaligus menggugurkan alasan mereka yang menjadikan siyaq al-ayat sebagai dalil bahwa ayat itu untuk istri-istri Nabi".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Di dalam riwayat Muslim disebutkan: Kami bertanya, "Apakah istri-istri Nabi saw termasuk Ahlul Bait?" Ia menjawab, "Tidak, karena istri tinggal bersama suami hanya beberapa saat saja. Kemudian jika ia diceraikan, ia kembali kepada keluarganya. Ahlul Baitnya adalah keluarga yang haram menerima sedekah sepeninggal Nabi."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya telah aku tinggalkan untukmu sesuatu yang jika kalian ambil, kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu ats-Tsaqalain.&lt;i&gt; Pertama&lt;/i&gt;, Kitab Allah sebagai tali yang terbentang di antara langit dan bumi. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, keluargaku, Ahlul baitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga kembali kepadaku di al-Haudh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hal ini menjelaskan bahwa istri-istri Nabi tidak termasuk ke dalam keluarga atau ahlul baitnya. Juga ditegaskan bahwa keluarga atau ahlul bait itu keluarga yang senasab saja. Hal ini sesuai dengan pendapat Mufti Makkah Syeikh Muhammad Said bin Muhammad Babushail, yang mengemukakan pendapatnya dalam kitab '&lt;i&gt;Al-Durar al-Naqiyah Fi Fadha'ili Dzurriyati Khair al-Barriyah&lt;/i&gt;'. Dalam kitab tersebut ia mengatakan bahwa: 'Kaum kerabat Nabi saw (termasuk anak cucu keturunan beliau) adalah keluarga yang mempunyai pertalian nasab.'&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Setelah makna 'aal Muhammad' bukan ditujukan untuk istri-istri Nabi, maka makna 'aal Muhammad' tersebut tertuju kepada anak-cucu (keturunan) Rasulullah saw. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan: Tidak ada perbedaan di kalangan ahli bahasa bahwa makna Dzurriyah itu adalah keturunan baik yang masih anak-anak maupun yang sudah dewasa. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya surat Al-Baqarah ayat 124:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Dan ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa nikmat, maka ia menunaikannya. Allah berfirman: Aku akan menjadikan kamu Imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata dan dari keturunanku …"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kemudian Ibnu Qayyim berkata: Jika hal ini ditetapkan maka Dzurriyah adalah anak-anak dan anak-anak mereka. Lalu &lt;i&gt;apakah anak-anak perempuan termasuk ke dalam dzurriyah?&lt;/i&gt; Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Keduanya berdasarkan dua riwayat dari Ahmad: &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, memasukkan anak-anak wanita ke dalam Dzurriyah Mereka berpendapat bahwa ummat Islam sepakat anak-anak dari Fathimah adalah Dzurriyah Nabi saw, yang kepada mereka ini Allah memerintahkan bershalawat. Karena tak ada seorang pun dari puteri-puteri Nabi saw kecuali Fathimah yang mempunyai keturunan, maka tidak ada orang yang bernasab kepada Rasulullah kecuali dari Fathimah saw. Oleh karenanya nabi berkata: Sesungguhnya puteraku ini sayyid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mereka berkata: "Dan juga Allah swt berfirman akan hak Ibrahim as (Surat Al-An'am ayat 84-85):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"…dan kepada sebahagiaan dari keturunan (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semua termasuk orang-orang yang saleh" &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dan alquran surat Ali Imran ayat 61:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu…".&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kedua, adapun orang yang tidak memasukkan anak wanita ke dalam Dzurriyah, ia berhujjah bahwa anak-anak dari anak perempuan, mereka pada hakikatnya hanya bernasab kepada ayahnya. Karena jika puteri Bani Hasyim menikah dengan selain Bani Hasyim kemudian mempunyai keturunan, maka anaknya itu bukan keturunan Bani Hasyim, sebab ia bernasab kepada ayahnya. Karena itu seorang penyair mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;بنونا بنوا ابنائنا وبناتنا بنوهن اولاد الرجال الاباعد&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Keturunan kami adalah keturunan dari anak laki-laki dan wanita kami, Keturunan dari puteri kami adalah keturunan dari laki-laki yang terjauh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mereka berkata: adapun masuknya Fathimah ke dalam Dzurriyah Nabi saw karena kemuliaannya, keagungan dan martabat ayahnya Muhammad saw yang tidak ada satupun manusia yang sama dengannya di dunia. Dengan demikian maka &lt;i&gt;Dzurriyah Nabi dari puterinya itu merupakan kelanjutan dari keluhuran dan kemuliaan martabat Nabi saw&lt;/i&gt;, sebagaimana Thabrani meriwayatkan hadits dari Siti Fathimah ra, bahwasanya Rasulullah menegaskan: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;كل ابن انثى ينتمون الى عصبتهم ال ولد فاطمة فإني انا وليهم وانا عصبتهم وابوهم&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Semua anak yang dilahirkan oleh ibunya bernasab kepada ayah mereka kecuali Fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kita mengetahui bahwa kemuliaan dan keagungan seperti itu tidak dapat kita temukan pada para pembesar, raja-raja dan lainnya karena mereka tidak memandang keturunan dari anak perempuan mereka sebagai Dzurriyah yang meneruskan kebesaran dan kemuliaan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mereka berkata: Adapun alasan dengan masuknya Al-Masih (Isa as) dalam keturunan Ibrahim as, bukan merupakan argumentasi yang kuat, karena sesungguhnya Al-Masih tidak memiliki seorang ayah, maka nisbatnya dari pihak ayahnya mustahil, hingga ibunya menempati posisi ayahnya (oleh karena itu Allah swt menisbatkannya kepada ibunya). Demikian juga setiap orang terputus nasabnya dari ayahnya, baik karena sumpah li'an ataupun yang lainnya, maka ibunya menempati posisi ayahnya sekaligus sebagai ibunya dalam nasab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Itu adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan itu sesuai dengan tuntutan nash. Dan pendapat Ibnu Mas'ud ra dan lainnya, menurut kaidah pendapat itu benar, karena nasab seseorang asalnya kepada ayahnya. Jika nasabnya terputus dari arah ayahnya, ia kembali kepada ibunya walaupun kembalinya dari ayahnya telah ditentukan, ia tetap kembali dari ibunya kepadanya. Demikian juga, sebagaimana yang disepakati mayoritas umat atasnya dalam kewalian, bahwasanya ia adalah milik wali bapak, jika kembalinya ia kepada mereka sulit, maka ia berada dalam kewalian ibunya namun jika kembalinya ia kepada mereka dimungkinkan, ia kembali dari ibu kepada sumbernya dan asalnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sehubungan dengan masalah tersebut, pada dasarnya yang dimaksud dengan keturunan ahlul bait khususnya mereka yang berasal dari keturunan Al-Hasan dan Al-Husein, bukan keturunan dari dua orang saudara perempuan mereka, kendatipun semuanya adalah putri-puteri Fathimah binti Muhammad saw. Ketentuan tersebut didasarkan pada sebuah hadits shahih berasal dari Jabir ra, diketengahkan oleh Al-Hakim di dalam '&lt;i&gt;Mustadrak&lt;/i&gt;' dan oleh Abu Ya'la di dalam Musnadnya ; bahwasanya Siti Fathimah ra meriwayatkan ayahandanya saw berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;لكلّ بني ادم عصبة الاّ ابني فاطمة , انا وليّهما وعصبتهما&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Semua anak Adam dilahirkan oleh seorang ibu termasuk di dalam suatu Usbah – yakni kelompok dari satu keturunan – kecuali dua orang putera Fathimah. Akulah wali dan 'usbah mereka berdua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Yang dimaksud "dua orang putera Fathimah" dalam hadits tersebut ialah al-Hasan dan al-Husein. Dengan memperhatikan lafazd hadits tersebut, dapat diketahui dengan jelas bagaimana Rasulullah mengkhususkan pengelompokkan al-Hasan dan al-Husein sebagai keturunan beliau, sedangkan dua orang saudari perempuan mereka (Zainab dan Ummu Kulsum) dikecualikan dari pengelompokkan nasab tersebut di atas, karena anak-anak dari dua orang puteri Siti Fathimah itu bernasab kepada ayahnya masing-masing yang bukan dari ahlul bait Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Itulah sebabnya kaum salaf dan khalaf memandang anak lelaki seorang syarifah (wanita keturunan ahlul bait Rasulullah saw) tidak dapat disebut sayyid atau syarif jika ayahnya bukan seorang sayyid atau syarif. Kalau pengkhususan tersebut di atas berlaku umum bagi semua anak yang dilahirkan oleh anak cucu perempuan Rasulullah, tentu anak lelaki seorang syarifah adalah syarif yang diharamkan menerima shadaqah, walaupun ayahnya bukan seorang syarif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Karena itu pula Rasulullah saw menetapkan kekhususan tersebut hanya berlaku bagi dua orang putera Siti Fathimah, tidak berlaku bagi puteri-puteri Rasulullah selain Siti Fathimah , karena kakak perempuan Siti Fathimah yaitu Zainab binti Muhammad saw tidak melahirkan putera lelaki tetapi hanya melahirkan anak perempuan yaitu Amamah binti Abul 'Ash bin Rabi' seorang pria bukan dari kalangan ahlul bait Rasulullah. Ketentuan itu diambil oleh Rasulullah semasa hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak Amamah tidak bernasab kepada Nabi saw, karena Amamah adalah anak perempuan dari puteri beliau Zainab yang menjadi isteri seorang pria bukan dari ahlul bait, sedangkan Zainab sendiri jelas bernasab kepada Rasulullah. Seumpama Zainab melahirkan anak lelaki dari suami seorang ahlul bait, tentu bagi anak lelakinya itu berlaku ketentuan sebagaimana yang berlaku bagi Al-Hasan dan Al-Husein yaitu bernasab kepada Rasulullah saw. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam mengomentari keutamaan keturunan Rasulullah saw melalui Siti Fathimah , al-Allamah Ibnu Hajar dalam kitabnya '&lt;i&gt;Al-Shawaiq al-Muhriqah'&lt;/i&gt;, menerangkan sebagai berikut: Barang siapa mengganggu salah seorang putera Fathimah, ia akan menghadapi bahaya karena perbuatannya itu membuat marah Siti Fathimah ra. Sebaliknya barang siapa mencintai putera-putera Fathimah ra, ia akan memperoleh keridhoannya. Para ulama khawas (yakni ulama yang mempunyai keistimewaan khusus) merasa di dalam hatinya terdapat keistimewaan yang sempurna karena kecintaan mereka kepada Rasulullah saw dan keturunannya disebabkan mereka (keturunan Nabi saw) mempunyai dzat mulia yang diciptakan dari nur Muhammad sebelum Allah menciptakan bumi dan langit. Sebagaimana Nabi saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Allah telah menciptakan cahaya Fathimah sebelum menciptakan bumi dan langit. Sebagian sahabat bertanya, "ya Rasulullah! Bukankah dia adalah manusia biasa? Rasulullah menjawab: "Dia adalah bidadari berbentuk manusia." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dan diantara tanda-tanda bidadari yang ada pada dirinya adalah bahwa dia tidak pernah melihat darah yang keluar dari rahim. Demikianlah Fathimah ra, ia suci dari haid dan nifas seperti yang disepakati oleh kaum muslimin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Yang menjadi pertanyaan, apakah seorang anak yang lahir dari perkawinan antara syarifah dengan lelaki yang bukan sayyid mendapat keutamaan dan kemuliaan sebagai ahlul bait? Jawabnya sangat jelas, bahwa anak tersebut tidak mendapatkan keutamaan dan kemuliaan sebagai ahlul bait dan keistimewaannya sebagaimana yang disebutkan dalam alquran dan hadits, disebabkan anak yang mereka lahirkan tidak tergolong ahlul bait (keturunan) nabi, melalui puterinya Siti Fathimah ra dan kedua puteranya Al-Hasan dan Al- Husein. Rasulullah saw mengkhususkan pengelompokkan Al-Hasan dan Al-Husein sebagai keturunan beliau, sedangkan dua orang saudari perempuan mereka (Zainab dan Ummu Kulsum) dikecualikan dari pengelompokkan nasab tersebut di atas, karena anak-anak dari dua orang puteri Siti Fathimah itu bernasab kepada ayahnya masing-masing yang bukan dari ahlul bait Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berdasarkan nash-nash tersebut dan ijma ulama, maka ditetapkan bahwa anak yang dilahirkan oleh seorang syarifah (wanita keturunan ahlul bait Rasulullah saw dari puterinya Siti Fathimah serta puteranya Al-Hasan dan Al-Husein)&lt;b&gt; &lt;i&gt;tidak dapat disebut sayyid atau syarif jika ayahnya bukan seorang sayyid atau syarif.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-weight: bold; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait Oleh Aidarus Alwee Almashoor&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-8728980235712578742?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/8728980235712578742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/8728980235712578742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2011/01/bunga-rampai-keutamaan-dzat-ahlul-bait_1034.html' title='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Kafa&apos;ah Syarifah'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-1524031619474307184</id><published>2011-01-06T23:22:00.005-08:00</published><updated>2011-01-07T00:14:54.071-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait'/><title type='text'>Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Zakat, Halal Atau Haram?</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;ZAKAT, HALAL ATAU HARAM?&lt;br /&gt;Upaya Menjaga Kesucian Dzat Ahlul Bait saw&lt;br /&gt;Proses Penciptaan dzat Ahlul Bait Nabi saw&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="01"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;1. Makna Zakat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Arti kata zakat menurut bahasa adalah tumbuh. Di dalam syariat, zakat ialah sedekah wajib dari sebagian harta. Sebab dengan mengeluarkan zakat maka pelakunya akan tumbuh (mendapat kedudukan tinggi) di sisi Allah swt dan menjadi orang yang suci dan disucikan. Makna yang demikian ini diisyaratkan oleh firman Allah swt dalam surah at-Taubah ayat 104:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَ تُزَكِّهِمْ بِهَا&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Ambillah sedekah dari harta mereka agar menyucikan dan membersihkan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Firman Allah swt dalam surah al-Hajj ayat 41:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;الَّذِينَ اِنْمَّكَّنَّهُمْ فىِالأَرْضِ اَقَامُوا الصَّلوةَ وَاتَوُا الزَّكوةَ...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: (Yang dinamakan orang mu'min ialah) orang-orang yang bila Kami tempatkan di bumi, maka mereka mengerjakan sholat dan mengeluarkan zakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Rasulullah saw bersabda: "Tiga macam, yang karenanya saya bersumpah menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi, yaitu: harta tidak berkurang karena disedekahkan, tidaklah teraniaya hamba Allah yang bersabar, kecuali tambah kemuliaannya di akhirat, dan Allah tidak membukakan suatu pintu tempat meminta, kecuali dibukakan-Nya pula pintu kefakiran."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bila orang yang mengeluarkan zakat memperhatikan bagaimana gembiranya orang yang menerima zakat, maka ia akan mempunyai hati yang halus, bagaikan seorang gadis yang baru menyiram bunganya yang sedang layu, maka bunga tersebut segar kembali. Sebenarnya bila Allah swt membukakan pintu pahala bagi orang kaya, maka dijadikan-Nya orang-orang yang meminta kepadanya, bila semua manusia kaya, maka si kaya tidak akan dapat menambah pahalanya. Kepada siapa mereka akan memberikan hartanya. Semua itu merupakan kejadian yang harus diambil hikmahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Anas menceritakan, bahwa seorang laki-laki dari suku Tamim datang dan mengatakan kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini mempunyai kekayaan yang banyak, mempunyai keluarga dan banyak teman yang menjadi tamu. Bagaimana seharusnya saya mengeluarkan zakat saya? Rasulullah saw menjawab: "Keluarkan zakat itu dari harta milikmu sendiri, karena zakatnya itu bagaikan pencuci yang mensucikan kamu, menghubungkan tali silaturahmi kepada kerabatmu, di samping itu kamu juga mengakui adanya hak fakir miskin, tetangga dan orang yang meminta-minta". Selanjutnya Rasulullah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;من ادّى زكاة ماله ذهب عنه شرّه&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Siapa saja yang telah membayarkan zakat hartanya, maka telah dilenyapkan daripadanya hal-hal yang jahat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="02"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;2. Pendapat ulama tentang Ghanimah dan Fa'i.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berdasarkan sumber hukum, semua keturunan ahlul bait Rasulullah saw termasuk Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutholib diharamkan menerima sedekah atau zakat dalam bentuk apapun juga. Mereka diberi hak untuk memperoleh bagian dari ghanimah atau dari harta kekayaan umum (baitul mal). Akan tetapi dalam zaman kita dewasa ini tidak ada lagi ghanimah dan tidak ada pula dana baitul mal sebagaimana yang dahulu pernah terjadi pada zaman pertumbuhan Islam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dengan terjadinya perkembangan yang demikian jauh dibanding dengan zaman Rasulullah saw, maka sebagai akibatnya para keturunan ahlul bait Rasulullah saw yang hidup kekurangan tidak dapat menerima tunjangan yang oleh syariat telah ditetapkan sebagai hak mereka. Lagi pula banyak sekali di antara mereka yang hidup bertebaran di negeri atau daerah-daerah terpencil. Dalam keadaan seperti ini apakah oleh syariat mereka diperkenankan menerima sedekah atau zakat dari orang-orang kaya setempat untuk meringankan beban hidup mereka sehari-hari? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Untuk menjawab masalah ini, dipandang perlu kita mengetahui dalil-dalil tentang hal tersebut, baik yang diambil dari alquran, hadits maupun ijtihad para ulama. Mudah-mudahan uraian ini dapat membantu menghantarkan dalam upaya membahas masalah halal atau tidaknya keluarga Rasulullah saw menerima sedekat/zakat, dan dengan membaca uraian ini diharapkan pula dapat menghasilkan jawaban yang menghapus keragu-raguan selama ini di antara sebagian keturunan Rasulullah saw tentang boleh atau tidaknya mereka menerima sedekah/zakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;وَاعْلَمُوْا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَ لُلْرُسُولِ وَ لِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang (ghanimah), maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam kitab tafsir &lt;i&gt;Fath al-Qadir &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; Ibnu Katsir &lt;/i&gt;disebutkan pendapat yang mengatakan bahwa khumus adalah untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil. Selain itu disebutkan pula pendapat yang mengatakan bahwa khumus tersebut dibagi enam, dan bagian yang keenam untuk Ka'bah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Perbedaan pendapat terjadi pula atas bagian rasul dan kerabat setelah rasul wafat, ada yang mengatakan bagian rasul untuk khalifahnya, pendapat lain mengatakan bagian tersebut tetap untuk kerabat nabi saw, pendapat lain mengatakan bagian kerabat nabi diperuntukkan kerabat khalifah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Majma' al-Bayan &lt;/i&gt;disebutkan bahwa khumus merupakan hak dari keluarga Rasulullah, yaitu anak-anak yatim keluarga Muhammad, orang-orang miskin dari mereka, dan ibnu sabil dari kalangan mereka. Hal tersebut sesuai dengan yang diriwayatkan oleh al-Thabari dari Zainal Abidin Ali bin Husin, sesungguhnya khumus adalah hak kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Allah berfirman: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Yang dimaksud dengan ayat di atas adalah anak-anak yatim kami, orang-orang miskin dan ibnu sabil dari kalangan kami. Hal itu disebabkan mereka telah diharamkan menerima sedekah yang merupakan daki/kotoran manusia, sebagai gantinya yaitu khumus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Syafii dan Hambali: "Harta rampasan perang itu, yaitu seperlima (khumus) dibagi ke dalam lima bagian. Satu bagian adalah untuk rasul, dan dipergunakan untuk kemaslahatan dan perbaikan umat Islam. Dan satu bagian diberikan untuk kerabat (keluarga), yaitu keluarga dari keturunan Bani Hasyim, baik yang kaya maupun fakir, tak ada bedanya. Dan tiga bagian lainnya dikeluarkan untuk anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, baik mereka dari keturunan Bani Hasyim maupun bukan."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Hanafi: "Bagian untuk Rasulullah telah gugur dengan wafatnya. Kalau para kerabat (famili), mereka seperti yang lain dari kalangan orang-orang fakir. Mereka diberi karena kefakiran mereka, bukan karena mereka menjadi kerabat (famili) Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Maliki: "Masalah khumus (seperlima) ini kembali atau diserahkan kepada imam (pemimpin) agar dipergunakan untuk kemaslahatan umat."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="03"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;3. Siapa keluarga (آل) Muhammad saw?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berkata Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya &lt;i&gt;Fath al-Bari&lt;/i&gt;, dan al-Syaukani dalam kitabnya &lt;i&gt;Nail-al-Authar&lt;/i&gt; mengenai makna keluarga (آل ) Muhammad saw. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna keluarga (آل ) Muhammad saw, sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pendapat Imam Syafii, Ahmad, Abu Tsaur, Mujahid, Qatadah, Ibnu Juraij dan Muslim bin Kholid: ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan (آل ) Muhammad saw adalah Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Hal itu dikarenakan Bani Mutholib dan Bani Hasyim berserikat dalam bagian dzawil qurba, dan Nabi saw tidak memberi bagian tersebut kepada siapapun dari suku Quraisy, selain kepada mereka. Pemberian itu adalah sebagai ganti, karena mereka diharamkan untuk menerima sedekah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jubair bin Math'am:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;قال: مشيت انا و عثمان بن عفان الى النبي صلى الله عليه وسلم فقلنا: يا رسول الله أعطيت بني المطلب من حمس خيبر وتركتنا ونحن وهم بمنزلة واحدة !فقال رسول الله عليه وسلم انما بنو المطلب و بنو هاشم شيئ واحد&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: "Saya berjalan bersama Usman bin Affan ke tempat Nabi saw, lalu kami berkata ‘Wahai Rasulullah saw, engkau telah memberi Bani Mutholib seperlima bagian dari harta rampasan Khaibar dan engkau tinggalkan kami, padahal kami dan mereka sama. Lalu Rasulullah bersabda: Bani Mutholib dan Bani Hasyim adalah satu."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pendapat Abu Hanifah, Malik dan Hadawiyah: Mereka adalah Bani Hasyim saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dan yang dimaksud dengan Bani Hasyim adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far, keluarga Abbas dan keluarga Harits. Keluarga Abu Lahab tidak termasuk didalamnya, hal tersebut disebabkan tidak ada satupun keluarga Abu Lahab yang beragama Islam pada masa Rasulullah saw hidup. Akan tetapi dalam kitab &lt;i&gt;Jami' al-Ushul &lt;/i&gt;disebutkan bahwasanya anak Abu Lahab yang bernama Utbah dan Mu'tab masuk Islam ketika penaklukan kota Makkah, mereka meninggal dalam perang Hunain dan Thaif. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="04"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;4. Bolehkan Keluarga Rasulullah saw menerima sedekah?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;عن عبد المطلب بن ربيعة بن الحارث , قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الصدقة لا تنبغي لأل محمد, إنما هي أوساح الناس (رواه مسلم)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Dari Abdul Mutholib bin Rabi'ah bin Harits berkata, bersabda Rasulullah saw: Sesungguhnya sedekah tidak pantas (tidak halal) bagi keluarga Muhammad, karena sedekah itu adalah daki (kotoran) manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam suatu riwayat Muslim dari Abdul Mutholib, Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;وانها لا تحل لمحمد ولا لأل محمد (رواه مسلم)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi Nabi Muhammad dan bagi Keluarga Muhammad saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hadits tersebut memberikan pengertian bahwa lafadz لا تنبغي itu beliau maksudkan "tidak halal" yang berarti memberikan pengertian haram. Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haram sedekah bagi Nabi Muhammad dan keluarganya. Mengenai haramnya zakat bagi pribadi Nabi saw para ulama telah sepakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Abu Hurairah menceritakan, bahwa pernah Hasan bin Ali mengambil sebiji kurma dari hasil zakat, maka berkata Rasulullah kepadanya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;كخ كخ , ليطرحها , اما شعرت انّا لا نأ كل الصدقة&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Hai Hai! (maksudnya agar dibuang). Apakah kamu belum tahu, bahwa kita tidak boleh memakan hasil dari zakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Imam Ja'far al-Shaddiq pernah ditanya, apakah sedekah halal bagi Bani Hasyim. Beliau menjawab: "Sedekah wajib tidak halal bagi kami, adapun selainnya tidak apa-apa".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berkata Ibnu Qudamah: Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa sesungguhnya Bani Hasyim tidak dihalalkan untuk menerima sedekah wajib/zakat. Hal itu disebutkan dalam kitab &lt;i&gt;al-Ijma &lt;/i&gt;karangan Ibnu Ruslan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Abdullah bin Nuh menulis, menurut madzhab Syafii, dalam keadaan bagaimanapun juga mereka mutlak diharamkan menerima sedekah atau zakat. Akan tetapi sebagian ulama Syafiiyah membolehkan keluarga Nabi saw menerima sedekah atau zakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ibnu Jarir al-Thabari menukil akan kebolehan Bani Hasyim menerima sedekah dari Imam Hanafi, begitu pula dari Imam Malik dan sebagian ulama Syafiiyah. Menurut Abu Yusuf, sesungguhnya mereka dihalalkan menerima sedekah dari mereka untuk mereka bukan dari yang lainnya. Artinya keluarga Bani Hasyim dihalalkan menerima sedekah dari yang diberikan dari Bani Hasyim juga. Jika keluarga Bani Hasyim menerima sedekah dari bukan Bani Hasyim maka hal itu tidak dibolehkan. Begitu pula pendapat dari Zaid bin Ali, Abi Abbas dan Imamiyah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Ibnu Hajar al-Asqolani: Menurut ulama Malikiyah terdapat empat pendapat: membolehkan, melarang, membolehkan menerima sedekah sunnah dan melarang menerima sedekah wajib (zakat), membolehkan menerima sedekah wajib dan melarang menerima sedekah sunnah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Adapun dalil yang menghalalkan pemberian sedekah dari Bani Hasyim ke Bani Hasyim, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hakim: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;ان العباس بن عبد المطلب قال: قلت يا رسول الله إنك حرمت علينا صدقاة الناس ، هل تحل صدقاة بعضنا لبعض ؟ قال: نعم &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Abbas bin Abdul Mutholib berkata: "Saya berkata kepada Rasulullah saw; Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengharamkan sedekah manusia untuk kami, apakah engkau menghalalkan sedekah yang diberikan dari kami untuk kami? Rasulullah berkata: Ya." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam kitab fiqih Hanafiah yang berjudul &lt;i&gt;Majma' al-Anhar&lt;/i&gt;, berkata Imam Hanafi: Tidak mengapa mencampuradukan semuanya (sedekah wajib dan sedekah sunnah) dan memberikannya kepada mereka. Di lain riwayat Imam Hanafi berkata: Boleh memberikan zakat kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sedangkan Imam Muhammad mengatakan mereka boleh menerima sedekah, dikarenakan pengharaman untuk menerima sedekah kepada mereka hanya berlaku pada zaman Rasulullah masih hidup. Dan dalam kitab &lt;i&gt;Dar al-Muntaqo&lt;/i&gt;, beliau berpendapat bahwa Bani Hasyim boleh menerima zakat pada zaman setelah Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: Bani Hasyim boleh menerima zakat yang dikeluarkan oleh Bani Hasyim. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Imam Ja'far al-Shaddiq berkata: "Sesungguhnya Allah swt telah menjadikan &lt;i&gt;fuqara &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;aghniya &lt;/i&gt;(orang-orang kaya) bersekutu di dalam memiliki harta kekayaan, maka tidak dibenarkan mereka (orang-orang kaya) membelanjakan harta kepada selain sekutunya (para fuqara)." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Muhammad Abduh Yamani berkata: Jika keluarga Rasul saw tidak boleh menerima zakat dan dengan menerima sedekah atau zakat mereka berdosa, sebenarnya &lt;b&gt;yang berdosa itu adalah orang-orang kaya &lt;/b&gt;yang tidak peduli akan hak-hak keluarga Rasul saw yang telah disebutkan dalam alquran dan ditetapkan dalam hadits-haditsnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;انّ الله فرض على أغنياء المسلمين فى اموالهم بقدرالّذي يسع فقراءهم, ولن يّجهد الفقراء اذا جاعوا او غروا الاّبما يصنع اغنياؤهم, الا وانّ الله يحاسبهم حساباشديد, ويعذّبهم عذابا اليما&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Sesungguhnya Allah swt mewajibkan atas semua orang kaya muslimin mengenai harta mereka agar mengeluarkan zakat sekedar untuk melapangi orang-orang fakir mereka, sehingga orang fakir tidak kelaparan atau kesulitan, kecuali karena sikap orang-orang kaya mereka (tidak mau mengeluarkan zakat). Ketahuilah, bahwa Allah akan memperhitungkan harta mereka itu dengan ketat (di akhirat) dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Imam Ja'far al-Shaddiq berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;"Sesungguhnya Allah swt telah mencukupi bagi fukara' harta yang dapat mencukupi hidup mereka di dalam harta orang-orang kaya. Jika Allah swt tahu hal itu tidak akan mencukupi, tentu Allah swt akan menambahnya. Mereka menjadi fukara' bukan karena tidak ada bagian dari Allah swt untuk mereka, tetapi karena orang-orang (kaya) itu tidak mau memberikan hak para fukara' tersebut. Seandainya setiap orang (kaya) menunaikan kewajiban mereka, maka mereka (para fukara') akan hidup dengan baik".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berdasarkan riwayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa kefakiran datangnya dari bumi, bukan dari langit, dari kezaliman manusia (orang kaya yang tidak mau mengeluarkan zakat) yang satu terhadap yang lain (orang miskin), bukan dari Allah yang maha agung dan bijaksana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Terhadap orang kaya yang enggan mengeluarkan zakat, Allah swt berfirman dalam surat al-Taubah ayat 34-35 yang artinya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dan orang-orang yang menyimpan (harta) emas dan perak, dan tidak membelanjakannya untuk kepentingan agama Allah , maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. Pada hari itu dipanaskan semua (harta) emas dan peraknya itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.' &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengenai orang-orang yang merasa berat untuk mengeluarkan hartanya dijalan Allah swt (berzakat), Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Siapa yang telah dikarunia Allah swt harta, tetapi tidak dibayarkan zakatnya, maka hartanya itu nanti akan dirupakan pada hari kiamat sebagai seekor ular yang siap melahap orang tersebut, dengan perkataan ancaman: ‘Sayalah simpanan dan hartamu dahulu.'&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Salah satu nasehat Nabi saw yang disampaikan kepada kaum Muhajirin, bahwa kalau tidaklah karena rasa belas kasihan Allah swt kepada binatang, maka Allah swt tidak akan menurunkan hujan yang disebabkan keengganan orang-orang kaya dalam mengeluarkan harta. Jadi menurut hadits ini orang-orang kaya yang tidak mau mengeluarkan zakat mempunyai saham atas kekeringan yang terjadi di seluruh dunia dan Indonesia khususnya. Sadar dan pikirkanlah wahai para orang kaya! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="05"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;5. Bolehkan keluarga Rasulullah menerima sedekah, setelah khumus tidak ada lagi?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Imam Ja'far al-Shaddiq berkata: "Ketika Allah saw mengharamkan sedekah bagi kami maka Allah swt menurunkan khumus untuk kami. Sedekah haram bagi kami, tetapi khumus adalah hak kami."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut sebagian ulama Malikiah: Dimungkinkan untuk memberi hak Bani Hasyim dari baitul mal, dimana jika tidak diberikan akan menjadikan mereka orang-orang yang faqir. Dan memberikan hak Bani Hasyim dari baitul mal lebih utama daripada memberikannya kepada selain mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagian lagi berpendapat bahwa kebolehan pemberian tersebut dikarenakan darurat, yaitu sekedar diperbolehkannya manusia memakan bangkai dalam keadaan darurat. Artinya, mereka tetap diharamkan untuk menerima sedekah, kecuali dalam keadaan darurat maka mereka boleh menerimanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berkata Abu Said al-Asthakhri al-Syafii: Sesungguhnya ketiadaan hak mereka dari khumus, membolehkan pemberian sedekah kepada mereka, dikarenakan mereka diharamkan menerima zakat dan hak mereka ada pada khums al-khumus. Jika tidak ada yang diberikan kepada mereka dari khumus, maka wajib memberikan zakat kepada mereka. Berkata al-Nawawi dari al-Rafii: Sesungguhnya Imam al-Ghazali memberikan fatwa yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ibnu Taimiyah dan al-Qadhi Ya'kub al-Hanabilah menjelaskan kebolehan mengambil dari zakat manusia, jika tidak ada khumus ghanimah dan fa'i. Sesungguhnya hal tersebut untuk memenuhi hajat yang darurat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Akan tetapi jumhur ulama masih belum bersepakat mengenai kebolehan pemberian zakat kepada Bani Hasyim walaupun tidak ada khumus. Mereka berdalil bahwa zakat diharamkan untuk mereka karena kemuliaan mereka yang merupakan kemuliaan Rasulullah saw. Pengharaman tersebut berlaku walaupun tidak ada khumus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagaimana kita membaca bahwa pemberian zakat untuk keluarga dekat Rasulullah dalam zaman sekarang berdasarkan pembahasan terdahulu, diperbolehkan. Hal itu disebabkan tidak ada lagi hak mereka dari seperlima bagian ghanimah dan fa'i, dimana hak tersebut selalu diberikan pada zaman Rasulullah saw sebagai pengganti dari Allah dikarenakan mereka diharamkan untuk menerima sedekah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bagian dzawil qurba telah disebutkan dalam alquran:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;وَاعْلَمُوْا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَ لُلْرُسُولِ وَ لِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang (ghanimah), maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dan firman Allah swt: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;مَّا أَفَاءَ الله عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلّهِ وَ لِلْرُّسُولِ وَ لِذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَبِيْلِ , كَيْلاَ يَكُونَ دُولَةَ بَيْنَ الأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Apa saja harta rampasan (fa'i) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari kota-kota maka adalah untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut pendapat Yusuf al-Qardhawi, yang mengatakan bahwa zakat diharamkan atas mereka dikarenakan kemuliaan mereka, tidaklah kuat, hal itu terutama disebabkan pemberian zakat kepada mereka untuk membantu mereka. Sedangkan gugurnya pengganti dari bagian dzawil qurba dikarenakan beberapa alasan, yaitu ketiadaan baitul mal, keputusan hakim yang mengharamkan pemberian zakat kepada mereka atau diperbolehkan karena alasan darurat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Banyak ulama yang berpendapat bahwa bagian dzawil qurba dari baitul mal gugur setelah wafatnya Rasulullah saw, begitu pula yang dilakukan pada zaman khalifahnya, dimana bagian dzawil qurba tersebut dipergunakan untuk berjihad menyebarkan agama Islam. selanjutnya para ulama membolehkan kerabat rasul menerima zakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Selanjutnya Yusuf al-Qardhawi berkata: Mengenai pendapat yang terdapat dalam beberapa hadits yang dijadikan dalil oleh jumhur ulama akan keharaman zakat untuk Bani Hasyim dan Bani Mutholib hingga hari kiamat, bahkan menjadikan maula Bani Hasyim sama kedudukannya dengan mereka dalam hukum adalah pendapat yang tidak jelas. Yang benar adalah dalam mengeluarkan pendapat terhadap hadits-hadits tersebut harus mengesampingkan rasa ashobiyah dan mengikutinya tanpa memikirkannya terlebih dahulu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menurut Yusuf al-Qardhawi, harus ada penjelasan terhadap hadits-hadits Rasulullah mengenai keharaman keluarganya dalam menerima sedekah. Menurutnya hadits yang berbunyi: إن الصدقة لا تنبغي لا ل محمد menunjukkan bahwa perbuatan itu dibenci dan diusahakan untuk tidak dilakukan. Menurutnya, banyak ulama madzhab yang membolehkan keluarga Rasulullah saw menerima zakat. Hal itu disebabkan Bani Hasyim yang menjadi Amil zakat berhak menerima bagiannya dalam zakat tersebut. Sesungguhnya keluarga Rasulullah saw baik yang dekat maupun yang jauh dalam hal keharaman mereka menerima sedekah bukanlah dikarenakan kemuliaan nasab, tetapi untuk memberikan contoh kepada manusia bahwa mereka bukanlah orang yang tamak. Jika hal itu disebabkan karena kemuliaan nasab, maka maula mereka tidak akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang diharamkan menerima sedekah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Seorang amil hendaknya bukan dari kalangan Bani Hasyim, sebab zakat dari selain Bani Hasyim tidak halal bagi Bani Hasyim. Imam Ja'far al-Shaddiq berkata: Orang-orang dari Bani Hasyim datang kepada Rasulullah saw meminta kepada beliau agar mempekerjakan mereka pada zakat ternak. Mereka berkata, ‘agar kami mendapat bagian yang Allah tentukan bagi para amil. Kami lebih berhak untuk itu'. Maka Rasulullah saw berkata: Wahai Bani Abdul Muthalib ! sesungguhnya zakat tidaklah halal bagiku dan tidak juga bagi kalian. Akan tetapi aku telah dijanjikan untuk memberi syafat'. Dengan demikian, zakat tersebut tidak halal bagi mereka walaupun sebagai imbalan atas jerih payah mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hasan bin Ali berkaitan dengan sabda Rasulullah saw: لا تحل لنا الصدقة, hal tersebut bukan saja ditujukan kepada keluarga Rasulullah saw tetapi juga kepada para pemimpin kaum muslimin saat itu, sebagaimana diriwayatkan bahwasanya Umar bin Khotob minum susu dari pemberian sedekah, maka ia memuntahkan kembali susu tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Suatu saat Umar bin Khottob diberi sesuatu, beliau menolaknya, akan tetapi Rasulullah bersabda: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;يا عمر إذا اتاك الله شيئا من هذا المال من غير مسألة فخذه فإن كنت محتاجا إليه فتموّله وان لم تكن محتاجا إليه فاصرفه إلى غيرك&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Wahai Umar, jika Allah memberimu harta padahal kamu tidak memintanya, maka terimalah. Jika kamu membutuhkannya, gunakanlah. Jika kamu tidak membutuhkannya, berikanlah kepada orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengenai etika pemberian sedekah/zakat kepada yang berhak, Imam Muhammad al-Bagir pernah ditanya bahwa salah satu orang merasa malu untuk menerima zakat yang menjadi haknya. Beliau menjawab: "Berilah, dan tidak usaha kau sebutkan bahwa itu adalah zakat, dan janganlah kau menghinakan seorang muslim." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Habib Alwi bin Tohir Al-Haddad dalam kitab &lt;i&gt;Al-Qaul al-Fashlu &lt;/i&gt;berpendapat bahwa keharaman menerima zakat bagi keluarga Rasulullah saw disebabkan untuk membersihkan kedudukan mereka dan mensucikan dzat mereka sebagai ahlul bait, dikarena zakat merupakan kotoran manusia yang dikeluarkan untuk membersihkan harta mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a name="06"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;6. Batas yang diperbolehkan seorang menerima zakat atau sedekah!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Para ulama berbeda pendapat mengenai batas kecukupan yang memperbolehkan seseorang menerima zakat atau sedekah, diantaranya adalah cukup untuk makan sehari semalam. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin al-Hanzhaliyyah, bahwa: "Rasulullah saw melarang meminta-minta bagi siapa yang berkecukupan". Ketika ditanya tentang batas kecukupan itu, beliau menjawab: "Yang cukup untuk makan siang serta makan malamnya".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang mustahiq boleh mengambil dari uang zakat sebatas yang mencapai nisab zakat. Hal ini mengingat bahwa Allah swt tidak mewajibkan zakat kecuali atas diri orang-orang yang berkecukupan, yakni yang memiliki lebih dari nisab. Karena itu ia boleh mengambil untuk dirinya sendiri dan untuk setiap orang anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, sampai sebatas nisab untuk masing-masing orang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Imam Ja'far al-Shaddiq berkata: "Zakat haram hukumnya bagi orang yang mempunyai biaya hidup satu tahun, dan orang yang memiliki biaya hidup setahun ini wajib mengeluarkan zakat fithrah". Beliau ditanya tentang seorang yang mempunyai biaya makan untuk sehari, apakah dia boleh menerima zakat? Beliau menjawab: "Orang tersebut boleh mengambil dari zakat, sekedar yang dapat mencukupi hidupnya untuk satu tahun, walaupun saat itu dia mempunyai biaya hidup untuk satu bulan, sebab zakat ialah dari tahun ke tahun".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Adapun mengenai batas sampai ‘kecukupan untuk makanan sehari semalam' adalah berkaitan dengan tidak disukainya perbuatan meminta-minta atau kebiasaan mengemis dari pintu ke pintu. Yakni, orang yang masih memiliki makanan untuk sehari semalam, hendaknya tidak meminta-minta dengan mendatangi pintu-pintu rumah orang lain. Sebab yang demikian itu adalah perbuatan yang sangat tidak disukai dalam agama. Ibnu Mas'ud meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;من سأل وله مال جاء يوم القيامة وفىوجه خموش&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Barangsiapa meminta-minta sedangkan ia memiliki harta yang mencukupi, kelak pada hari kiamat ia akan datang dengan wajah yang penuh noda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dari Abu Daud dan Ibnu Hibban dalam sahihnya, Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;من سأل وله ما يغنيه فانّما يستكثر من النار&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Barangsiapa meminta sedangkan ia memiliki apa yang mencukupi, Maka sesungguhnya ia telah memperbanyak bara api jahanam bagi dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;لا يزال الرجل يسأل الناس حتّى يأتي يوم القيامة وليس في وجهه مزعة لحم&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Orang yang senantiasa minta-minta pada orang-orang hingga hari kiyamat, maka pada mukanya tidak ada daging sekerat pun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab, Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;المسألة كدّ يكدّ بها الرّجل وجهه&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Minta-minta itu suatu garutan seseorang terhadap mukanya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Diperbolehkan meminta-minta, jika seseorang dalam keadaan sangat miskin, sakit keras, dan hutangnya mencekik, sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Qubaishoh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;لا يحلّ السؤال الاّ لثلاثة ذي فقر مدقع او دم موجّع او غرم مغظع&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artiya: Tidak halal (haram) meminta-minta kecuali karena 3 (tiga) sebab, yaitu: orang yang sangat miskin, orang yang sakit keras dan orang yang mempunyai hutang mencekik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kebanyakan para fukaha mengatakan bahwa seorang yang mampu bekerja mencari uang tidak boleh diberi zakat, sebab dia dianggap kaya. Imam Muhammad al-Bagir berkata: "Sedekah tidak halal untuk orang yang mampu bekerja, dan tidak juga untuk orang yang sehat jasmani yang mampu menanggung jerih payah kerja".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Di kalangan ulama Syafiiyah terdapat dua macam peminta-minta, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Peminta-minta yang masih mampu bekerja mencari nafkah.      Orang semacam ini haram meminta-minta. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Peminta-minta yang makruh (dibenci), yaitu yang      memenuhi tiga syarat: bahwa dia tidak menghina dirinya dengan      meminta-minta, dia tidak merengek-rengek/memaksa dalam meminta, dia tidak      menyakitkan hati orang yang dimintai. Jika dari ketiga syarat ini tidak      terpenuhi, maka ulama Syafiiyah sepakat akan keharamannya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sebagai penutup pembahasan tentang boleh atau tidaknya menerima zakat, semua tergantung kepada penerima zakat itu sendiri, karena yang dapat menentukan dia boleh atau tidak menerima zakat hanyalah dirinya sendiri, sebagaimana hadits Rasulullah saw:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;استفت قلبك وإن أفتوك وأفتوك&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Mintalah fatwa dari hati nuranimu sendiri, apapun yang difatwakan kepadamu oleh orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;اليد العليا خير من اليد السّفلى … ومن يستعفف يعفّه الله ومن يستغن يغنهالله.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Artinya: Tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah (penerima). Barangsiapa yang mampu menjaga diri (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaga dirinya, dan barangsiapa yang merasa cukup (puas dengan apa yang ada tanpa meminta-minta), niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; font-weight: bold; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait Oleh Aidarus Alwee Almashoor&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-1524031619474307184?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/1524031619474307184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/1524031619474307184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2011/01/bunga-rampai-keutamaan-dzat-ahlul-bait_3065.html' title='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Zakat, Halal Atau Haram?'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-3951484203664839100</id><published>2011-01-06T23:22:00.003-08:00</published><updated>2011-01-06T23:45:51.995-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait'/><title type='text'>Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Nur Muhammad</title><content type='html'>&lt;h6 style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;NUR MUHAMMAD&lt;br /&gt;Proses Penciptaan dzat&lt;br /&gt;Ahlul Bait Nabi saw&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;1. Pengertian Nur.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut bahasa Arab arti nur adalah cahaya, yaitu sesuatu  yang menyinari suatu objek, sehingga objek itu menjadi jelas dan terang. Menurut  Ibrahim Anis (seorang ahli bahasa) dalam &lt;i&gt;al-Mu'jam al-Wasit&lt;/i&gt;, nur  adalah cahaya yang menyebabkan mata dapat melihat. Sementara itu, Muhammad  Mahmud Hijazi, seorang ahli tasawuf mengatakan bahwa nur adalah cahaya yang  tertangkap oleh indera, dan dengannya mata dapat melihat sesuatu. Selanjutnya  pengertian ini berkembang dengan makna petunjuk dan nalar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut Tabataba'i, penulis tafsir &lt;i&gt;al-Mizan&lt;/i&gt;,  pengertian awal dari kata 'nur' itu adalah sesuatu yang tampak dengan  sendirinya, dan juga menyebabkan lainnya yang bersifat sensual (naluriah,  implisit) menjadi tampak. Kemudian arti ini berkembang lebih luas, yaitu setiap  indera dipandang sebagai nur atau mempunyai nur, dan dengannya hal-hal yang  sensual dapat terlihat. Selanjutnya, pengertian ini berkembang lagi hingga  mencakup yang nonsensual, termasuk akal juga dikatakan sebagai nur karena ia  dapat menyingkap hal-hal yang abstrak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Sina, ketika ditanya tentang pengertian nur pada surah &lt;i&gt;al-Nur &lt;/i&gt;ayat 35, menjawab bahwa kata 'nur' mengandung dua makna, yang &lt;i&gt; esensial&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;metaforikal&lt;/i&gt;. Yang esensial berarti kesempurnaan  kebeningan karena nur itu pada dirinya bersifat bening. Adapun makna metaforikal  harus dipahami dalam dua cara, yaitu sebagai sesuatu yang bersifat baik, atau  sebagai sebab yang mengarahkan kepada baik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Isfahani, seorang ahli tafsir, membagi pengertian 'nur'  atas arti material (duniawi) dan arti spiritual (ukhrawi). Nur dalam arti  material adalah cahaya yang dapat dilihat/ditangkap di dunia, dan arti ini  dibedakan menjadi dua, yaitu arti abstrak (ma'qul) yakni cahaya yang hanya dapat  ditangkap oleh mata hati (bashirah), dan arti konkret atau sensual (mahsus)  yakni cahaya yang dapat ditangkap oleh mata kepala. Adapun nur dalam arti  spiritual ialah cahaya yang akan dilihat di akhirat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam alquran, kata 'nur' disebutkan 43 kali dan paling tidak  memiliki arti dalam tiga kemungkinan, pertama berarti cahaya itu sendiri,  misalnya pada surah &lt;i&gt;Yunus &lt;/i&gt;ayat 5. Kedua berarti petunjuk, misalnya pada  surah &lt;i&gt;al-Hadid &lt;/i&gt;ayat 9. Ketiga berarti alquran, misalnya pada surat &lt;i&gt; al-Taghabun &lt;/i&gt;ayat 8. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Makna dasar kata 'nur' itu adalah petunjuk, karena nur dalam  arti cahaya itu sendiri, petunjuk, ataupun alquran berfungsi sebagai petunjuk  bagi orang yang tersesat jalan atau orang yang sedang mencari kebenaran. Maka  Nabi Muhammad saw disebut juga nur, karena beliau diyakini sebagai orang yang  membawa petunjuk atau menunjukkan jalan yang benar. Hal ini disebutkan pula  dalam kamus &lt;i&gt;al-Munawwir&lt;/i&gt; yang menjelaskan bahwa arti kata nur itu adalah  Rasulullah saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Ghazali dalam kitab &lt;i&gt;Misykat al-Anwar &lt;/i&gt;mengatakan  bahwa kedudukan alquran bagi mata akal sama seperti kedudukan cahaya matahari  bagi mata lahiriah. Sebab hanya dengan itulah sempurna penglihatan. Dengan itu  pula alquran lebih patut menyandang nama nur sebagaimana sinar matahari biasa  dinamakan cahaya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Ghazali menjelaskan bahwa kata nur atau cahaya memiliki  empat pengertian. Pertama, cahaya yang mewujudkan sesuatu sehingga dapat  dijangkau oleh penglihatan sedang nur itu sendiri tidak dapat melihat diri,  misalnya cahaya matahari. Kedua, cahaya penglihatan, ia menampakkan segala  sesuatu yang dapat dijangkau oleh penglihatan dan ia sendiri dapat melihatnya.  Nur ini lebih mulia dari yang pertama. Ketiga, cahaya aqli yaitu yang  mewujudnyatakan segala sesuatu yang rasional yang tersembunyi bagi penglihatan  pada kegelapan kenyataan, dan nur ini dapat menjangkau dan melihatnya. Keempat,  nur &lt;i&gt;al-Haq &lt;/i&gt;(Allah swt) yang mewujudnyatakan segala sesuatu yang tidak  tampak dan tersembunyi bagi penglihatan pada ketidakadaan, seperti malaikat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut al-Ghazali, hakikat nur yang sebenarnya hanyalah  Allah swt, sedang sebutan cahaya bagi selain-Nya hanyalah kiasan, tak ada wujud  sebenarnya. Karena itu al-Ghazali membedakan makna nur di kalangan orang awam  dan di kalangan orang khusus.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nur dalam pengertian orang awam menunjuk kepada sesuatu yang  nampak. Ketampakan itu adalah sesuatu yang nisbi. Ada kalanya sesuatu tampak  dengan pasti bagi suatu pandangan di saat ia tersembunyi bagi pandangan lainnya.  Cahaya adalah sebutan sesuatu yang tampak dengan sendirinya ataupun yang membuat  tampak benda lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nur dalam pengertian orang khusus adalah 'jiwa yang melihat'.  Rahasia cahaya adalah ketampakannya bagi suatu daya cerap. Akan tetapi  pencerapan bergantung, selain pada adanya cahaya, juga pada adanya mata yang  memiliki daya lihat. Meskipun cahaya disebut sebagai sesuatu yang tampak dan  menampakkan sesuatu, namun tidak ada suatu cahaya yang tampak dan menampakkan  sesuatu bagi orang buta. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa 'jiwa yang  melihat' sama dengan cahaya yang tampak dalam kedudukannya sebagai unsur yang  harus ada bagi pencerapan. Bahkan, berdasarkan hal ini, 'jiwa yang melihat'  lebih tinggi kedudukannya karena memiliki daya cerap dan dengannya pula suatu  pencerapan dapat terwujud.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain kata nur, perlu pula dikemukakan pengertian kata  Muhammad. Muhammad yang dimaksud dalam tyulisan ini adalah Nabi Muhammad saw. Di  kalangan sufi, pribadi Nabi Muhammad mempunyai penilaian tersendiri. Al-Tustury  misalnya, berpendapat bahwa Nabi Muhammad adalah merupakan sumber dasar  terciptanya tanah yang mulia yang merupakan sumber kejadian. Nabi Muhammad  adalah azali karena ia merupakan bahagian dari Allah swt yakni dari nur-Nya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pendapat lain dikemukakan oleh Amin al-Qurdy, yang mengatakan bahwa Muhammad  adalah manusia '&lt;i&gt;Ain al-Wujud&lt;/i&gt;' yang wujudnya merupakan  sumber segala sesuatu sementara para nabi yang mendahuluinya adalah pengganti  dan pembantunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari beberapa keterangan di atas agaknya dapat dipahami bahwa  nur Muhammad disandarkan kepada Nabi Muhammad saw yang memiliki kemulian dan  keutamaan, baik dari segi jasmaniah maupun dari segi ruhaniah. Ibnu Khatib  mengatakan bahwa dengan Muhammad dan dari cahayanyalah maka bulan itu bercahaya  dengan sempurna, begitu pula matahari bersinar dengan perantaraan cahaya  Muhammad.&lt;/p&gt;  &lt;a name="02"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Konsep Nur Muhammad&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nur Muhammad dalam tasawuf merupakan makhluq yang pertama  sekali diciptakan oleh Allah swt dan setelah itu baru diciptakan alam yang  lainnya. Nur Muhammad sering juga disebut Hakikat Muhammad atau Ruh Muhammad.  Untuk pertama kalinya, konsep Nur Muhammad dibawa oleh seorang sufi bernama  al-Hallaj. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ensiklopedia Islam menyebutkan bahwa Nur Muhammad atau Cahaya  Muhammad, dalam filsafat tasawuf adalah paham bahwa yang pertama diciptakan  Allah swt adalah Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad inilah segala yang lain  diciptakan. Nur Muhammad terdapat bukan hanya dalam diri Muhammad saw, tetapi  juga dalam diri nabi-nabi yang lain. Nur Muhammad muncul pertama kali dalam diri  Adam, kemudian dalam diri nabi-nabi lain, tetapi belum mencapai kesempurnaan.  kesempurnaannya baru tercapai dalam diri Nabi Muhammad saw. Maka Nabi Muhammad  saw dalam istilah sufi adalah &lt;i&gt;al-Insan al-Kamil&lt;/i&gt;, manusia sempurna. Tidak  ada manusia lebih sempurna dan lebih mulia dari Nabi Muhammad saw. Gagasan Nur  Muhammad pertama kali dicetuskan oleh seorang tokoh sufi dari Iraq yang bernama  Sahal Abdullah al-Tusturi pada abad ke sembilan masehi. Selanjutnya dikembangkan  oleh al-Hallaj, Ibnu Arabi dan Abdul Karim al-Jilli.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gerhard Bowering dalam buku Dan Muhammad Adalah Utusan Allah,  dalam telaah mendasarnya tentang peranan Nabi saw dalam teologi al-Tusturi  menulis:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Allah, dalam keesaan-Nya yang mutlak dan realitas  transenden-Nya, ditegaskan oleh Tusturi sebagai misteri yang tak tertembus  dari cahaya Ilahi yang bagaimanapun juga mengungkapkan dirinya sendiri dalam  perwujudan pra keabadian dari 'persamaan cahaya-Nya' (&lt;i&gt;matsalu nurihi)&lt;/i&gt;,  yaitu 'persamaan cahaya Muhammad' (&lt;i&gt;Nur Muhammad)&lt;/i&gt;. Asal-usul Nur  Muhammad dalam pra keabadian dilukiskan sebagai suatu masa bercahaya dari  pemuliaan primordial di haribaan Allah yang mengambil bentuk suatu tiang  tembus cahaya (&lt;i&gt;amud&lt;/i&gt;), cahaya Ilahi dan membentuk Muhammad sebagai  ciptaan utama Allah. Dengan demikian, dalam menjelaskan tentang terminologi  ayat cahaya itu, Tustari berkata: Ketika Allah berkehendak untuk  menciptakan Muhammad, Dia memunculkan sebuah cahaya dari cahaya-Nya. Ketika  ia mencapai selubung keagungan (&lt;i&gt;hijab al-azhamah&lt;/i&gt;), ia membungkuk dan  bersujud di hadapan Allah. Allah menciptakan dari sujudnya itu sebuah tiang  yang besar bagaikan kaca kristal dari cahaya, yang dari luar maupun dari dalam  dapat ditembus pandang."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang menarik, Tusturi juga mengaitkan surat &lt;i&gt;al-Najm &lt;/i&gt; dengan cahaya Muhammad. Dia tidak menafsirkan surah ini dengan peristiwa  penglihatan permulaan Nabi atau perjalanannya ke langit, tetapi justru  menyatakan bahwa kata-kata '&lt;i&gt;Dan dia melihat-Nya lagi di waktu yang lain&lt;/i&gt;'  mengandung arti pada awal waktu, ketika tiang cahaya Muhammad berdiri di hadapan  Allah, jelasnya sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;'Sebelum dimulainya penciptaan selama sejuta tahun, dia  berdiri di hadapan-Nya untuk memuja-Nya, dengan keteguhan iman, dan  (kepadanya) diungkapkan misteri oleh misteri itu sendiri 'di pohon Sidrah di  Tapal Batas', yaitu pohon di mana pengetahuan setiap orang berakhir.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu, ketika penciptaan dimulai, Allah menciptakan Adam dari  cahaya Muhammad, sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;'Cahaya para nabi berasal darinya, dari cahaya Muhammad, dan cahaya kerajaan  langit, malakut, adalah dari cahayanya, dan cahaya dunia ini dan dunia yang akan  datang berasal dari cahayanya.' &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya Bowering melanjutkan penafsirannya atas doktrin  Tusturi:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;'Akhirnya ketika kemunculan para nabi dan alam raya  spiritual di dalam pra keabadian telah sempurna, Muhammad dibentuk tubuhnya,  dalam bentuk temporal dan teresterial, dari lempung Adam, yang telah diambil  dari tiang Nur Muhammad dalam pra keabadian. Dengan demikian, penciptaan cahaya  pra keabadian telah disempurnakan: manusia pertama itu dicetak dari cahaya  Muhammad yang telah terkristal dan mengambil sosok pribadi Adam."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seperti telah dikatakan oleh Ibnu Arabi tiga abad setelah  Tusturi, bahwa Nabi saw adalah seperti benih umat manusia. Dan para penyair tak  henti-hentinya melukiskan tentang peristiwa itu, yaitu bahwa Muhammad ternyata  ada lebih dahulu dibanding Adam dalam esensinya, meskipun secara lahiriah dia  adalah keturunannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Arabi berkata: 'Ketahuilah bahwa cahaya-cahaya alam  semesta ini, dari arsy, &lt;i&gt;farsy&lt;/i&gt; (hamparan), langit, bumi, surga, hijab,  hingga lebih atas lagi, atau dibawahnya, jika seluruhnya dikumpulkan, maka hanya  sepadan dengan sebagian cahaya Nabi saw. Seluruh cahaya Nabi saw, seandainya  diletakkan di arsy, maka arsy akan terbelah. Seandainya cahaya itu diletakkan di  atas tujuh puluh hijab, maka ia akan berserakan. Seandainya seluruh makhluq  dikumpulkan dan di atasnya diletakkan cahaya agung, niscaya akan berterbangan  dan jatuh.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Konsep Nur Muhammad berhubungan dengan pencapaian manusia  (sufi) pada derajat insan kamil (manusia sempurna), yaitu manusia yang sudah  mencapai tingkat tertinggi dari sifat kemanusiaannya atau manusia yang telah  memiliki Nur Muhammad, Hakikat Muhammad atau Ruh Muhammad tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut al-Jilli dalam kitabnya &lt;i&gt;Insan Kamil&lt;/i&gt;,  benda-benda yang diciptakan dari Nur Muhammad adalah benda-benda yang diciptakan  dari Nur Tuhan. Jadi dalam setiap benda terdapat Nur Muhammad, hanya yang  sempurna terdapat pada diri nabi-nabi, dan yang paling sempurna adalah pada diri  Nabi Muhammad saw. Nur Muhammad bukan Nabi Muhammad saw dan Nabi Muhammad saw  bukan Nur Muhammad. Tetapi Nur Muhammad mengambil bentuk pada diri Nabi Muhammad  saw. Oleh karena itu, meskipun Nabi Muhammad saw telah wafat, Nur Muhammad tetap  abadi dan dapat menampakkan diri pada seseorang yang masih hidup yang  dikehendakinya, seperti pada para sufi besar, terutama pada keluarga dan  keturunan Nabi Muhammad saw. &lt;/p&gt;  &lt;a name="03"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Nur Muhammad saw: Makhluq pertama yang diciptakan.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Banyak ulama, dalam kitab-kitab manaqib mereka menyebut kekhususan dan  keistimewaan junjungan kita Nabi Muhammad saw. Di antara kekhususan dan  keistimewaan yang mereka sebutkan antara lain adalah: 'Pertama kali makhluq  yang diciptakan oleh Allah swt adalah Nur Muhammad'. Di samping itu ada pula  ulama yang mengatakan: 'Alam wujud ini diciptakan Allah swt demi Rasulullah  saw'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai makhluq apakah yang pertama sekali  dijadikan Allah swt. Mereka berpendapat bahwa makhluq yang pertama kali  dijadikan Allah swt ialah 'Nur Muhammmad'. Ada pula yang berpendapat Nur Akal  dan pendapat lain mengatakan bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah swt  adalah Qalam dan Lauh al-Mahfudz. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Kunuz al-Sa'adah al-Abadiyah fi Anfas al-Aliyah al-Habsiyah&lt;/i&gt;,  kitab yang berisi untaian mutiara kalam al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein  al-Habsyi yang dihimpun oleh al-Habib Muhsin bin Ahmad bin Muhsin al-Seggaf,  menerangkan bahwa: sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah  swt adalah Nur Muhammad. Sebagaimana hadits Rasulullah saw:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أَوَّلُ مَا خَلَقَ الله تَعَالَى نُوْرِي&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Pertama yang dijadikan oleh Allah saw adalah cahayaku".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya beliau menerangkan bahwa: sesungguhnya Nabi Muhammad saw itu  sendiri adalah &lt;i&gt;al-Lauh &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;al-Qolam&lt;/i&gt;, yang tidak ada makna lain  lagi yang dimaksud oleh kedua kata diatas selain nabi yang ma'sum, Rasulullah  saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut al-Jilli, nur Muhammad mempunyai banyak nama sebanyak aspek yang  dimilikinya. Ia disebut &lt;i&gt;ruh &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;malak&lt;/i&gt;, bila dikaitkan dengan  ketinggiannya. Tidak ada kekuasaan makhluq yang melebihinya, semua tunduk  mengitarinya karena ia kutub dari segenap falaq. Ia disebut &lt;i&gt;al-haq al-makhluq  bih &lt;/i&gt;(al-haaq sebagai pencipta), karena darinya tercipta segenap makhluq. Ia  disebut &lt;i&gt;amr &lt;/i&gt;(urusan) Allah, karena hanya Allah yang tahu hakikatnya  secara pasti. Demikian pula ia disebut &lt;i&gt;al-qalam al-a'la &lt;/i&gt;(pena yang  tertinggi) dan &lt;i&gt;al-aql al-awwal &lt;/i&gt;(akal pertama), karena merupakan wadah  pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud dan melaluinya Tuhan menuangkan sebagian  dari pengetahuan-Nya kepada makhluq. Adapun sebutan &lt;i&gt;al-ruh al-Ilahi &lt;/i&gt;(ruh  ketuhanan) ialah karena keterkaitannya dengan &lt;i&gt;ruh al-quds &lt;/i&gt;(ruh yang suci) &lt;i&gt;ruh al-amin &lt;/i&gt;(ruh yang jujur) adalah karena ia merupakan perbendaharaan  ilmu Tuhan dan dipercayai-Nya. Nama itu pula yang dipakai untuk menamai malaikat  Jibril, yang secara langsung berasal dari nur Muhammad tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara perkataan yang bersesuaian dengan pendapat bahwa makhluq yang  pertama diciptakan oleh Allah swt adalah Nur Muhammad saw adalah perkataan Ibnu  Arabi, beliau menerangkan bahwa: "Hakikat Muhammad (Nur Muhammad) yang menjadi  inti insan kamil (manusia sempurna) adalah sebagai penyebab penciptaan alam".  Dan selanjutnya ia berkata pula: "Wadah pertama sebagai tempat Nur Muhammad  mengidentifikasikan dirinya secara sempurna ialah jasad Adam sebagai manusia  pertama yang diciptakan Tuhan". Hal tersebut sesuai dengan hadits nabi yang  diriwayatkan dari Jabir:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّ الله خَلَقَ نُوْرَ النَبِيِّ صَلَى الله عَلَيْهِ وَ  سَلَّمَ مِنْ نُوْرِهِ وَ خَلَقَ الْعَالَمَ بِأَسْرِهِ مِنْ نُورِ مُحَمَّدٍ صَلَى  الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Sesungguhnya Allah saw telah menciptakan nur nabi Muhammad saw dari  nur-Nya dan kemudian dijadikan alam raya ini dari nur nabi Muhammad saw".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Di samping itu terdapat pula hadits yang diriwayatkan oleh Umar dan Ibnu  Abbas yang mengatakan bahwa hakikat Muhammad (Nur Muhammad) adalah sebagai  penyebab penciptaan alam, Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى خَلَقَ الله  عَزَّوَجَلَّ نُوْرِى اَوَّل كُلِ شَيْءٍ فَسَجَدَ لله وَ بَقِى فِي سُجُوْدِهِ  سَبْعَمِاَئَة عَام وَلاَ فَخْرَ. يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى  خَلَقَ الله القَلَمَ وَ اللَوْحَ وَ العَرْشَ وَالكُرْسِى وَالعَقْلَ الأَوَّلَ وَ  نُوْرَ الإِيْمَانِ مِنْ نُوْرِى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Wahai Umar, apakah engkau ingin tahu siapa saya? Saya adalah yang Allah pertama kali ciptakan cahayaku sebelum segala sesuatu,  maka sujudlah cahayaku itu kepada Allah hingga tujuh ratus tahun dan tidak sombong.  Wahai Umar, apakah engkau ingin tahu siapa saya? Saya adalah yang dari cahayaku  Allah telah ciptakan qolam, lauh, arsy, kursi, akal pertama dan cahaya iman".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dari Jabir, Rasulullah bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;عَن جَابِر رَضِى الله عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ  بِأبِىوَأمِى أخْبِرْنِى عَنْ أوَّلِ شَيْءٍ خَلَقَهُ الله تَعَالَى قَبْلَ الأشْيَآء. قَالَ يَا جَابِر &lt;b&gt;إنَّ الله  تَعَالىَ خَلَقَ قَبْلَ الأشْيَآءِ نُوْرَ نَبِيِّكَ مِنْ نُوْرِهِ &lt;/b&gt;فَجَعَلَ  ذَالِكَ النُوْرَ يدور بِالقُدْرَةِ حَيْثُ شَاء الله وَلَمْ يَكُنْ فِى ذَالِكَ  الْوَقْتِ قَلَم وَلاَ لَوْح وَلاَ عَرْش وَلاَ كُرْسِى وَلاَ مَلَك وَلاَ رُوْح  وَلاَ جَنَة وَلاَ نَار وَلاَ سَمَاء وَلاَ أَرْض وَلاَ شَمْس وَلاَ قَمَر وَلاَ  إِنْس وَلاَ جَن. فَلَمَّا أرَادَ الله أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ قسم ذَالِكَ النُوْر  أرْبَعَة أجْزاء فَخَلَقَ مِنْ الجُزءِ الأوَّلِ الْقَلَم وَمِن الثَانِى اللَوْح  وَمِن الثَالِث الْعَرْش ثُمَّ قسم الْجُزء الْرَابِع أَرْبَعَة أجْزَاء فَخَلَقَ  مِن الأ وَّلِ حملة العَرْشِ وَ مِن الثَانِى الكُرْسى وَ مِن الثَالِث بَاقى  المَلاَئِكَة ثُمَّ قسم الرَابِع أرْبَعَة أجْزَاء فَخَلَقَ مِن الأ وَّلِ الجَنَّة  وَالنَار وَمِن الثَانِى السَّمَوَات ، وَمِن الثَالِثِ الأرْض ثُمَّ قسم الرَابِع  أجْزَاء فَخَلَقَ مِن الأ وَّلِ الشَمْس وَ القَمَر وَ النُجُوم وَمِن الثَانِى  البُرُوج وَالأفْلاَق وَ مِن الثَالِث العَقْل وَالأبْصَاروَالبَصَائِر وَنُور  الإيمَانِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Dari Jabir berkata: Demi ayah dan ibuku, Ya Rasulullah, beritahukanlah  kepadaku tentang suatu yang diciptakan Allah swt sebelum segalanya yang  lain. Rasulullah menjawab: Wahai Jabir, sesungguhnya &lt;b&gt;Allah telah  menciptakan nur Nabimu dari nur-Nya&lt;/b&gt; &lt;b&gt;sebelum sesuatu yang lain&lt;/b&gt;.  Maka dijadikan nur itu berkeliling sesuai dengan yang dikehendaki Allah swt,  dan tidaklah dijadikan pada saat itu qalam, lauh, arsy, kursy, malaikat,  ruh, surga, neraka, langit, bumi, matahari, bulan, manusia, dan jin. Dan  ketika Allah swt menghendaki untuk menciptakan makhluqnya, maka nur tersebut  dibagi menjadi empat bagian. Dari bagian pertama diciptakan qalam, dari  bagian kedua diciptakan lauh, dari bagian ketiga diciptakan arsy, dan dari  bagian keempat, nur tersebut dibagi lagi menjadi empat bagian, dari bagian  pertama diciptakan isi arsy, dari bagian yang kedua diciptakan kursy, dari  bagian yang ketiga diciptakan malaikat, kemudian dari bagian keempat, nur  tersebut dibagi menjadi empat bagian, dari bagian pertama diciptakan surga  dan neraka, dari bagian kedua diciptakan langit, dari bagian ketiga  diciptakan bumi, dan dari bagian keempat dibagi menjadi empat bagian, dari  bagian pertama diciptakan matahari, bulan dan bintang, dari bagian kedua  diciptakan planet dan benda-benda langit, dari bagian yang ketiga diciptakan  akal dan penglihatan dan cahaya iman".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dari Jabir bin Abdillah al-Anshari berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah,  apakah yang pertama diciptakan oleh Allah swt? Rasulullah menjawab: 'Nur  Nabimu wahai Jabir, kemudian Allah swt menciptakan segala kebaikan dari nurku'.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nur Muhammad itulah yang menjadikan sebagian manusia menjadi insan kamil.  Akan tetapi insan kamil yang muncul dalam setiap zaman semenjak nabi Adam, tidak  dapat melebihi keutamaan Nabi Muhammad saw, hal tersebut dibuktikan dalam  alquran surah al-Ahzab ayat 21:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya pada pribadi Rasulullah saw terdapat suri  tauladan yang baik bagimu."&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dalam surah al-Qalam ayat 4 disebutkan:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَإنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah pribadi yang agung".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Selain ayat alquran, hal tersebut terdapat pula dalam hadits:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَم يَوْمَ القِيَامَةِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Saya adalah penghulu keturunan Adam pada hari kiamat".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كُنْتُ نَبِيًا وَ آدَم بَيْنَ المَاءِ وَالطِيْنِ وَبَيْنَ  الرُوْحِ وَالجَسَدِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Saya telah menjadi nabi dan Adam masih berada antara air dan tanah,  antara ruh dan jasad".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi menuliskan riwayat tentang nur Muhammad  sebagai awal penciptaan makhluq dalam kitab maulidnya yang berjudul &lt;i&gt;Simthu  al-Duror&lt;/i&gt;, sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Telah sampai kepada kami dalam hadits-hadits yang masyhur bahwa sesuatu  yang mula pertama diciptakan Allah swt ialah nur yang tersimpan dalam  pribadi agung (Muhammad saw) ini. Maka nur insan tercinta inilah makhluq  pertama yang muncul dalam penciptaan-Nya. Darinya berasal seluruh wujud alam  ini yang baru datang ataupun yang sebelumnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh  Abdurrazak dengan sanadnya sampai kepada Jabir bin Abdullah al-Anshori,  bahwasanya ia pernah bertanya: Demi ayah dan ibuku, Ya Rasulullah,  beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang diciptakan Allah sebelum segala  makhluq yang lain. Rasulullah menjawab: Wahai Jabir, sesungguhnya &lt;b&gt;Allah  swt telah menciptakan nur nabimu Muhammad dari nur-Nya sebelum sesuatu yang  lain&lt;/b&gt;. Dan telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya nabi Muhammad  telah bersabda: Aku adalah yang pertama di antara nabi dalam penciptaan,  namun yang terakhir dalam kerasulan. Banyak pula riwayat lain yang  menyatakan bahwa beliau adalah makhluq pertama yang diciptakan oleh Allah  sebelum adanya makhluq lain dan termulia di antara mereka semua. Dan  manakala kebahagiaan abadi menampakkan pengamatannya yang tersembunyi  mengkhususkan manusia yang dipilihnya dengan kekhususan yang sempurna,  dititipkannya nur berderang ini pada berbagai sulbi dan rahim yang  dimuliakan di antara penghuni jagat raya dan berpindah-pindah dari sulbi  Adam, Nur dan Ibrahim sehingga pada akhirnya sampailah ia ke ayahnya yang  terpilih menerima kehormatan tiada terhingga Abdullah bin Abdul Muthalib  yang bijak dan berwibawa serta ibundanya Aminah yang mulia, yang selalu merasa  aman dan tenteram meskipun di tengah apa saja yang menggelisahkan."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdasarkan hadits-hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa 'nur Muhammad saw'  merupakan makhluq yang pertama diciptakan sebelum makhluq-makhluq lainnya, dan  hal tersebut menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Muhammad saw melalui nur  Muhammad saw yang diciptakan dari nur Allah swt, memiliki nilai-nilai keutamaan  yang utuh. Dari itu tentulah ia tidak dapat disejajarkan dengan insan kamil  lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;a name="04"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;4. Nur Muhammad saw dan penciptaan Adam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesungguhnya Allah yang tidak ada tuhan selain-Nya, awal pertama menciptakan  makhluq adalah nur kekasihnya Muhammad saw empat ratus ribu tahun sebelum  menciptakan air, arsy, kursy, langit, bumi, lauh, qolam, surga, neraka,  malaikat, Adam dan Hawa. Ketika Allah swt menciptakan nur nabi Muhammad saw, nur  itu berada di sisi Allah swt selama seribu tahun sambil terus bertasbih dan  bertahmid kepada Allah swt. Pada saat Allah swt melihat kepada nur Muhammad,  maka berfirman: 'Wahai hambaku, engkaulah sebaik-baiknya ciptaanku, kemuliaan  dan keagunganku jika tidak karena engkau tidak Aku ciptakan alam semesta, siapa  yang mencintai engkau, maka Aku mencintainya, siapa yang membenci engkau, maka  Aku membencinya. Maka nur itu bersinar membumbung naik dan sinarnya menyebar ke  segala sisi'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah itu Allah swt menciptakan dua belas hijab: hijab Qudrah, hijab  Uzmah, hijab Izzah, hijab Haibah, hijab Jabarut, hijab Rahmah, hijab Nubuwah,  hijab Kibriya', hijab Manzilah, hijab Rafa'ah, hijab Sa'adah dan hijab Syafa'ah. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Allah swt memerintahkan nur Muhammad untuk masuk ke dalam hijab  Qudrah selama dua belas ribu tahun sambil membaca 'Maha suci Tuhan yang maha  tinggi'.&lt;br /&gt;Kemudiaan masuk ke dalam hijab Uzmah selama sebelas ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang mengetahui segala yang nyata dan yang tersembunyi'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Izzah selama sepuluh ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang menguasai dan pemurah'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Haibah selama sembilan ribu tahun sambil  membaca 'Maha suci Tuhan yang maha kaya dan tidak pernah miskin'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Jabarut selama delapan ribu tahun sambil  membaca 'Maha suci Tuhan yang mempunyai kemuliaan'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Rahmah selama tujuh ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang mempunyai arsy yang agung'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Nubuwah selama enam ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang mempunyai kemuliaan'.&lt;br /&gt;Kemudiaan masuk ke dalam hijab Kibriya' selama lima ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang mempunyai keagungan'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Manzilah selama empat ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang maha mengetahui dan mulia'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Rafa'ah selama tiga ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang mempunyai malak dan malakut'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Sa'adah selama dua ribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan yang dapat mengubah dan tidak berubah'.&lt;br /&gt;Kemudian masuk ke dalam hijab Syafa'ah selama seribu tahun sambil membaca  'Maha suci Tuhan dengan segala pujian dan keagungannya'.&lt;br /&gt;Kemudian Allah swt menciptakan dua puluh lautan dari nur Muhammad, pada  setiap laut terkandung ilmu dan hanya Allah swt saja yang mengetahuinya.&lt;br /&gt;Kemudian Allah swt berfirman kepada nur Muhammad: 'Turunlah ke dalam lautan  Izzah, lautan Sabar, lautan Khusu', lautan Tawadhu', lautan Ridho, lautan Wafa',  lautan Hilim, lautan Taqwa, lautan Khosyyah, lautan Inabah, lautan Amal, lautan  Mazid, lautan Huda, lautan Shiyanah, lautan Haya', hingga lautan yang ke dua  puluh'. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah itu nur Muhammad keluar dari lautan-lautan tersebut, dan Allah swt  berfirman: 'Wahai kekasihku, penghulu semua rasulku, awal ciptaanku, akhir para  rasulku, engkau adalah pemberi syafa'at di padang mahsyar'. Serta merta nur  Muhammad bersujud kepada Allah swt kemudian bangun, keluarlah tetesan dari nur  Muhammad saw yang berjumlah 124.000 tetesan. Kemudian Allah swt jadikan dari  setiap tetesan nur Muhammad para nabi, kemudian semua nur para nabi mengelilingi  nur Muhammad saw sebagaimana para jamaah haji thawaf mengelili Ka'bah sambil  mengucapkan tasbih dan tahmid seraya berkata: Maha suci Tuhan yang maha  mengetahui dan tidak bodoh, Maha suci Tuhan yang maha sabar dan tidak  tergesa-gesa, Maha suci Tuhan yang maha kaya dan tidak miskin. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Allah swt memanggil semua nur, dan berfirman: Apakah kamu semua  kenal siapa Aku? Nur Muhammad paling dahulu menjawab: Engkau adalah Allah yang  tidak ada tuhan selain Engkau, Engkau adalah Tuhan yang satu dan tidak ada  sekutu bagi-Mu. Kemudian Allah swt menjawab: 'Engkau adalah kesucianku,  kekasihku, sebaik-baiknya ciptaanku, umatmu sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan  kepada manusia'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian dari nur Muhammad, Allah menciptakan mutiara dan membaginya menjadi  dua bagian. Setelah itu, Allah memandang kepada bagian yang pertama dengan  pandangan kebesaran, maka jadilah air yang segar, dan memandang kepada bagian  yang kedua dengan pandangan kasih sayang, maka jadilah arsy yang bersemayam di  atasnya air, kemudian dijadikan kursy dari cahaya arsy, kemudian dari cahaya  kursy dijadikan lauh, kemudian dari cahaya lauh dijadikan qalam. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Allah swt berfirman kepada qalam: 'Tulislah keesaanku'. Maka qalam  menulisnya terus menerus selama seribu tahun. Dan ketika pada puncaknya Allah  swt berfirman: 'Tulislah'. Qalam berkata: Wahai Tuhanku apa yang harus aku  tulis? Allah swt berfirman: 'Tulislah, tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad  adalah utusan Allah'. Dan ketika qalam mendengar nama Muhammad saw, ia langsung  bersujud, dan berkata: Maha suci Tuhan yang maha tunggal dan maha perkasa, maha  suci Tuhan yang mempunyai keagungan, kemudian qalam bangkit dari sujudnya dan  menulis: Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya qalam bertanya: Wahai Tuhanku siapakah Muhammad yang namanya  disebutkan bersamaan dengan namamu? Allah berfirman: &lt;i&gt;'Wahai qalam, jika  bukan karena Muhammad, maka Aku tidak ciptakan engkau, dan tidak pula aku  ciptakan makhluq kecuali karena dia&lt;/i&gt;. Sesungguhnya dia adalah pemberi  peringatan dan kabar gembira, pelita yang bercahaya, pemberi syafa'at'. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan mulai saat itu qalam menikmati manisnya menyebut nama Muhammad saw,  kemudian qalam berkata: Assalamu'alaika Ya Rasulullah. Maka Allah swt menjawab  salam qalam: 'Wa alaika salam minni warahmatullahiwabarakatuh'. Selanjutnya  Allah berfirman: 'Tulislah qodho' dan qadar-Ku, sesungguhnya Aku ciptakan dia  sampai hari kiamat'. Kemudian Allah swt menciptakan malaikat yang selalu  bersholawat kepada Muhammad dan keluarganya, memohonkan ampun untuk umat  Muhammad sampai hari kiamat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian dari nur Muhammad Allah menciptakan surga dan menghiasinya dengan  keagungan, keperkasaan, kedermawanan dan amanah, yang disiapkan untuk auliya'  dan yang taat kepada-Nya. Kemudian Allah swt memandang kepada sisa mutiara  dengan pandangan keperkasaan, maka melelehlah mutiara itu dengan mengeluarkan  asap, dan dari asap tersebut Allah swt jadikan langit dan dari intinya Allah swt  jadikan bumi, kemudian dijadikan gunung dan lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya dari arsy, Allah swt jadikan dua cahaya, yang pertama keutamaan  dan yang kedua keadilan. Dari kedua cahaya itu dijadikan dua bagian, dari kedua  bagian itu diciptakan akal, kelembutan, ilmu dan kedermawanan. Kemudian dari  akal diciptakan rasa takut, dari ilmu diciptakan keridhaan, dari kelembutan  diciptakan rasa kasih sayang, dari kedermawanan diciptakan rasa cinta. Semua  yang dijadikan tersebut berasal dari nur Muhammad saw. Sesudah itu Allah swt  menjadikan arwah orang-orang mu'min dari umat Muhammad, kemudian dijadikan  matahari, bulan, bintang, malam, siang, terang, gelap dan semua malaikat yang  kesemuanya itu diciptakan dari nur Muhammad saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan ketika sempurna penciptaan itu, maka nur Muhammad diletakkan di bawah  arsy selama tujuh puluh tiga ribu tahun, kemudian nur Muhammad berpindah ke  surga selama tujuh puluh ribu tahun, kemudian berpindah lagi ke sidratul muntaha  selama tujuh puluh ribu tahun, kemudian pindah ke langit ketujuh, langit keenam,  langit kelima, langit keempat, langit ketiga, langit kedua dan akhirnya nur  Muhammad pindah ke dunia hingga Allah swt menciptakan Adam. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Allah swt memerintahkan malaikat Jibril turun ke dunia dan mengambil  segenggam tanah dari bumi untuk menjadikan Adam. Sebelum Jibril sampai di bumi,  iblis telah mendahuluinya turun ke bumi dan berkata kepada bumi: Sesungguhnya  Allah akan menciptakan darimu makhluq yang akan disiksa dengan api neraka. Jika  datang kepadamu malaikat-Nya, maka katakan kepada malaikat tersebut: Saya  berlindung kepada Allah darimu yang akan mengambil dariku sesuatu dan akan  disiksa dalam neraka. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Jibril datang kepada bumi, selanjutnya bumi berkata kepada malaikat:  Saya berlindung kepada yang telah mengutus engkau, yang akan mengambil dariku  sesuatu. Kembalilah Jibril dengan tangan hampa dan berkata kepada Allah: Ya  Rabb, sesungguhnya bumi telah berlindung dariku dengan nama Engkau. Begitu pula  ketika Allah mengutus Mikail, Israfil, kembali dengan tangan hampa. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Allah mengutus malaikat Izrail dan berkata kepada bumi: Saya  berlindung dengan kemuliaan Allah dari penentanganmu. Selanjutnya Izrail  menjalankan yang diperintah Allah untuk mengambil sesuatu dari bumi. Kemudian  Allah swt berkata kepada malaikat Izrail: 'Apakah bumi tidak berlindung dengan  namaku darimu?' Izrail menjawab: Ya, dan aku tidak memperlihatkan belas  kasihanku kepadanya. Ketaatanku kepada-Mu melebihi rasa belas kasihku kepada  bumi. Allah berkata kepada Izrail: Jika engkau tidak mempunyai rasa belas kasih  kepada bumi berarti engkau tidak mempunyai rasa belas kasih kepada  sahabat-sahabatmu. Malaikat Izrail menjawab: Ketaatanku kepada-Mu lebih utama.  Kemudian Allah berfirman: 'Sesungguhnya aku akan menciptakan dari bumi para  nabi dan kaum sholihin dan lainnya. Begitu juga Aku akan jadikan arwah-arwah  mereka sebagian darimu'. Maka menangislah malaikat Izrail dan berkata: Engkau  benar wahai Tuhanku. Allah swt berfirman: Mengapa engkau menangis? malaikat  Izrail menjawab: Jika demikian, semua makhluq akan membenciku. Allah swt  berkata: 'Jangan takut, sesungguhnya Aku akan menjadikan perantara yang  mengantarkan mereka kepada kematian'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah itu, Allah memerintahkan Jibril yang diiringi oleh para malaikat  mendatangi bumi dan mengambil segenggam tanah dari tempat yang mulia di bumi.  Kemudian Jibril membentuknya dengan air surga, air keagungan, air kemuliaan, air  kasih sayang, air keridhoan, dan air kemaafan. Allah jadikan kepala Adam dari  hidayah-Nya, dadanya dari belas kasih-Nya, telapak tangannya dari kemurahan-Nya,  hatinya dari kesabaran-Nya, farajnya dari keterpeliharaan-Nya, kakinya dari  kemuliaan-Nya, hatinya dari keyakinan-Nya, nafas-nafasnya dari kebaikan-Nya,  kemudian bagian-bagian tersebut dicampur dengan tanah Adam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika Adam telah dijadikan, Allah swt berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah  menciptakan manusia dari tanah dan Aku telah tiupkan ruh-Ku kepadanya, maka  jadilah engkau dari golongan orang-orang yang sujud kepadanya'. Kemudian  Malaikat membawa jasad Adam dan meletakkannya di pintu surga dalam keadaan tanpa  ruh. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para malaikat menunggu kapan mereka diperintahkan untuk bersujud, karena saat  itu hari Jum'at setelah zhuhur. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk  sujud kepada Adam, maka bersujudlah mereka kecuali iblis la'natullah. Setelah  itu Allah jadikan ruh dan berkata kepadanya: 'Masuklah kepada jasad ini'.  Dengan merasa sempit, maka ruh itu masuk ke dalam tubuh Adam dan berhenti.  Kemudian Allah swt berkata: 'Paksakanlah untuk masuk dan paksakanlah untuk  keluar'. Kemudian ruh itu masuk ke kepala, ke mata yang menjadikan ia dapat  melihat dirinya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengarlah tasbih para malaikat, dan ketika ruh sampai ke batang hidung,  Adam bangkis dan Allah memerintahkan Adam untuk memuji-Nya. Maka Adam berkata:  Alhamdulillah. Dan itu merupakan kalimat pertama yang diucapkan Adam.  Selanjutnya Allah swt berkata: 'Semoga Allah memberi kasih sayang kepadamu  Adam, hal itu Aku jadikan untukmu dan untuk anak cucumu'. Kemudian Adam membuka  matanya dan melihat ke arah arsy yang nampak padanya tulisan 'Tidak ada Tuhan  selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah'. Ketika ruh masih diantara lutut  dan mata kaki, Adam berdiri, padahal ruh belum sampai ke telapak kaki. Dengan  kejadian ini Allah berfirman: Sesungguhnya dijadikan manusia (bertabiat)  tergesa-gesa. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far al-Shaddiq berkata: Sesungguhnya ruh berada di kepala Adam  selama seratus tahun, di dadanya selama seratus tahun, di punggungnya selama  seratus tahun, di kedua pahanya selama seratus tahun dan di kedua kakinya selama  seratus tahun. Dan ketika Adam telah berdiri tegak, Allah memerintahkan para  malaikat untuk sujud kepadanya. Hal itu terjadi pada hari Jumat setelah zhuhur.  Para malaikat sujud kepada Adam sampai waktu ashar tiba. Dan ketika Adam  mendengar tasbih dari nur Rasulullah saw di tulang punggungnya seperti bunyi  burung mengibas-ngibaskan sayapnya, ia bertanya: Wahai Tuhanku apa ini? Allah  swt menjawab: 'Wahai Adam, itu adalah tasbih Muhammad al-Arabi, penghulu para  nabi dan rasul dari mulai pertama sampai yang terakhir'. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Allah jadikan Siti Hawa dari tulang rusuknya. Adam berkata:  Siapa  engkau? Berkata: Saya adalah Hawa yang Allah telah jadikan untukmu. Adam   berkata: Kebaikan apa yang terdapat pada penciptaanmu. Allah swt  berfirman: 'Hawa adalah umatku dan engkau wahai Adam adalah hambaku, Aku  jadikan kalian  berdua untuk suatu tempat yang bernama surga, maka bertasbihlah dan  bertahmidlah  kepada-Ku'. Selanjutnya Allah swt berfirman: 'Wahai Adam pinanglah Hawa  dan  berikanlah mahar kepadanya. Adam bertanya: apa mahar untuknya wahai  Tuhanku?  Allah swt menjawab: 'Bersholawatlah kepada kekasihku Muhammad sepuluh  kali'.  Kemudian Adam berkata: Terima kasih wahai Tuhanku. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada kejadian tersebut, Allah merupakan qadhi yang maha benar, dan yang  mengaqidkan pernikahan itu adalah Jibril, disaksikan oleh para malaikat. Pada  peristiwa itu para malaikat berkumpul di belakang Adam, dan ia bertanya: Wahai  Tuhanku untuk apa mereka berkumpul di belakangku. Allah swt berfirman: 'Mereka  berkumpul untuk melihat nur anak cucumu yaitu Muhammad'. Adam berkata: Wahai  Tuhanku, letakkanlah dia (nur Muhammad) di depanku sehingga para malaikat dapat  berhadapan denganku. Maka Allah meletakkan Nur Muhammad di dahinya dan para  malaikat berbaris di depan Adam. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkata Ibnu Arabi: ketika nur Muhammad saw diciptakan di kening Adam, para  malaikat menyambutnya dan memberi salam kepada nur Muhammad, sementara Adam  sendiri tidak tahu. Lalu ia berkata kepada Tuhannya, 'Ya Tuhan, saya senang bila  bisa melihat nur (cahaya) anak saya, Muhammad saw. Maka hendaknya Engkau  memindahkannya ke salah satu bagian tubuh saya, agar saya dapat melihatnya'.  Akhirnya Allah memindahkan nur Muhammad ke telunjuk jarinya sebelah kanan. Adam  pun melihat cahaya gemerlapan di jari telunjuknya, lalu ia mengangkatnya sambil  berkata: 'Saya bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya  Muhammad adalah utusan Allah.' Oleh karenanya, jari telunjuk disebut &lt;i&gt; al-musabbihah &lt;/i&gt;(alat untuk bertasbih).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan ketika Adam akan mendatangi istrinya, ia memerintahkan kepada Hawa untuk  bersuci, dan berkata kepadanya: Wahai Hawa, Allah telah memberi karunia dan  kedudukan yang khusus kepadamu disebabkan oleh nur ini (Nur Muhammad), Dia  adalah titipan Allah dan janji-Nya. Nur Muhammad tersebut berada dalam sulbi  Adam hingga Hawa mengandung Syits alaihi salam, berpindahlah nur itu ke sulbi  Syits hingga akhirnya sampai ke sulbi Abdullah bin Abdul Muthalib.&lt;/p&gt;  &lt;a name="05"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;5. Allah swt menciptakan Muhammad saw dan keturunannya dari tanah Arsy.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan bahwasanya nabi Adam pernah mendengar tasbih dari nur Rasulullah  saw di tulang punggungnya seperti bunyi burung mengibas-ngibaskan sayapnya. Dan  ketika Siti Hawa mengandung puteranya Syits, nur itu berpindah kepada Siti Hawa,  kemudian kepada Syits pula. Kemudian nur itu seterusnya berpindah-pindah dari  satu sulbi yang suci ke sulbi yang lain dan dari satu rahim yang bersih ke rahim  yang lain, hingga Rasulullah saw dilahirkan dari kedua ibu bapaknya yang mulia  itu, tiada disentuh sedikitpun kenistaan atau kecemaran kaum jahiliyah. Nabi saw  bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ ولَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Aku dilahirkan dari nikah, dan tidak pernah dilahirkan dari zina".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Di lain riwayat Imam Ja'far pernah ditanya: Wahai cucu Rasulullah dimanakah  kalian berada sebelum Allah swt menciptakan langit dan bumi. Berkata Imam Ja'far:  Nur kami terbentang di sekitar Arsy, Allah swt mensucikannya selama lima belas  ribu tahun sebelum diciptakannya Adam. Maka ketika Adam diciptakan, nur tersebut  dipindahkan ke sulbinya, dan tidaklah perpindahan itu keluar dari sulbi yang  suci ke rahim yang disucikan, hingga Allah swt membangkitkan Muhammad saw. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Abbas, paman Rasulullah saw membuat serangkaian sajak yang memuji beliau,  di antaranya:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مِنْ قَبْلِهَا طِبْتَ فِى الظِلاَلِ وَفِى &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مُسْتَوْدَعٍ حِيْنَ يُخْصَفُ الوَرَقُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ثُمَّ هَبَطْتَ البِلاَدَ لاَ بَشَرٌ أنْتَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلاَ مُضْغَةٌ وَلاَ عَلَقٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَبُ السَفِيْنَ وَقَدْ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;الجَمَ نَسْرًا وَ أهْلُهُ الغَرَقُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;تُنْقَلُ مِنْ صَالِبٍ إلَى رَحِمٍ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إذَا مَضى عَالَمٌ بَدَا طَبَقُ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;Sebelum itu wujudmu telah sempurna di dalam naungan&lt;br /&gt;Dalam tempat simpanan ketika tubuh insan terbungkus dedaunan&lt;br /&gt;Lalu engkau turun ke bumi, bukan dalam rupa manusia&lt;br /&gt;Bukan pula segumpal darah, ataupun segumpal daging&lt;br /&gt;Bahkan masih nutfah, bersama Nuh dalam bahteranya&lt;br /&gt;Menempuh bah besar yang menenggelamkan berhala&lt;br /&gt;Nasr dan para penyembahnya&lt;br /&gt;Engkau terus berpindah-pindah dari sulbi kepada rahim&lt;br /&gt;Apabila suatu alam hilang yang lain pun tumbuh berganti&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dan kemudian ia berkata:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;حَتَّى احْتَوى بَيْتُكَ المُهَيْمِنُ مِنْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;خَنْدَفٍ عَلَيَاءَ دُوْنَهَاالنُطْقُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;Hingga engkau ditempatkan dalam kandungan yang penuh keberkahan&lt;br /&gt;Dari seorang ibu yang bernasab tinggi, kesuciannya tidak diragukan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Perpindahan nur Muhammad dari sulbi para nabi diabadikan dalam alquran surat  al-Syu'ara ayat 218, yang berbunyi:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;الَّذِي يَرَاكَ حِيْنَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِى  السَّاجِدِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Dia yang memperhatikan engkau ketika berdiri, dan perpindahanmu  di antara orang-orang yang (biasa) sujud".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: bahwa yang dimaksud dengan '&lt;i&gt;perpindahanmu  di antara orang-orang yang sujud&lt;/i&gt;' yaitu berpindah-pindahnya nur Muhammad saw  dari sulbi seorang nabi ke sulbi nabi yang lainnya, seperti Adam, Syits, Nuh,  Ibrahim, Ismail, dan hal ini tiada syak dan tiada diragukan lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari Ibnu Abbas, bersabda Rasulullah saw: Allah swt menempatkan nurku di  bawah Arsy sebelum Adam diciptakan selama dua belas ribu tahun. Maka ketika  Allah swt menciptakan Adam, diletakkan nur tersebut ke sulbi Adam, selanjutnya  nur tersebut berpindah dari sulbi ke sulbi, hingga kami berpisah di sulbi  Abdullah bin Abdul Muthalib dan sulbi Abi Thalib. Maka Allah swt menciptakan aku  dari nur tersebut akan tetapi tidak ada lagi nabi sesudahku.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imam Ja'far al-Shadiq pernah ditanya mengenai maksud kalimat '&lt;i&gt;perpindahanmu  di antara orang-orang yang sujud&lt;/i&gt;'? Beliau menjawab: 'Diperhatikannya  perpindahan nur Muhammad dari sulbi para nabi, hingga ia dikeluarkan melalui  sulbi ayahnya dengan pernikahan yang tidak tercemar sedikitpun oleh kekotoran'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kitab&lt;i&gt; al-Ghuror &lt;/i&gt;karangan al-Imam Muhammad bin Ali bin alwi  al-Khirrid diriwayatkan bahwa Nur Muhammad telah diciptakan dua ribu  tahun sebelum diciptakannya nabi Adam. Kemudian Allah menciptakan Adam dan  memindahkan nur itu ke dalam sulbi Adam, dari sulbi Adam berpindah ke sulbi Nuh,  sulbi Ibrahim hingga akhirnya sampai ke sulbi Abdul Muthalib. Kemudian nur  tersebut terbagi menjadi dua, dua pertiga bagian berada di sulbi Abdullah yang  melahirkan Rasulullah, dan sepertiga bagian berada di sulbi Ali bin Abi Thalib.  Dari Rasulullah, nur tersebut berpindah kepada Fathimah. Dari nur yang berada  pada Ali bin Abi Thalib dan Siti Fathimah maka lahirlah al-Hasan dan al-Husein  yang diciptakan dari nur Muhammad, nur Allah swt.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari Ibnu Fari, ia berkata: Sesungguhnya makhluq yang pertama diciptakan  oleh Allah swt itu adalah nur Muhammad, sebagaimana hadits:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أَوَّلُ مَا خَلَقَ الله تَعَالَى نُوْرِي&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya yang pertama dijadikan Allah swt ialah cahayaku".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Selanjutnya Allah berfirman: 'Hai nur Muhammad, sujudlah engkau kepada-Ku  selama sepuluh ribu tahun. Kemudian cahayaku itu sujud kepada Allah swt selama  sepuluh ribu tahun lamanya. Kemudian Allah berfirman: Hai nur Muhammad,  bangkitlah engkau dengan firmanku, maka cahayaku itu bangkit dari tempat  sujudnya'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesungguhnya dari cahayaku itu kemudian Allah swt menjadikan seekor burung  yang sangat indah bentuknya. Maka dari kepala burung itu diciptakan Ali bin Abi  Thalib, dari lehernya diciptakan Siti Fathimah al-Zahra, dari mata kanannya  diciptakan Imam Hasan dan dari mata kirinya diciptakan Imam Husein. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;Syajarah al-Kaun &lt;/i&gt;karangan Ibnu Arabi dijelaskan bahwa jari  jemari pada setiap tangan dan kaki jumlahnya lima, demikian pula sendi-sendi  syariat Islam, di mana rukun Islam ada lima. Rasulullah berkata saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;'Islam didirikan di atas lima perkara, syahadat bahwa tiada tuhan selain  Allah dan Muhammad adalah utusan Allah mendirikan shalat, memberikan zakat,  pergi haji ke Baitullah dan puasa Ramadhan.'&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara lima yang kedua adalah shalat fardhu yang jumlahnya lima, sedangkan  lima yang ketiga adalah zakat yang pada nisabnya juga lima, lima yang keempat  adalah Rasulullah saw bersama para sahabat pendukungnya, yaitu Abubakar, Umar,  Usman dan Ali. Adapun lima yang kelima adalah ahlul bait, mereka adalah Muhammad  saw, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan bahwa dalam peristiwa Mi'raj, terjadi dialog antara nabi  Muhammad saw dengan para Malaikat tentang penciptaan keluarga Rasulullah saw dan  kecintaan para Malaikat kepada Rasullah saw, sebagai berikut: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nabi saw: &lt;i&gt;"Wahai para Malaikat Tuhanku, apakah engkau benar-benar mengenal kami (ahlul bait)?"&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Malaikat: &lt;i&gt;"Wahai Nabi Allah, bagaimana kami tidak mengenal kalian  (ahlul bait) sedangkan engkau adalah makhluq pertama yang diciptakan  Allah  swt. Kalian telah dijadikan berupa cahaya yang berasal dari  cahaya-Nya, cahaya kemuliaan-Nya, cahaya kebesaran-Nya. Dan  dijadikan pula bagimu kedudukan di antara alam malakut dan  Arsy-Nya sebelum terciptanya langit dan bumi."&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;"Kemudian dijadikan langit dan bumi dalam enam hari, sesudah  itu diangkatnya Arsy sampai langit ke tujuh, maka bersemayam di  atas Arsy-Nya dan kalian berada di depan Arsy-Nya dalam keadaan  disucikan dan diagungkan, kemudian dijadikan malaikat pertama  dari nur yang telah terbagi-bagi. Dan kami adalah bagian dari  kalian (ahlul bait) yang selalu bertasbih, bertahmid, bertahlil,  bertakbir, maka kami pun selalu bertasbih, bertahmid, bertahlil  dan bertakbir dengan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir kalian.  Maka apa saja yang diturunkan dan ditambahkan oleh Allah kepada  kalian, maka kami pasti mengenalnya."&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Nabi saw mi'raj ke langit ke tujuh dan ketika para malaikat melihat  nabi saw, terdengar suara para malaikat berkata: 'Maha suci Allah yang benar  janjinya'. Kemudian para malaikat menemui nabi dan memberi salam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nabi saw: &lt;i&gt;"Wahai para malaikat Tuhanku, saya mendengar kalian berkata  'Maha Suci Allah yang benar janjinya', mengapa demikian?"&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Malaikat: &lt;i&gt;Wahai nabi Allah, sesungguhnya Allah swt ketika menciptakan cahaya dari cahaya kemuliaan-Nya dan kebesaran-Nya, dan dijadikan  bagimu kedudukan di alam malakut yang merupakan kekuasaan kalian  atas kami, cahaya yang meneguhkan hati kami. Oleh sebab itu kami  mengadu kepada Allah akan cinta kami kepadamu, maka Allah  menepati janjinya dengan memperlihatkan engkau kepada kami di  langit ini. Itulah sebabnya kami berkata demikian. &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari Muadz bin Jabal, bersabda Rasulullah saw: Sesungguhnya Allah telah  menciptakan aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, tujuh ribu tahun sebelum Allah  menciptakan dunia. Aku (Muadz bin Jabal) bertanya: Dimanakah selama itu engkau  berada. Nabi menjawab: Di Arsy, dimana Allah swt bertasbih memuji, mensucikan  serta mengagungkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, mereka adalah 'aal Muhammad' yang telah  disucikan, sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 33:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّمَا يُرِيْدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ  البَيْتِ وَ يُطَهِّرَ كُمْ تَطْهِيْرًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran (rijs)  dari kalian hai ahli al-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam kitabnya '&lt;i&gt;al-Saraf al-Muabbad li Aali  Muhammad&lt;/i&gt;' berkata:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Betapa tidak, mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai hubungan  silsilah dengan Rasulullah. Mereka itu seasal dengan beliau, yakni silsilah  yang menurunkan beliau dan juga menurunkan orang-orang yang dekat dengan  beliau. Tidak diragukan lagi, bahwa mencintai beliau saw adalah wajib bagi  setiap orang yang bertauhid. Adapun tebal-tipisnya kecintaan seseorang  kepada Rasulullah saw merupakan ukuran tentang tebal-tipisnya keimanan yang  ada pada orang itu. Orang yang mengaku beriman, tetapi ia tidak mencintai  Rasulullah saw, sama artinya dengan berdusta, bahkan layak disebut munafik.  Kecintaan kepada Rasulullah saw membawa konsekuensi wajib mencintai keluarga  beliau, yakni ahli al-bait beliau, anak cucu keturunan beliau dan kaum  kerabat beliau".&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hal tersebut sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh  Ahmad, Turmudzi, Nasai dan al-Hakim dari al-Muthallib bin Rabi'ah, ia berkata  bahwa Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَاللهِ لاَ يَدْخُلُ فَلْبَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ (إِيْمَانٌ)  حَتَّى يُحِبُّكُمْ لله وَ لِقَرَابَتِى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Demi Allah, iman tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim sehingga  ia mencintai kalian (keluarga nabi saw) karena Allah dan karena hubungan  keluarga denganku".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Di samping itu terdapat pula hadits yang memerintahkan kepada umat Islam  untuk mencintai Rasulullah saw dan keluarganya seperti yang diriwayat oleh  Turmudzi, Thabrani dan al-Hakim dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda: &lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اَحِبُّوا الله لِمَا يَغْدُوْكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ  وَاَحِبُّوْنِى لِحُبِّ اللهِ   , وَاَحِبُّوا اَهْلَ بَيْتِى لِحُبِّىْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya, dan  cintailah aku karena kecintaan (kamu) kepada Allah, serta cintailah ahlu  al-baitku karena kecintaan (kamu) kepadaku".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Anak cucu keturunan Rasulullah saw merupakan keberkahan bagi umat Islam.  Mereka selalu ada pada tiap zaman, sebab dengan keberadaan mereka itu Allah swt  menghindarkan umat manusia dari malapetaka. Kecuali jika umat manusia sudah  memilih jalannya sendiri yang sesat menuju kehancuran. Keturunan Rasulullah  ibarat cahaya bintang yang menunjukkan arah bagi bahtera yang sedang berlayar di  tengah samudera dalam keadaan gelap gulita. Thabrani meriwayat hadits dalam  kitab al-Ausath dari Abu Said al-Khudri, ia berkata Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;اِنَّمَا مَثَلَ اَهْلِ بَيْتِىْ مِثْلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ  رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ, وَ اِنَّمَا مَثَلَ اَهْلِ  بَيْتِىْ فِيْكُمْ, مَثَلَ بَابِ حِطَّةٍ فِى بَنِى اِسْرَائِيلَ مَنْ دَخَلَهَا  غُفِرَ لَهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Perumpamaan (kedudukan) ahlu al-baitku seperti bahtera Nuh. Barang siapa  menaikinya dia akan selamat dan barang siapa meninggalkannya dia akan  tenggelam. Dan perumpamaan ahlu al-baitku di antara kamu seperti pintu  pengampunan di antara Bani Israil, barang siapa memasukinya maka  dosa-dosanya akan diampuninya".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Orang yang hidup sezaman dengan mereka dan dengan kata-kata indah menyatakan  kecintaan kepada mereka, tetapi tidak disertai perbuatan nyata, pernyataannya  hanya kosong belaka, hampa dan tak berarti apa-apa, semua itu tidak membawa arti  apa-apa. Akan tetapi lebih celaka lagi orang yang gemar mengungkit-ungkit mereka  dengan lisan atau tulisan dan dengan tangan atau mata melakukan perbuatan untuk  mengurangi dan merendahkan martabat mereka karena kebencian atas keutamaan yang  mereka dapatkan dari Allah swt, dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan masuk  neraka, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, al-Hakim dari Ibnu  Abbas, Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;…فَلَوْ اَنَّ رَجُلاً صفَنَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ,  وَصَلَّى وَصَامَ, ثُمَّ مَاتَ   , وَهُوَ مُبْغِضٌ لاِهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ صَلَّى  الله عَلَيْهِ (وَآلِهِ) وَسَلَّمَ دَخَلَ النَّارَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "…Maka sekiranya seseorang berdiri di antara salah satu sudut Ka'bah dan  maqam Ibrahim, lalu ia shalat dan puasa, kemudian meninggal sedangkan ia  adalah pembenci keluarga (ahlu al-bait) Muhammad, pasti ia masuk neraka".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Orang yang mengakui dirinya mencintai Rasulullah saw tetapi bersamaan dengan  itu ia merusak citra dan martabat ahlu al-bait beliau, jelas ia adalah orang  yang sangat jauh menyeleweng dari rel agama. Mereka adalah golongan yang tidak  mengerti, termakan oleh ajaran sesat, hingga terbenam di dalam semangat  kebencian terhadap anak cucu keturunan Rasulullah. Mereka menta'wilkan ayat-ayat  alquran dan hadits nabi yang berkaitan dengan keutamaan keluarga Muhammad saw.  Mereka menebak-nebak akar risalah, menduga-duga turunnya wahyu Ilahi dan  mengira-ngira sumber hikmah. Dari bunyi harfiah ayat-ayat dan nash-nash hadits  mereka menetapkan kesimpulan menurut pendapat dan selera mereka sendiri, yang  sama sekali jauh dari kebenaran. Meskipun mereka telah berbuat sejauh itu,  mereka masih juga mengaku cinta kepada Rasulullah saw. Mereka tidak sadar, bahwa  dengan perbuatan itu mereka telah menyakiti hati beliau dengan berbagai macam  tusukan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tidak diragukan lagi bahwa '&lt;i&gt;aal Muhammad&lt;/i&gt;' yang dalam zaman kita  sekarang ini terkenal dengan sebutan kaum Alawiyin, merupakan orang-orang yang  memiliki fadhilah dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikarunia Allah swt kepada  mereka melalui hubungan darah dengan insan pilihan-Nya. Sangat naif sekali  anggapan yang menyamakan mereka dengan orang-orang dari keturunan lain, karena  anggapan demikian itu sama artinya dengan menyamakan pribadi Rasulullah saw  dengan pribadi lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Fadhilah dzatiyyah yang mereka miliki bukan fadhilah yang dibuat-buat dan  bukan berdasarkan fadhilah amalan baik mereka dan bukan pula atas keinginan  mereka, melainkan telah menjadi qudrat dan iradat Ilahi sejak azal, yaitu sejak  pertama kali Allah menciptakan keluarga Rasulullah dari nur Muhammad saw, di  mana nur Muhammad saw tersebut dijadikan dari nur Allah swt.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari Hasan bin Ali berkata, aku mendengar kakekku Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;خلقت مِنْ نُوْرِ الله عزَّ و جلَّ خلق أهْلَ نَيْتِي مِنْ نُورِي   , خلق محبيهم مِنْ نُورِهم   , و سَائر الخَلْقِ فِي النَارِ  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Saya dijadikan dari nur Allah azza wa jalla, dan dijadikan ahlu  al-baitku dari nurku, dan dijadikan para pencinta mereka (ahlu al-bait) dari  nur mereka (ahlu al-bait), sedangkan yang lainnya berada dalam neraka".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dari Ja'far al-Shaddiq, bersabda Rasulullah saw: Wahai Jabir, Sesungguhnya  Allah swt, tidak ada tuhan selain-Nya, awal pertama menciptakan makluq-Nya  adalah menciptakan Muhammad saw, dan menciptakan ahlu al-bait dari nur  keagungan-Nya. Kemudian ditempatkan di bawah perlindungan-Nya, di mana pada saat  itu belum ada langit, bumi, malam, siang, matahari, bulan dan semua tempat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya &lt;i&gt;al-Kabir&lt;/i&gt;, dari Ibnu Abbas,  Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;…فَإِنَّهُمْ عِتْرَتِي   , خُلِقُوا مِنْ طِيْنَتِي   , وَرُزِقُوا  فَهْمِي و عِلْمِي   , فَوَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ مِنْ أمَّتِي  الٌقَاطِعِيْنَ مِنْهُمْ صِلَتي لاَ أنْزَلَهُمُ الله شَفِاعَتِي &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "…Mereka adalah keturunanku dan &lt;b&gt;diciptakan dari tanahku&lt;/b&gt; serta  dikaruniai pengertian dan ilmuku. Celakalah dari ummatku yang mendustakan  keutamaan mereka, dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan  hubungan dengan) mereka. Allah tidak akan menurunkan syafa'atku kepada  orang-orang seperti itu".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Tanah sebagai asal penciptaan Rasulullah dan keturunannya bukanlah tanah  biasa yang dipijak setiap saat di bumi ini, akan tetapi tanah untuk penciptaan  Rasulullah saw dan keturunannya bersumber dari arsy Allah swt, di lain pendapat  tanah tersebut bersumber dari Illiyin, hal ini disebutkan dalam beberapa riwayat  diantaranya: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari Abu Abdillah, Ja'far al-Shaddiq, berkata:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إنَّ الله عزَّ و جلَّ خَلَقَ مُحَمَّدًا و عِتْرَتَهُ مِنْ  طِيْنَةِ العَرْشِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya Allah telah menciptakan Muhammad dan keturunannya dari tanah Arsy.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dari Abdurahman bin Hajjaj, berkata: &lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إنَّ الله تَبَرَكَ وَ تَعَالَى خَلَقَ مُحَمَّدًا و آلَ  مُحَمَّدٍ مِنْ طِيْنَةِ عِلِّيِينَ خَلَقَ قُلُوبَهُمْ مِنْ طِيْنَةِ فَوْقَ  ذَالِك&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya Allah swt menciptakan Muhammad dan keluarganya dari tanah  Illiyin, dan menjadikan hati mereka dari tanah yang lebih tinggi dari tanah  Illiyin".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Ketika Allah hendak menciptakan Muhammad, berfirman Allah kepada para  malaikatnya: 'Sesungguhnya aku ingin menciptakan makhluq yang akan Aku utamakan  dan muliakan dari semua makhluq, dan Aku jadikan dia sebagai nabi yang pertama  dan terakhir, Aku akan memberikan syafa'at pada hari kiamat karena dia, jika  bukan karena dia, tidak aku jadikan keindahan surga dan kekejaman neraka. Aku  akan memuliakannya dengan kemuliaanku, dan mengagungkannya dengan keagunganku'.  Berkata para Malaikat: Wahai Tuhan kami, tidak sekali-kali para hamba menentang  Tuhannya, kami semua mendengar dan patuh kepada-Mu. Maka Allah memerintahkan  malaikat Jibril, al-shafi al-a'la dan malaikat Arsy untuk mengambil tanah  Rasulullah dari sumbernya, maka dijadikan beliau saw dari tanah, dimatikan dan  dikuburkan ke dalam tanah, dibangkitkan melalui tanah. Dari tanah itu, kemudian  Jibril membawa dan membenamkannya di mata air Salsabila sehingga bersih seperti  mutiara yang putih. Dari hari ke hari tanah tersebut dibenamkan ke semua mata  air yang ada di surga, dan setelah diangkat keluarlah cahaya tanah tersebut,  kemudian diperlihatkan kepada malaikat lainnya, para malaikat menyambutnya  dengan sikap hormat dan memuliakannya. Ketika Jibril membawa tanah tersebut  mengelilingi para malaikat, mereka berkata: Wahai Tuhanku, jika engkau  perintahkan untuk sujud, maka kami akan sujud. Maka para malaikat sujud dan  memuliakan tanah tersebut sebelum Adam diciptakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri: Ketika kami sedang duduk bersama  Rasulullah saw, datanglah seorang lelaki berkata, Ya Rasulullah beritahukanlah  kepadaku tentang firman Allah swt kepada Iblis:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa)   termasuk orang-orang yang lebih tinggi?" (Shaad: 75)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Siapakah mereka Ya Rasulullah, orang yang lebih tinggi kedudukannya dari para  Malaikat? Rasulullah menjawab: Saya, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein. Kami  dijadikan sebagai kemah Arsy, bertasbih para malaikat dengan tasbih kami dua  ribu tahun sebelum Allah menjadikan Adam. Dan ketika Allah swt menjadikan Adam,  diperintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya, maka seluruh  malaikat sujud kecuali iblis, mereka menolak untuk bersujud kepada Adam,  berfirman Allah swt: Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa)  termasuk orang-orang yang lebih tinggi?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari Ali bin Abi Thalib, Rasullulah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَا عَلِي, خَلَقَ الله النَاسَ مِنْ اَشْجَار شَتَّى,  وَخَلَقَنِي وَ أَنتَ مِنْ شَجَرَة وَاحِدَةٍ, اَنَا أَصْلُهَا وأَنْتَ فَرْعُهَ,  فَطُوْبَى لِعَبْدٍ تَمَسَّكَ بِأَصْلِهَ, وَ أَكَلَ مِنْ فَرْعِهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Wahai Ali, Allah telah menciptakan manusia dari berbagai jenis pohon,  dan Allah menciptakan aku dan engkau dari pohon yang satu, saya pangkalnya  dan engkau cabangnya, maka beruntung bagi hamba yang berpegang pada  pangkalnya dan makan dari cabangnya".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dari Jabir bin Abdillah al-Anshari berkata: Ketika kami dan Ali sedang  berada di Arafah bersama Rasulullah saw, beliau memanggil Ali: Wahai Ali  mendekatlah dan letakkanlah telapak tanganmu di atas telapak tanganku, setelah  itu Rasulullah bersabda: &lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَا عَلِي, خلقت أنَا وَ أَنْتَ مِنْ شَجَرَةٍ أنَا أصَلُهَا  وَأنْتَ فَرْعُهَا وَالحَسَن وَالحُسَين أَغْصَانهَ, فَمَنْ تَعَلّق بِغُصْنٍ مِنْ  أَغْصَانِهَا أَدْخَلَهُ الجَنَّةَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  "Wahai Ali, Aku dan engkau diciptakan dari satu pohon, Saya  pangkalnya dan engkau cabangnya, al-Hasan dan al-Husein rantingnya. Maka siapa yang  bergantung dengan ranting dari ranting-ranting pohon itu, pasti masuk surga".&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dan ketika Allah swt menciptakan Adam, terdengar dipunggungnya tasbih dari  nur Muhammad seperti burung mengibaskan sayapnya. Berkata Adam: Wahai Tuhanku,  apakah ini? Allah swt menjawab: Wahai Adam, ini adalah tasbih Muhammad  al-Arabi, sayyid al-awwalin wa al-akhirin, berbahagialah bagi siapa yang  mengikuti dan patuh kepadanya, dan akan celaka bagi siapa yang menentangnya,  peganglah janji-Ku ini wahai Adam, dan tidaklah Aku pindahkan nur itu kecuali ke  sulbi-sulbi lelaki yang suci dan rahim para wanita yang menjaga kehormatan dan  kesucian dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian Adam berkata: Wahai Tuhanku, telah Engkau tambahkan kepadaku  kemuliaan, cahaya, keindahan, kehormatan dengan sebab kelahiran nur Muhammad  ini. Ketika Adam ingin mendatangi Siti Hawa, beliau memerintahkan untuk  mensucikan diri, dan berkata kepadanya: Sungguh Allah telah memberi rizki dan  keistimewaan kepadamu dengan nur ini, karena nur ini merupakan titipan dan janji  Allah swt. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Adapun kalimat yang berbunyi '&lt;i&gt;dikaruniai pengertian dan ilmuku&lt;/i&gt;' pada  hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya &lt;i&gt;al-Kabir &lt;/i&gt;tersebut,  sesungguhnya adalah ilmu yang dimiliki oleh keturunan Rasulullah saw pada  hakikatnya adalah ilmu Rasulullah. Menurut Ibnu Taimiyah, Allah swt  menganugerahkan ilmu secara khusus bagi keturunan Rasulullah saw, yakni ilmu  yang tidak diberikan kepada manusia selain mereka. Sehingga tidak seorangpun  yang lebih alim dari mereka tentang nama-nama Allah, sifat-sifat,  perbuatan-perbuatan, hukum-hukum, pahala dan siksa, syariat, peristiwa-peristiwa  yang diridhai dan dimurkai oleh-Nya, para malaikat dan seluruh makhluq-Nya. Maha  suci Allah yang telah menganugerahkan ilmu kepada mereka baik yang terdahulu  maupun yang datang kemudian. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para keturunan Rasulullah saw memiliki sesuatu yang lebih dibanding orang  lain, yaitu hubungan (nasab dan keilmuan) dengan Nabi saw. Diantara mereka ada  yang alim ibnu alim ibnu alim hingga Nabi saw, ada yang wali ibnu wali ibnu wali  hingga Nabi saw, ada yang saleh ibnu saleh ibnu saleh hingga Nabi saw. Di dunia  ini, di manakah dapat ditemukan hal seperti ini?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Hajar dalam &lt;i&gt;al-Shawaiq al-Muhriqah &lt;/i&gt;mengatakan bahwa: 'Mereka  (keturunan Rasulullah saw) adalah gudang-gudang ilmu Islam dan hukum-hukum  syara'. Kalau saja para keturunan Rasulullah saw yang jahil akan ilmu agama  berusaha untuk belajar, niscaya mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk  menjadi alim. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata: 'Kita ahlul-bait, jika  bertawajjuh untuk menuntut asrar, akan berhasil dengan waktu singkat. Yang  menyebabkan kita tertinggal adalah karena kita menelantarkan diri kita sendiri,  Barang siapa menelantarkan dirinya, ia akan hilang tersesat. Semoga Allah  membimbing kita ke jalan para salaf kita yang saleh dan mengembalikan barakah  dan asrar mereka kepada kita'. &lt;/p&gt;  &lt;a name="06"&gt;&lt;/a&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;6. Kekhususan dan keistimewaan keluarga Rasulullah saw.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Banyak kitab yang menulis tentang kekhususan dan keistimewaan keluarga  Rasulullah saw, diantara kekhususan dan keistimewaan itu adalah:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Diharamkannya sedekah atas mereka, karena sedekah itu termasuk  kotoran manusia. Sebagai gantinya mereka mendapatkan seperlima dari seperlima  harta fai dan ghanimah/rampasan perang. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan pada  bagian lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Dituntut untuk menunjukkan sikap memuliakan, menghormati,  mengutamakan serta memaafkan kesalahan-kesalahan mereka yang didasari ketulusan.  Dan harus &lt;b&gt;dii'tikadkan &lt;/b&gt;bahwa orang-orang fasik di antara mereka akan  mendapat hidayah dari Allah swt. Semua itu adalah karena kekerabatan mereka  dengan Rasulullah saw, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebagian hadits, dan  ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 33, yang berbunyi:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّمَا يُرِيْدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ  البَيْتِ وَ يُطَهِّرَ كُمْ تَطْهِيْرًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran (rijs) dari  kalian hai ahli al-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dalam bukunya &lt;i&gt;al-Futuhat al-Makiyah &lt;/i&gt;bab ke 29, Ibnu Arabi membicarakan  keagungan Nabi Muhammad saw dan ia memberikan pendapat bahwa beliau saw dan  keluarganya telah disucikan sesuci-sucinya dan telah dibersihkan dari &lt;i&gt;al-rijs&lt;/i&gt;,  yaitu semua perkara yang dapat mencemarkan kemuliaan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abu Ja'far Muhammad Ibnu Jarir al-Thabari, dalam buku &lt;i&gt;tafsir al-Thabari &lt;/i&gt;mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan &lt;i&gt; al-suuk &lt;/i&gt;(kejelekan) dan &lt;i&gt;al-fahsya &lt;/i&gt;(kekejian) dari mereka dan  mensucikan mereka sesuci-sucinya dari kotoran yang timbul akibat maksiat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kitabnya &lt;i&gt;al-Shawaiq al-Muhriqah&lt;/i&gt;, Ibnu Hajar al-Haitsami  menjelaskan bahwa ayat itu adalah sumber keutamaan keluarga Nabi saw, sebab ia  memuat beberapa keindahan, keutamaan mereka dan perhatian Allah swt atas mereka.  Ayat tersebut diawali dengan kata &lt;span style="font-size:180%;"&gt;إنَّمَا&lt;/span&gt; (hanya) yang berfungsi sebagai pembatas kehendak Allah untuk  menghilangkan al-rijs (yang berarti dosa atau ragu terhadap apa yang seharusnya  diyakini) hanya dari mereka saja dan mensucikan mereka sesuci-sucinya dari semua  akhlaq dan tingkah laku yang tercela.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan dan disahihkan oleh al-Hakim, Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;يَا بَنِى عَبْد المُطَلِب   , إِنِّ سَاَلْتُ الله لَكُمْ ثَلاَثًا: أن يثبت قائمكم و أن يهدى ضالكم وأن يعلم جاهلكم &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Hai Bani Abdul Muthalib, sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah  untuk kalian tiga perkara:&lt;br /&gt; - Agar Allah menetapkan orang-orang yang istiqamah di antara kalian.&lt;br /&gt;- Agar Allah menunjukkan orang-orang yang sesat di antara kalian&lt;br /&gt;- Agar Allah mengajarkan orang-orang yang bodoh di antara kalian".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Para ulama telah menjelaskan bahwa sebaiknya penduduk negeri Nabi saw itu  tetap dimuliakan sekalipun tampak bid'ah atau yang serupa di kalangan mereka,  demi menjaga kehormatan ketetanggaan dengan Nabi. Maka betapa pula dengan  keturunan Nabi saw yang merupakan darah daging beliau, walaupun di antara mereka  dan beliau itu ada beberapa perantara (keturunan). &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Telah diriwayatkan tentang firman Allah: &lt;span style="font-size:180%;"&gt;وكان أبوهما صالح &lt;/span&gt;(sedangkan  ayahnya adalah seorang yang saleh), bahwa kata 'ayah' yang dimaksud dalam ayat  itu adalah: yang karena memuliakannya sehingga harta benda anak yatim itu  terpelihara, adalah moyang ketujuh atau kesembilan dari anak yatim tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seyogyanya orang yang fasik di antara keluarga Nabi saw itu sekalipun  perbuatannya itu dibenci, namun mereka tetap harus dihormati karena adanya  ikatan kekerabatan mereka dengan Rasulullah saw. Telah disebutkan dalam beberapa  hadits yang bersumber dari banyak jalan bahwa mereka itu diharamkan dari api  neraka, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bazzar, Abu Ya'la, al-Uqaili,  al-Thabrani dan Ibnu Syahin dalam al-Sunnah dari Ibnu Mas'ud berkata bahwa  Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّ فَاطِمَةَ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا   , فَحَرَّمَهَا الله وَ  ذُرِّيَّتَهَا عَلَى النَارِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya Fathimah telah menjaga kesuciannya, oleh karena itu Allah  mengharamkan dia dan keturunannya dari (sentuhan) api neraka".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah  swt:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى. قَالَ: مِنْ رِضَى  مُحَمَّدٍ اَنْ لاَ يُدْخِلَ اَحَدٌ مِنْ اَهْلِ بَيْتِهِ النَّارَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)  kamu menjadi puas". Ia berkata: Di antara kepuasan Muhammad saw adalah agar  tidak seorangpun dari keluarganya (keturunannya) yang masuk ke dalam api  neraka".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Dari Imran bin Hushain, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;سَأَلْتُ رَبِّي اَنْ لاَ يُدْخِلَ النَّارَ اَحَدًا مِنْ اَهْلِ  بَيْتِي فَأَعْطَانِيْهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Aku telah memohon kepada Tuhanku supaya tidak memasukkan seorangpun dari  ahlul baitku (keturunanku) ke dalam neraka, dan Dia (Allah swt) mengabulkan  permohonanku".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw bersabda:&lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّ فَاطِمَةَ حَصَنَتْ فَرْجَهَا   ,وَاِنَّ الله  اَدْخَلَهَاوَذُرِّيَّتَهَا الجَنَّةَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Sesungguhnya Fathimah telah menjaga kesuciannya, karena itu Allah swt  akan memasukkannya bersama keturunannya ke dalam surga".&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Pernah Rasulullah saw berkata dalam khutbahnya: 'Mengapa orang mengatakan  bahwa kekerabatanku tidak berguna di hari kiamat?! Sesungguhnya kekerabatanku  itu tersambung baik di dunia maupun di akhirat'.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Umar bin Khattab telah melamar Umi Kulsum untuk dirinya dari ayahnya Ali bin  Abi Thalib. Ketika itu Ali menjawab bahwa puterinya itu masih terlalu kecil dan  juga sudah dipersiapkan buat calon isteri putra saudaranya, Ja'far. Namun Umar  bersikeras hendak menyuntingnya juga, ia naik ke atas mimbar dan berkata:  'Saudara-saudara, demi Allah, tidak ada yang mendorongku memaksa Ali dalam  perkara putrinya itu, melainkan bahwa aku pernah mendengar Nabi saw bersabda: &lt;i&gt;Semua sebab, nasab dan periparan terputus pada hari kiamat kelak, kecuali  sababku, nasabku dan periparanku&lt;/i&gt;!. Dan akhirnya Ali menikahkan putrinya itu  dengan Umar. Dari perkawinan tersebut, lahir seorang putra yang diberi nama  Zaid, dan meninggal setelah dewasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua hadits yang menyebutkan manfaat kekerabatan dengan Rasulullah di atas  tidaklah menafi'kan hadis-hadis lain yang menganjurkan ahlul bait beliau agar  takut dan taat kepada Allah swt, dan bahwa yang dekat dengan beliau pada hari  kiamat kelak hanyalah dengan takwa dan bahwa beliau tidak berdaya apa-apa bagi  mereka dari kekuasaan Allah swt. Seperti yang disebutkan dalam hadits sahih,  ketika turun firman Allah swt dalam surat al-Syu'ara ayat 214: &lt;/p&gt;  &lt;div class="quote"&gt; &lt;div style="margin-right: 15px;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأَقْرَبِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div align="center"&gt;"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang   terdekat"&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;maka beliau mengundang para kerabatnya, setelah berkumpul beliau mengatakan  kepada mereka supaya mereka menolong diri mereka masing-masing dari ancaman api  neraka, hingga akhirnya beliau berkata:&lt;i&gt; 'Wahai Fathimah binti Muhammad,  wahai Shafiyah binti Abdul Muthalib, wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak  memiliki apa-apa untuk kalian terhadap kekuasaan Allah, hanya saja kalian  mempunyai hak kekerabatan yang mana akan aku sambungkan dengannya'&lt;/i&gt;.  Selanjutnya seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Syaikh, Rasulullah saw  bersabda: 'Wahai Bani Hasyim, janganlah sampai orang-orang datang di hari  kiamat kelak dengan membawa amal akhirat di pundak mereka, sedangkan kalian  datang sambil memikul dunia di pundak kalian. Kalian tidaklah berdaya apa-apa  terhadap kekuasaan Allah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diriwayatkan oleh al-Thabari bahwa Nabi saw tidaklah memiliki upaya apa-apa,  baik kemanfaatan maupun kemudharatan, tetapi Allah swt memberikan kepadanya  kemanfaatan untuk sanak kerabatnya, bahkan untuk seluruh umatnya, yaitu dengan  syafa'at umum dan khusus. Jadi, beliau tidak mempunyai hak apa-apa kecuali apa  yang sudah dan akan diberikan Allah swt kepadanya, seperti ucapan beliau saw:  'Tetapi kamu mempunyai ikatan kekerabatan yang akan aku hubungkan dengannya'.  Demikian pula dengan makna ucapan beliau: 'Aku tidaklah berdaya apa-apa bagi  kalian di hadapan kekuasaan Allah, selain dari kemurahan Allah yang diberikan  kepadaku (seperti syafa'at atau maghfirah dan lainnya)'. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beliau mengucapkan kata-kata itu kepada sanak kerabatnya adalah untuk  memelihara &lt;i&gt;&lt;b&gt;maqam takhwif &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dan mendorong agar berbuat amal kebajikan  serta menginginkan mereka menjadi manusia-manusia utama dan paling banyak  bagiannya dalam hal ketaqwaan dan ketakutan kepada Allah swt. Kemudian beliau  memberi ketenangan dengan mengingatkan mereka akan hak kekerabatan mereka dengan  Rasulullah saw.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, Mereka adalah manusia yang mulia dari segi nasab dan manusia  yang paling utama dari segi asal-usul. Yusuf bin Ismail al-Nabhani mengatakan:  'karena kemuliaan nasab dan asal-usul mereka, maka tidak ada satupun manusia  yang sekufu' (sepadan) untuk menikah dengan mereka, dan hal ini telah banyak  dijelaskan oleh para ulama pemimpin umat.' Misalnyanya Jalaludin al-Sayuthi  dalam kitab &lt;i&gt;Khosois&lt;/i&gt;-nya mengatakan bahwa tidak ada satu manusia pun yang  sekufu' untuk menikah dengan keluarga Rasul saw. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait Oleh Aidarus Alwee Almashoor&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-3951484203664839100?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3951484203664839100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3951484203664839100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2011/01/bunga-rampai-keutamaan-dzat-ahlul-bait_2620.html' title='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Nur Muhammad'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-8131246266847979781</id><published>2011-01-06T23:22:00.002-08:00</published><updated>2011-01-06T23:38:29.055-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait'/><title type='text'>Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Pengantar</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;KATA PENGANTAR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Alhamdulillah puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi, shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan keturunannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Buku kecil yang ada di hadapan saudara ini berjudul: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"BUNGA RAMPAI KEUTAMAAN DZAT AHLUL BAIT"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; berisi gambaran secara ringkas tentang proses penciptaan dzat ahlul bait yang mulia dari mulai dijadikannya nur Muhammad sampai dengan kelahiran Rasulullah saw. Di samping itu, buku ini juga menceritakan mengenai pendapat para imam madzhab tentang keharaman zakat untuk ahlul bait, dan kafa’ah syarifah, yang merupakan upaya pensucian dan menjaga kemuliaan dzat Ahlul Bait. Dapat dikatakan haramnya zakat untuk ahlul bait adalah usaha untuk menjaga kesucian dzat secara zhohir, sedangkan kafa’ah syarifah usaha untuk menjaga kemuliaan dzat ahlul bait secara bathin. Dalam buku ini juga diuraikan pujian imam ahlul bait terhadap sahabat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tujuan disusunnya buku ini adalah untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan kita tentang keutamaan ahlul bait di tengah-tengah umat dan buku ini disebarkan hanya untuk kalangan sendiri/terbatas, dengan harapan semoga usaha ini mendapatkan ridha dan rahmat dari Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dalam kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan buku ini khususnya kepada Sayid Alwi bin Abdullah Al-Masyhoer dan kalangan ulama alawiyin lainnya, pengelola perpustakaan Jamiat Kheir, melalui mereka penulis mendapat banyak masukan sehingga tersusunnya buku ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Penyusun menyadari bahwa buku ini jauh dari sempurna, untuk itu dimohon sumbang saran terhadap perbaikan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jakarta, Ramadhan 1424 H/November 2003&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Penyusun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait oleh Aidarus Alwee Almashoor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-8131246266847979781?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/8131246266847979781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/8131246266847979781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2011/01/bunga-rampai-keutamaan-dzat-ahlul-bait_8386.html' title='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Pengantar'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-3346038786100450840</id><published>2011-01-06T23:22:00.000-08:00</published><updated>2011-01-06T23:26:32.359-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait'/><title type='text'>Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Mukadimah</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;MUKADIMAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Wahai Bani Hasyim! Janganlah sampai orang-orang lain menghadap padaku pada hari kiamat nanti dengan berbagai amal shaleh (baik), sedangkan kalian menghadapku hanya dengan membanggakan nasab (keturunan)."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ali Bin Abi Thalib berkata:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Barangsiapa yang bermalas-malasan (menangguhkan) amalnya, tidaklah tertolong atau dipercepat naik derajat karena mengandalkan nasab (keturunan)."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diriwayatkan oleh Sufyan al-Tsauri, beliau berkata bahwa Daud al-Thoi pernah mendatangi Ja’far al-Shaddiq untuk minta pendapat dan nasehat, padahal beliau adalah seorang imam sufi ahli zuhud pada masanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Daud al-Thoi: Wahai anak Rasulullah saw, wahai cucu nabi saw, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Engkau adalah orang termulia, nasehatmu wajib menjadi pegangan kami, sampaikanlah/ berikanlah nasehatmu kepada kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ja’far al-Shaddiq: Sungguh aku takut, datukku akan memegang tanganku &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;di hari kiamat nanti, dan berkata: mengapa engkau tidak mengikuti jejakku dengan sebaik-baiknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikian jawaban al-Shaddiq kepada Daud al-Thoi, padahal beliau tidak pernah meninggalkan jejak datuknya, Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka menangislah Daud al-Thoi dan berkata: "Ya Allah, Ya Tuhanku, jika demikian sifat orang dari keturunan Nabi saw, berakhlaq dan berbudi seperti datuknya dan Fathimah al-zahra, dalam kebingungan, khawatir belum sempurna dalam mengikuti jejak Nabi saw, bagaimana halnya dengan aku, Daud ini, yang bukan dari keturunan Nabi saw. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;PERSEMBAHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kepada sumber cinta dan kasih sayang …&lt;br /&gt;Tempat berlindung dari rasa takut menuju rasa aman…&lt;br /&gt;Sumber petunjuk dan ilham…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kepada yang surga diletakkan di bawah telapak kakinya …&lt;br /&gt;Kepada… ibunda …Semoga aku mendapatkan doa dan mencapai keridhaannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 4in; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aidarus Alwee Almashoor&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-3346038786100450840?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3346038786100450840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3346038786100450840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2011/01/bunga-rampai-keutamaan-dzat-ahlul-bait.html' title='Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait-Mukadimah'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-7963027836646251667</id><published>2010-09-03T01:59:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:17:45.806-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Penjelasan atas MASALAH GELAR SAYID,  Oleh Prof. Dr. HAMKA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penjelasan atas MASALAH GELAR SAYID, &lt;br /&gt;Oleh Prof. Dr. HAMKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H. A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal. &lt;br /&gt;Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui PANJI MASYARAKAT, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. &lt;br /&gt;Melihat adanya korelasi dengan buku kami ini, dan setelah mendapat izin dari Saudara Rusydi Hamka, Pemimpin Redaksi/Penanggung-jawab Panji Masyarakat, maka apa yang kami kutip terbatas pada masalah tersebut dijudul saja. &lt;br /&gt;Penulis &lt;br /&gt;YANG pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi Muhammad s.a.w. tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaltsum mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau. &lt;br /&gt;Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu adalah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharapkan anak-anak Fathimah inilah yang menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku' si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau Khutbah, si cucu duduk ketingkat pertama tangga mimbar. &lt;br /&gt;Al-Tarmidzi merawikan dari Usamah bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk diatas kedua paha beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: "Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan. Aku sayang kepada keduanya". &lt;br /&gt;* Lihat majalah tengah-bulanan "PANJI MASYARAKAT" No. 169/tahun ke-XVII – 15 Februari 1975 (=4 Shafar 1395 H.), halaman 37-38. &lt;br /&gt;Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan: "Anakku ini adalah SAYYID (Tuan); moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih". &lt;br /&gt;Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu'awiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai "Tahun Persatuan". Pernah pula beliau berkata: "kedua anakku adalah SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga kelak". &lt;br /&gt;Barangkali ada yang bertanya: "Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain adalah cucunya, mengapa dikatakan anaknya?" &lt;br /&gt;Ini adalah pemakaian bahasan pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Didalam Al-Qur'an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa Nabi Ya'kub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni'matnya kepada puteranya Yusuf," sebagaimana telah disempurnakan-Nya ni'mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak". – Pada hal yang bapa, atau ayah dari Yusuf adalah Ya'kub. Ishak adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayaknya. Diayat 28 Yusuf berkata: "Bapa-bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya'kub". Artinya nenek-nenek moyang disebut bapa dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormat mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum Muslimin. &lt;br /&gt;BAGI ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan "kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga". Disetengah negri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran – Penulis) kaum Syi'ah yang berlebih¬lebihan. Apatah lagi di dalam Al-Qur'an, surat ke-33 "Al-Ahzab", ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya berlipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri¬isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunanya. &lt;br /&gt;MENJAWAB pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w.? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini, sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun Kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negri Pontianak pernah diperintah Bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka menjadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang banyak kita kenal adalah keluarga Alatas, Assagaf, Alkaf, Bafagih, Balfagih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, AlHaddad, bin Smith, bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghathmir, bin Aqil, Alhadi, Basyaiban, Bazar'ah, Bamakhramah, Ba'abud, Syaikhan, Azh-Zhahir, bin Yahya, dan lain-lain. Yang menurut keterangan Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari 'Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Bin Muhammad Al-Naqib bin 'Ali Al-Aridh Bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Ali Bin Abi Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak Fathimah binti Rasulullah s.a.w. &lt;br /&gt;Sesungguhnya yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadhramaut itu, ada juga keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-syarif Mekkah Abi Numay, tapi tidak sebanyak dari Hadhramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar diseluruh dunia. Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilah sampai ke Sayidina Ali dan Fathimah. &lt;br /&gt;DALAM pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan 'Alawy atau bukan, dengan pimpinan A.R. Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan "Al-Akh", artinya Saudara. &lt;br /&gt;Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad Bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cintanya orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalah gunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah s.a.w.: "Janganlah sampai orang lain datang kepadaku dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu". Dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: "Hai Fathimah binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu di hadapan Allah sedikitpun". Dan pernah beliau bersabda: "Walau anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya". &lt;br /&gt;Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan 'Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SUMBER BUKU : &lt;br /&gt;Prof. H.S. Tharick Chehab (12 Rabi'ul-Awal 1395 H.), Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia, JAKARTA&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-7963027836646251667?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7963027836646251667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7963027836646251667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/penjelasan-atas-masalah-gelar-sayid.html' title='Penjelasan atas MASALAH GELAR SAYID,  Oleh Prof. Dr. HAMKA'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-7431792079695729371</id><published>2010-09-03T01:58:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:17:29.467-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - DAFTAR PERPUSTAKAAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DAFTAR PERPUSTAKAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERG, L.W.C. van den – "LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L'ARCHIPEL INDIEN" – Batavia, 1886. &lt;br /&gt;AL-HADDAD, Sajed Alwi b. Taher, Mufti Kerajaan Johor Malaya – "SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI TIMUR JAUH" – Maktab Addaimi, Jakarta, 1957. &lt;br /&gt;HARAHAP, A. Salim – "SEJARAH PENYIARAN ISLAM DI ASIA TENGGARA" – Cetakan ke-dua, Penerbit "Islamiyah", Medan 1951. &lt;br /&gt;SALEEBY, Najeeb M. – "THE HISTORY OF SULU" – Manila, 1963 &lt;br /&gt;Risalah Seminar "SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA" – Diterbitkan oleh Panitia Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, Maret, 1963.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-7431792079695729371?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7431792079695729371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7431792079695729371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan_5617.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - DAFTAR PERPUSTAKAAN'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-3854339857018414330</id><published>2010-09-03T01:50:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:17:20.520-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - Bab VI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB VI&lt;br /&gt;DAFTAR ANAK-SUKU ALAWIYIN DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Al-Ahmad Hamid Munfar   &lt;br /&gt;2 -Ba Abud   &lt;br /&gt;3 -Ba Ali   &lt;br /&gt;4 -Ba Aqil Al-Saqqaf   &lt;br /&gt;5 -Ba Bareyk   &lt;br /&gt;6 -Ba Faqih   &lt;br /&gt;7 -Ba Faraj   &lt;br /&gt;8 -Ba Harun   &lt;br /&gt;9 -Ba Hasyim   &lt;br /&gt;10 -Bahr   &lt;br /&gt;11 -Ba Huseyn   &lt;br /&gt;12 -Baiti   &lt;br /&gt;13 -Balakhi   &lt;br /&gt;14 -Bar  &lt;br /&gt;15 -Barakwan   &lt;br /&gt;16 -Ba Raqbah   &lt;br /&gt;17 -Ba Syiban   &lt;br /&gt;18 -Ba Surrah  &lt;br /&gt;19 -Ba Umar   &lt;br /&gt;20 -Bilfaqih   &lt;br /&gt;21 -Bin Abbad   &lt;br /&gt;22 -Bin Ahsan   &lt;br /&gt;23 -Bin Qutban   &lt;br /&gt;24 -Bin Sahl   &lt;br /&gt;25 -Bin Syuaib   &lt;br /&gt;26 -Bin Thahir   &lt;br /&gt;27 -Bin Yahya   &lt;br /&gt;28 -Barum  &lt;br /&gt;29 -Bu Futim   &lt;br /&gt;30 -Bu Numay   &lt;br /&gt;31 -Taqawi   &lt;br /&gt;32 -Jailani   &lt;br /&gt;33 -Jamal Al-Lail   &lt;br /&gt;34 -Hamid   &lt;br /&gt;35 -Hasni   &lt;br /&gt;36 -Khaneyman   &lt;br /&gt;37 -Khird  &lt;br /&gt;38 -Zahir   &lt;br /&gt;39.-Al-Sumeyt&lt;br /&gt;40. -Saqqaf&lt;br /&gt;41. -Sakran&lt;br /&gt;42. -Safi&lt;br /&gt;43. -Masyhur&lt;br /&gt;44. -Maula Al-Dawilah&lt;br /&gt;45. -Maula Khailah&lt;br /&gt;46. -Mudhar&lt;br /&gt;47. -Mudhir&lt;br /&gt;48. -Munawwar Al-Saqqaf&lt;br /&gt;49. -Muqaibil&lt;br /&gt;50. -Musawa&lt;br /&gt;51. -Muthahar&lt;br /&gt;52. -Wahth&lt;br /&gt;53. -Haddar&lt;br /&gt;54. -Hadi&lt;br /&gt;55. -Hinduan&lt;br /&gt;56. -Sri&lt;br /&gt;57. -Syatri&lt;br /&gt;58. -Syihab&lt;br /&gt;59. -Syaikh Abubakar&lt;br /&gt;60. -Aidid&lt;br /&gt;61. -Aqil Bin Salim&lt;br /&gt;62. -Attas&lt;br /&gt;63. -Aydarus&lt;br /&gt;64. -Fad'aq&lt;br /&gt;65. -Fakhr&lt;br /&gt;66. -Qadri &lt;br /&gt;67. -Jufri&lt;br /&gt;68. -Junaid&lt;br /&gt;69. -Habasyi&lt;br /&gt;70. -Haddad&lt;br /&gt;71. -Kaf&lt;br /&gt;72. -Madeyhiy&lt;br /&gt;73. -Maghrabi&lt;br /&gt;74. -Mahdali&lt;br /&gt;75. -Marzaq&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-3854339857018414330?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3854339857018414330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3854339857018414330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan_1491.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - Bab VI'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-7226168453335048652</id><published>2010-09-03T01:41:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:17:03.877-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - Bab V</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB V&lt;br /&gt;NASAB (SILSILAH)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua nasab terputus, kecuali nasabku..... (Al-Hadith). &lt;br /&gt;ADAM adalah ayah Syith, dan Syith ayah Anusy, dan Anusy ayah Qinan, dan Qinan ayah Mahalail, dan Mahalail ayah Yarid, dan Earid ayah IDRIS alias Akhnukh, dan Idris ayah Matusylakh, dan Matusylakh ayah Lamak, dan Lamak ayah NUH. &lt;br /&gt;BANI SAM &lt;br /&gt;NUH adalah ayah SAM, dan Sam ayah Arfakhsyad, dan Arfakhsyad ayak Syalakh, dan Syalakh ayah Abir, dan Abir ayah Falagh, dan Falagh ayah Arghu, dan Arghu ayah Syarukh, dan Syarukh ayah Nakhur, dan Nakhur ayah AZAR alias Terah, dan Azar ayah IBRAHIM. &lt;br /&gt;BANI ISMAIL &lt;br /&gt;IBRAHIM adalah ayah ISMAIL, dan Ismail ayah Qidar, dan Qidar ayah Hamal, dan Hamal ayah Banat, dan Banat ayah Salaman, dan Salaman ayah Humaysa', dan Humaysa' ayah Adad, dan Adad ayah Ad, dan Ad ayah ADNAN, ADNAN adalah ayah Maad, dan Maad ayah Nizar, dan Nizar ayah Mudhar, dan Mudhar ayah Ilyas, dan Ilyas ayah Mudrikah, dan Mudrikah ayah Khuzaimah, dan Khuzaimah ayah Kinanah, dan Kinanah ayah Al-Nadhr, Al-Nadhr ayah Malak, dan Malak ayah Fihr alas QURAISY. &lt;br /&gt;QURAISYIUN &lt;br /&gt;FIHR ayah Ghalib, dan Ghalib ayah Lu'ay, dan Lu'ay ayah Kaab, dan Kaab ayah Murrah, dan Murrah ayah Kilab alias Hakim, dan Kilab ayah Qusay alias Mujami', dan Qusay ayah Abdimanaf, dan Abdimanaf ayah HASYIM. &lt;br /&gt;BANI HASYIM &lt;br /&gt;HASYIM adalah ayah Abdulmuttalib, dan Abdulmuttalib ayah Abdullah dan Abu Talib. &lt;br /&gt;Abdullah adalah ayah NABI MUHAMMAD s.a.w. (wafat di Madinah 11 H.), dan NABI MUHAMMAD s.a.w. ayah FATIMAH Al-Zahra r.a. (wafat di Madinah 11 H.). Abu Talib adalah ayah IMAM ALI k.w. (wafat di Kufah 40 H.). FATIMAH dan ALI (s.a.) adalah ibu dan ayah AL-HASAN dan AL-HUSEYN s.a. (wafat di Kerbela 61 H.). &lt;br /&gt;AL-HUSEYNIYUN &lt;br /&gt;AL-HUSEYN adalah ayah Ali Zeynal-Abidin (wafat di Madinah 94 H), dan Ali Zeynal-Abidin adalah ayah Muhammad Al-Baqir (wafat di Madinah 119 H), dan Muhammad Al-Baqir ayah Ja'far Al-Sadiq (wafat di Madinah 148 H), dan Ja'far Al-Sadiq ayah Ali Al-Uraidhi (wafat di Uraidh 215 H), dan Ali Al-Uraidhi ayah Muhammad Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Muhammad Al-Naqib ayah Isa Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Isa Al-Naqib ayah Ahmad Al-Muhajir (wafat di Hasisah 345 H), dan Ahmad Al-Muhajir ayah Abdullah alias Ubaidillah (wafat di Ardh 383 H), dan Abdullah ayah Alwi (wafat di Sumul), dan dari Alwi berasal suku-suku ALAWI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/TIC2wwrMJGI/AAAAAAAAADI/OmQc6FRFekU/s1600/marga-fam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 305px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/TIC2wwrMJGI/AAAAAAAAADI/OmQc6FRFekU/s400/marga-fam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512606892717515874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-7226168453335048652?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7226168453335048652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7226168453335048652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan_6110.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - Bab V'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/TIC2wwrMJGI/AAAAAAAAADI/OmQc6FRFekU/s72-c/marga-fam.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-6835009206646057454</id><published>2010-09-03T01:40:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:16:57.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - IV</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB IV&lt;br /&gt;Sejarah Singkat Tentang Peranan Alawiyin di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPADAMU KU TITIPKAN AL-QUR’AN DAN KETURUNANKU……….. (Al-Hadith Rasulullah s.a.w. Dirawikan oleh Imam Ahmad Ibn Hambal). &lt;br /&gt;a. PENDAHULUAN &lt;br /&gt;Pada zaman kekhalifahan Bani Abbas (750-1258 M) berkembanglah ilmu pengetahuan tentang Islam yang bercabang-cabang disamping kenyataan itu penghidupan lapisan atas menyimpang dari ajaran agama Islam. Dibentuknya dynasti Bani Abbas yang turun-temurun mewariskan kekhalifahan. Istilah "muslim bila kaif" telah menjadi lazim. Hidupnya keturunan Sayidatina Fatimah Al-Zahra dicurigai, tiada bebas dan senantiasa terancam, ini oleh karena pengaruhnya anak cucu dari Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. atas rakyat sangat besar dan diseganinya. Ke-inginnan kebanyakan orang Muslim adalah seorang keturunan Nabi yang seharusnya memegang kekhalifahan. Banyak yang dipenjarakan dan dibunuhnya oleh karenanya banyak pula yang pindah dan menjauhkan diri dari pusat Bani Abbas di Baghdad. &lt;br /&gt;AHMAD BIN ISA r.a. &lt;br /&gt;Dalam keadaan sebagaimana di-uraikan diatas, yang pasti akan dikutuk Allah s.w.t., dan dengan hendak memelihara keturunannya dari kesesatan, mengulangilah AHMAD BIN ISA BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN AL-HUSEYN r.a. doa-nya sayidina Ibrahim a.s. yang tersurat dalam Al-Qur’an surat 14 ayat 37 dan dipilihnya Hadramaut yang tiada bertetanaman, untuk menetap dan berhijrahlah beliau dari Basrah ke Hadramaut, dimana beliau wafat di Hasisah pada tahun 345 H. &lt;br /&gt;ALWI BIN UBAIDILLAH ALAWIYIN &lt;br /&gt;Keturunan dari AHMAD BIN ISA tadi yang menetap di Hadramaut dinamakan ALAWIYIN; ini dari nama cucunya ALWI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD BIN ISA yang dimakamkan di Sumul. &lt;br /&gt;Keturunan sayidina Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. disebut juga ALAWIYIN dari sayidina Ali bin Abi-Thalib k.w. Keluarga Al-Anqawi, Al-Musa-Alkazimi, Al-Qadiri dan Al-Qudsi yang terdapat sedikit di Indonesia adalah Alawiyin, tapi bukan dari Alwi bin Ubaidillah. &lt;br /&gt;MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM &lt;br /&gt;Luput dari serbuan Hulaku, saudara maharaja Cina, yang mentamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M.), yang memang telah dikhawatirkan oleh AHMAD BIN ISA akan kutukan Allah s.w.t., maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Thalib r.a. Ini ternyata pula hingga kini dari istilah-istilah dalam loghat orang Hadramaut. Dalam menjalankan ‘tugas suci’, ialah pusaka yang diwariskannya, banyak dari pada suku Alawiyin tiada segan mendiam di lembah yang tandus. Tugas suci ini terdiri dari mengadakan tabligh-tabligh, perpustakaan-perpustakaan, pesantren-pesantren (rubat) dan masjid-masjid. Alawiyin yang semula bermazhab "Ahlil-Bait" mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH melaksanakan suatu kompromis dengan memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi’I Al-Quraisyi, ialah yang kemudian disebut dengan mazhab Syafi’i. Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam ini wafat di Tarim pad atahun 653 H. &lt;br /&gt;TUGAS SUCI (ISLAMISASI) &lt;br /&gt;Alawiyin dalam menyebarkan agama Islam menyebrang ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand (Siam), Indonesia, Tiongkok (Cina), Filipina, dsb. &lt;br /&gt;b. ALAWIYIN DI INDONESIA SEBELUM DIJAJAH BELANDA &lt;br /&gt;Sebelumnya orang Barat datang, maka berkembanglah agama Islam dengan baik sekali dan terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Runtuhnya kerajaan Islam di semenanjung Iberia dalam abad ke XV M. dengan jatuhnya Al-Andalus (1492 M.), mengakibatkan pengejaran bangsa Spanyol terhadap Muslimin, pengejaran mana diberkati Paus Roma. Jika kehendak orang Spanyol menyeranikan, maka kehendak orang Portugis ialah berniaga dengan orang Muslim di Indonesia, dan oleh karena ini orang Portugis lebih memperoleh sukses. Sebab peperangan di Europa antara Spanyol sepihak dengan masing-masing Belanda dan Inggeris, maka kedua bangsa ini turut juga datang ke Indonesia. Kecerobohan dan keserakahan Barat senantiasa ditentang oleh kaum Muslimin di tanah air kita. &lt;br /&gt;c. ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA JAJAHAN BELANDA &lt;br /&gt;Dengan pelbagai tipu muslihat dan fitnah akhirnya Belanda disokong oleh negara¬negara Barat lain, dapat menguasai Indonesia, dan ekonomi Belanda mulai berkembang pesat sesudahnya dapat dipergunakan kapal uap. Alawiyin dari pada awalnya jajahan Belanda mulai merasakan rupa-rupa kesulitan, oleh karena Belanda melihat bahwa Alawiyin-lah dalam segala lapangan menjadi pelopornya, baik di medan perang, maupun dalam bidang pengangkutan barang-barang lewat lautan atau bidang kebudayaan (agama). Dilarangnya Alawiyin menetap di pedalaman pulau Jawa, dilarangnya berkeluarga dengan anggauta istana (yang memang keturunan Alawiyin), hingga yang tiada mampu pindah ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau karena sebab lain, mengambil nama keluarga Jawa agar di-anggapnya orang Jawa asli, pribumi. Oleh karena pindahnya Alawiyin dari pedalaman ke bandar-bandar di pinggir laut, maka pula pusat ke-Islaman pindah ke utara seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, dst. Yang tidak dapat berpindah dari pedalaman, menetap di perkampungan-perkampingan yang disebut "kaum". Suku-suku Alawiyin yang telah anak-beranak dan tiada mampu pindah ke kota-kota besar dan mengambil nama ningrat Jawa, ialah banyak dari pada Al-Basyiban, Al-Baabud, Al-Binyahya, Al-Aydrus, Al-Fad’aq dan lain-lain lagi. Dalam kenyataan demikian itu, Belanda baru mulai berusaha menyeranikan Jawa Tengah, dimana Islam tiada dapat berkembang oleh karena peperangan-peperangan melawan Belanda dan berhasilnya aneka fitnah yang Belanda ciptakan antara penguasa-penguasa pribumi sendiri. Anak Muslim tiada boleh bersekolah, sedangkan anak Keristen dapat pendidikan dan pelajaran modern. Kemudian di-izinkan bersekolah Belanda anak-anak orang yang berpangkat pada pemerintahan jajahan, dan diharuskan mereka tinggal (yakni in de kost) pada pejabat Belanda. Katanya agar dapat lancar berbicara bahasa Belanda dan mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberi dalam bahasa itu; sebetulnya untuk menjadikan kanak-kanak itu berfikir dan hidup secara orang Belanda, dan untuk mengasingkan mereka dari bangsanya sendiri, dari adat-istiadat dan agamanya. Anak rakyat biasa, awam, mengaji, baik pada madrasah-madrasah Alawiyin atau pesantren¬pesantren. Hubungan Alawiyin dengan para kiyahi erat sekali. Untuk melumpuhkan berkembangnya agama Islam di-antara anak-anak rakyat jelata, Belanda mengadakan sekolah-sekolah Hollands-Inlandse School (H.I.S.) dengan syarat bahwa murid tiada boleh bersarong dan berkopya-pici, harus mengenakan celana pendek sampai atas lutut, pakaian mana bukan kebiasaan orang yang mendirikan salat. Jangan sampai kanak-kanak dapat membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama Islam yang tertulis dengan huruf Arab, Belanda mengajar dengan sungguh menulis dengan huruf latin, dan mengadakan buku¬buku yang menarik dalam huruf ini, untuk maksud mana dibentuknya Balai Perpustakaan. Banyak buku-buku yang dikarang oleh pendeta dan padri, indolog dan orientalis, mengandung racun bagi anak murid yang pengetahuannya tentang Islam dan tarikhnya masih sangat dangkal. Alawiyin menolak tawaran Belanda untuk membangun Hollands-Arabise School (H.A.S.), dan menolak pula subsidi dari pemerintah jajahan bagi madrasah-madrasahnya, karena curiga dan takut dari tipu muslihat dan pengaruh Belanda yang berniat merusak agama Islam. Alawiyin tiada boleh mendirikan cabang¬cabang madrasah di kota-kota besar dengan nama yang sama, oleh karena itu nama-nama madrasah yang sama skala pendidikannya, berlainan namanya. Para guru dari negara Islam didatangkan untuk mengajar di madrasah-madrasah, dan kanak-kanak yang berbakat dikirim melanjutkan pelajarannya ke Hadramaut, Hejaz, Istanbul, Kairo dan lain-lain. &lt;br /&gt;Disamping perguruan, Alawiyin aktif juga di lapangan politik hingga beberapa orang ditangkap dan dipenjarakan. Melawan Belanda antara mana di Aceh, dan sesudah Aceh ditaklukannya, Muslimin hendak mengadakan pembrontakan di Singapura di kalangan tentara Muslimin India yang Inggeris hendak berangkatkan untuk berperang di Iraq (Perang Dunia I). Perlu juga diketahui bahwa Alawiyin senantiasa berhubungan dengan Muslimin di luar negri, orang-orang yang terkemuka dan berpengaruh, teristimewa dengan Padisyah, Khalifatul Muslimin di Istanbul, yang atas aduan Alawiyin pernah mengirim utusan rahasia untuk menyelidiki keadaan-keadaan Muslimin di Indonesia. &lt;br /&gt;d. ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA PENDUDUKAN MILITER JEPANG&lt;br /&gt;Pendudukan militer Jepang menindas dan mematikan segala kegiatan Alawiyin, terutama dalam bidang politik, perguruan tabligh, pemeliharaan orang miskin dan anak yatim. Perpustakaan yang tidak dapat dinilai harganya di-angkut Jepang, entah kemana. Semua kitab ada capnya dari Al-Rabitah Al-Alawiyah yang berpengurus-besar hingga kini di Jalan Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 17. Jakarta Pusat (II/24). &lt;br /&gt;e. ALAWIYIN DI INDONESIA SETELAH MERDEKA &lt;br /&gt;Pemudan Alawiyin turut giat melawan Inggeris dan Belanda (Nica), bergerilya di pegunungan. SEMUA PEMUDA ALAWIYIN ADALAH WARGANEGARA INDONESIA dan masuk berbagai partai Islam. Dalam lapangan ekonomi mereka sangat lemah hingga kini belum dapat merebut kembali kedudukannya seperti sebelumnya pecah perang dunia ke-dua, dengan lain kata, jika Alawiyin sebelumnya Perang Dunia ke II dapat membentuk badan-badan sosial seperti gedung-gedung madrasah, rumah yatim piatu, masjid-masjid dan membayar guru-guru yang cakap, maka sekarang ini dengan susah payah mereka membiayai pemeliharaannya dan tidak dapat lagi memberi tenaga guru-guru sepandai dan secakap yang dahulu, meskipun kesempatan kini adalah lebih baik dan pertolongan pemerintah ala qadarnya. Kegiatan bertabligh tetap berada di tangan para kiyahi dan Alawiyin yang tersebar di pelosok-pelosok kepulauan Indonesia. Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap dicintai dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat sebagaimana juga di negara Islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin di-ikuti dalam perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya. Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000 orang; ada banyak yang besar, antara mana Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habasyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-Haddad. Dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Daimi yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul¬alawiyin yang berpusat di gedung "Darul Aitam", Jalan K.H. Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 47, Jakarta Pusat (II/24).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-6835009206646057454?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/6835009206646057454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/6835009206646057454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan_5135.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - IV'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-3885945008122269196</id><published>2010-09-03T01:39:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:16:41.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - BAB III</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;Silsilah Para Pemimpin Islam (Wali-Wali), Golongan Pertama yang Menyiarkan Agama Islam di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) JAMALUDDIN ALHUSAIN gelar WAJUK MAKASAR, bin Imam Ahmad Syah bin Amir Abdullah Khan bin Abdul-malik bin Alwi bin Muhammad Sahib Marbat bin Ali Khaliq Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Aluraidhi bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Bakir bin Ali Zainulabidin bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;2) RADEN RAHMAT gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;3) MUHAMMAD AINUL YAQIN gelar SUNAN GIRI GRESIK bin Maulana Ishak Makhdum dari Pasei Malaka, bin Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK¬TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;4) HIDAYATULLAH gelar SUNAN GUNUNGJATI-CIREBON bin Sunan Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;5) SYEIKH IBRAHIM gelar SUNAN BONANG di Tuban, bin Raden Rahmat gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;6) MAULANA MALIK IBRAHIM di Gapura-Gresik bin Barakat Zainul Alam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;7) BABULLOH gelar SUNAN TERNATE bin Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;8) ALI MURTADHO gelar RADEN SANTRI (BEDILAN GRESIK) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;9) AHMAD HISAM (dekat Lamongan) bin Raden Rahmat gelar Sunan Ampel (Surabaya) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;10) JA’FARUSSADIQ gelar SUNAN KUDUS bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;11) HASYIM gelar SUNAN DRAJAT LAMONGAN bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;* Siaran "Pengurus Makam Maulana Malik Ibrahim", 1956 &lt;br /&gt;12) ZAINAL-ABIDIN (Demak) bin Ahmad Hisam bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas. &lt;br /&gt;13) HASANUDDIN (Banten) bin Hidajatulloh gelar Sunan Gunungjati-Cirebon, bin Abdullah (Kamboja) bin Ali Nurul Alam (Siam) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-3885945008122269196?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3885945008122269196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/3885945008122269196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan_3108.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - BAB III'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-7963702065046426209</id><published>2010-09-03T01:37:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:16:36.462-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - BAB II</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB II&lt;br /&gt;Kerajaan-Kerajaan Islam yang Didirikan di Pulau Jawa, Keturunannya dan Tokoh-Tokoh Islam yang Ternama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Yang terpenting terdapat hingga kini adalah para sultan Cirebon, keturunan langsung dari SUSUHUNAN GUNUNG JATI. Hanya kepada para Alawi (Sayid) diperkenankan ziarah makam moyangnya. Belanda melarang gelar sultan digunakan. &lt;br /&gt;2) Keluarga para sultan Banten, keturunan langsung dari seorang putra SUSUHUNAN GUNUNG JATI, dibuang oleh Belanda ke Surabaya. Suatu cabang dari keluarga para Sultan Banten adalah para Regen Cianjur, kedudukan mana ditetapkan pada tahun 1815. &lt;br /&gt;3) Keturunan SUSUHUNAN KALIJOGO adalah para Pangeran Kadilangu dekat Demak, sedangkan keturunan SUSUHUNAN DRAJAT tinggal di atas tanah milik Drajat, sebesar lebih kurang 9 hektar dekat Sedayu; inilah yang merupakan sisa dari Kerajaan Drajat. &lt;br /&gt;4) Sejarah keluarga BA-SYAIBAN: Pada permulaan abad ke XVIII datang dari Hadramaut ke Cirebon Sayid Abdurrahman bin Muhammad, dimana beliau menikah dengan puteri Sultan Cirebon. Kedua puteranya Sulaiman dan Abdurrahim memperoleh gelar KIAHI MAS, semula tinggal di Surabaya dan kemudian di Krapyak (Pekalongan). Suatu cabang dari keluarga ini menetap di Surabaya. Seorang putera dari Abdurrahim, bernama SA'ID, menikah dengan puteri RADEN ADIPATI DANU REJO, Pengurus Kerajaan Jogjakarta. Dari ketiga puteranya, yang tertua Hasyim bergelar RADEN WONGSO ROJO, yang kedua Abdallah bergelar hanya RADEN, sedangkan yang ketiga Alwi kemudian pada tahun 1813, menjadi REGEN MAGELANG dengan nama dan gelar RADEN TUMENGGUNG DANU NINGRAT I. Pada tahun 1820 beliau bergelar RADEN ADIPATI. Keturunan dari Hasyim dan dari Abdallah tinggal di Jogjakarta, dan beberapa dari mereka memangku jabatan-jabatan penting pada Ke-Sultanan. Pada tahun 1826, Hamdani bin Alwi yang menggantikan ayahnya sebagai Regen Magelang bergelar RADEN TUMENGGUNG ARIO DANU NINGRAT II. Pada tahun 1862 beliau diganti oleh puteranya Sa'id yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU (KUSUMO) NINGRAT III. Pada tahun 1879 beliau diganti oleh puteranya SAYID AHMAD BIN SA'ID yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU KUSUMO. Sayid Sa'id bin Hamdani balik dari haji (Makkah) pada tahun 1881, seorang sayid dari keturunan para pangeran Jawa kuna. &lt;br /&gt;5) Sejarah keluarga pelukis masyhur RADEN SALEH. Namanya yang betul adalah Sayid Salih bin Husain bin Yahya. Neneknya Awadh datang dari Hadramaut ke Jawa pada permulaan abad ke XIX dan menikah dengan puteri Regen Lassem, Kiahi Bostam. Puteranya, Seyid Husain bin Awadh tinggal di Pekalongan, dimana beliau menikah dengan puteri Regen Wiradesa. Beliau memperoleh dua putera dengan gelar Sayid dan dua puteri dengan gelar Syarifah. Putera yang kedua bergelar pula RADEN. Seorang puterinya dinikahkan dengan Patih Galuh. &lt;br /&gt;6) Suatu cabang dari keluarga BIN-YAHYA tiba di Pulau Pinang pada permulaan abad ke XIX juga, dan namanya TAHIR. Beliau menikah dengan seorang puteri dari keluarga Sultan Jogjakarta, Sultan mana dibuang ke Pulau Pinang selama 1812-1816. &lt;br /&gt;Sayid Tahir datang ke Jawa tinggal di Semarang. Puteranya yang ketiga AHMAD RADEN SUMODIRJO yang kemudian tinggal di Pekalongan dan memperisterikan seorang syarifah dari keluarga BA'ABUD. Puteranya Seyid Salih bergelar RADEN SUMO DI PUTRO. Satu-satu puterinya menikah dengan seorang Seyid dari Hadramaut. &lt;br /&gt;7) Keluarga AL-BA'ABUD: Seyid Ahmad bin Muhsin Ba'abud tiba dari Hadramaut di Pekalongan pada perrmulaan abad ke XIX, dan menikah dengan seorang puteri REGEN WIRADESA. Seorang anak cucunya Sayid Muhsin bin Husain bin Ahmad Ba'abud bergelar RADEN SURO ATMOJO. Saudaranya Ahmad bergelar RADEN SURO DI PUTRO. &lt;br /&gt;8) Keluarga JAMAL-AL-LAIL. Di Priaman (Sumatra Barat) ada suatu cabang dari keluarga JAMAL-AL-LAIL, dan kepada para anggautanya penduduk memberi gelar SIDI. &lt;br /&gt;9) Pada Kerajaan JAMBI, banyak terdapat anggauta keturunan BARAQBAH dan AL-JUFRI, begitu pula di Aceh, pun dari keturunan JAMAL-AL-LAIL. &lt;br /&gt;10) Di Kesultanan Pontianak dan di Kubu, banyak sekali terdapat keturunan AL¬QADRI, AL-AYDRUS, BA-ABUD, MUTAHHAR, AL-HINDUAN, AL-HABSYI, AL¬HADDAD, AL-SAQQAF dan lain-lain Alawiyin. Semua ini bersanak-saudara dengan keluarga Sultan AL-QADRI. Sayid-sayid bergelar Wan, ringkasan dari Tuan, dan untuk wanita: Wan Ipa, ringkasan dari Tuan Syarifah. &lt;br /&gt;11) Keluarga para Sultan Siak dan keluarga penguasa Palalawan adalah semua Alawiyin, begitu pua di Palembang. Keluarga-keluarga para Alawi yang terkemuka di Palembang adalah SYAIKH ABU BAKR, ALHABSYI, BIN SYIHAB, AL-SAQQAF, BARAQBAH, AL-KAF, AL-MUNAWWAR dan AL-JUFRI. Antara mereka ada yang berkeluarga dengan sultan-sultan dahulu. Banyak sekali terjadi percampuran darah antara keluarga-keluarga Alawi (Sayid) dengan para terkemuka Indonesia, seperti puteri Sultan dari Pulau Bacan. &lt;br /&gt;12) Para sultan keturunan Alawi dari Siak, Palalawan, Pontianak dan dari Kubu namanya disebut dalam khotbah Jumahat. Pendiri kesultanan Siak adalah SEYID ALI BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dari Palalawan adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dan dari PONTIANAK adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN HUSEIN AL-QADRI. &lt;br /&gt;13) Pendiri kesultanan SULU adalah SAYID ABUBAKR dari Palembang dengan gelar SULTAN SHARIF (orang-orang Sulu menyebutnya ASSULTAN ASSYARIF ALHASYIMI). Urutan para sultan adalah sebagai berikut: MAHARAJA UPU – PANGIRAN BUDIMAN – SULTAN TANGA – SULTAN BUNGSU – SULTAN NASIRUDDIN – SULTAN KARAMAT – SULTAN SYAHABUDDIN – SULTAN MUSTAFA gelar SAPIUDDIN – SULTAN MUHAMMAD NASARUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN I – SULTAN MUHAMMAD MU'IZZIDDIN – SULTAN ISRAIL – SULTAN ALIMUDDIN II – SULTAN MUHAMMAD SARAPUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN III. &lt;br /&gt;14) Masuknya Islam dan terdirinya dynasti Islam di Sulu: 1380 – 1450. &lt;br /&gt;*(No. 13 dan 14 dikutip dari THE HISTORY OF SULU oleh Najeeb M. Saleeby, Manila, 1963). &lt;br /&gt;* Yang terurai di atas digali dari buku LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L'ARCHIPEL INDIEN par L.C.W. van den Berg, .Ouvrage publié par ordre du Gouvernement, Batavia, Imprimerie du Gouvernement, 1886/Museum Pusat, Jakarta, XXI/1387 &amp; XXI/6076.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-7963702065046426209?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7963702065046426209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7963702065046426209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan_1734.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - BAB II'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-1720155282661292810</id><published>2010-09-03T01:35:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:16:18.128-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - Bab I</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;Nasab Para Pelopor Da'I yang Memasukkan Islam ke Pulau Jawa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Salam Jumad gelar SUSUHUNAN ATAS ANGIN, bin Makhdum Kubra bin Jumad al-Kubra bin Abdallah bin Tajaddin bin Sinanaddin bin Hasanaddin bin Hasan bin Samaun bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zain al-Kubra bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;Na'im gelar SUSUHUNAN WALI ALLAH, bin Abdul Malik Asfarani bin Husain Asfarani bin Muhammad Asfarani bin Abibakr Asfarani bin Ahmad bin Ibrahim Asfarani bin Tuskara, imam Yemen, bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN TEMBAJAT bin Muhammad Mawla al-Islam bin Ishaq gelar WALI LANANG DARI BALAMBANGAN, bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN GIRI bin Ishaq, gelar WALI LANANG DARI BELAMBANGAN (hal 15:3), bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;Hasanaddin gelar PANGERAN SABAKINKING bin Ibrahim gelar SUSUHUNAN GUNUNG JATI bin Ya'qub gelar Sutomo Rojo bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;KIAHI AGENG LURUNG TENGAH bin Syihabuddin bin Nuraddin Ali bin Ahmad al-Kubra al-Madani bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN DRAJAT bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN BONANG bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN KALINYAMAT bin Haji Usman bin Ali gelar RAJA PENDETA GERSIK, bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;Ibrahim gelar SUSUHUNAN PUGER bin Askhian bin Malik bin Ja'far al-Sadiq bin Hamdan al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN PAKALA NANGKA dari Banten bin Makhdum Jati, Pangeran Banten, bin Abrar bin Ahmad Jumad al-Kubra bin Abid al-Kubra bin Wahid al-Kubra bin Muzakir Zain al-Kubra bin Ali Zain al-Kubra bin Muhammad Zain al-Kabir bin Muhammad al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN KUDUS bin SUSUHUNAN NGUDUNG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN GESENG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN PAKUAN bin al-Ghaibi bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w. &lt;br /&gt;SUSUHUNAN KALIJOGO bin TUMENGGUNG WILO TIRTO, gubernur Japara, bin ARIO TEJO KUSUMO, gubernur Tuban, bin Ario Nembi bin Lembu Suro, gubernur Surabaya, bin Tejo Laku, gubernur Majapahit, bin Abdurrahman gelar ARIO TEJO, gubernur Tuban, bin Khurames bin Abdallah bin Abbas bin Abdallah bin Ahmad Jamal bin Hasanaddin bin Arifin bin Ma'ruf bin Abdallah bin Mubarak bin Kharmis bin Abdallah bin Muzakir bin Wakhis bin Abdallah Azhar bin ABBAS r.a. bin Abdulmuttalib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-1720155282661292810?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/1720155282661292810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/1720155282661292810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan_03.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia - Bab I'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-4921489125962640735</id><published>2010-09-03T01:33:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T09:16:03.454-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal-Usul Para Wali Dsb. Di Indonesia'/><title type='text'>Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia-Mukadimah</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPC-2%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPC-2%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPC-2%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mukadimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Buku kecil ini ditulis untuk memenuhi permintaan dan menjawab pertanyaan­pertanyaan kaum cendikiawan yang menaruh perhatian atas asal-usul para Wali, Susuhunan, Sultan, dan sebagainya serta ingin mengetahui tentang sejarah Alawiyin dan peranannya di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Banyak buku-buku telah diterbitkan tentang para pelopor da'i yang memasukkan Islam ke Pulau Jawa, baik yang dikarang oleh ahli sejarah, orientalis maupun oleh kaum politici Barat dan pendeta Kristen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bahkan Penulis masih ingat diselenggarakan suatu Seminar tentang masuknya agama Islam di Medan pada tahun 1963. Kesemuanya itu tidak lain semata-mata untuk melengkapi sejarah Islam di Indonesia dengan semurni-murninya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Semoga buku kecil ini, yang hanya merupakan sketsa kasar, mampu memperkaya khazanah pengetahuan para pembaca budiman tentang sejarah Islam di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Wasalam, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penulis&lt;br /&gt;JAKARTA, 12 Rabi'ul-Awal 1395 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-4921489125962640735?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/4921489125962640735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/4921489125962640735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/09/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan.html' title='Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia-Mukadimah'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-7648619252963768379</id><published>2010-06-12T11:18:00.001-07:00</published><updated>2011-04-27T08:30:08.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.'/><title type='text'>Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. - Penutup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oNTpiKEH954/Tbg0jRuIyYI/AAAAAAAAAF0/1fJG4kN0lzY/s1600/PDF_logo1.gif"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1027"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/14769010/KEUTAMAANKELUARGARASULULLAHSAW.pdf.html"&gt;Download File&lt;/a&gt;  &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-QWmJglWMBUI/Tbg2B-Y-ATI/AAAAAAAAAGE/P110GfP9ceg/s1600/PDF_logo1.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 35px; height: 40px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QWmJglWMBUI/Tbg2B-Y-ATI/AAAAAAAAAGE/P110GfP9ceg/s320/PDF_logo1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600285544190705970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oNTpiKEH954/Tbg0jRuIyYI/AAAAAAAAAF0/1fJG4kN0lzY/s1600/PDF_logo1.gif"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat suci Al-Qur'anul-Karim, dari Hadits-hadits Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh para sahabat beliau, dan dari pendapat para Imamul-Mujtahidin serta para ulama; yang telah kami paparkan dalam buku ini, semuanya merupakan dalil-dalil syar'iy yang mendasar dan kuat tentang kewajipan setiap orang beriman mencintai dan menghormati ahlulbait Rasulullah s.a.w. beserta semua keturunan mereka, semata-mata demi kerana Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dari semua uraian yang terdapat di dalam buku ini pembaca dapat memperoleh pokok-pokok pengertian yang melandasi kewajipan mencintai dan menghormati ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan keturunannya. Pokok-pokok pengertian itu ringkasnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Rasulullah s.a.w. dan ahlulbaitnya berhak memperoleh ketaatan dan penghormatan dari ummatnya.&lt;br /&gt;2. Rasulullah s.a.w. adalah pangkal kemuliaan dan kesucian ahlulbaitnya.&lt;br /&gt;3. Beliau adalah wali bagi semua ahlulbait dan keturunannya.&lt;br /&gt;4. Beliau s.a.w. adalah ayah (sesepuh) mereka.&lt;br /&gt;5. Ummat Islam wajib mendahulukan mereka.&lt;br /&gt;6. Ummat Islam harus mahu menimba ilmu dari mereka.&lt;br /&gt;7. Apa yang membuat mereka tidak senang, membuat Rasulullah tidak senang.&lt;br /&gt;8. Apa yang melegakan mereka melegakan Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;9. Hubungan nasab mereka dengan beliau s.a.w. tidak terputus pada hari kiamat.&lt;br /&gt;10. Hubungan mereka dengan Rasulullah s.a.w. sebagai wasilah tidak terputus pada hari kiamat.&lt;br /&gt;11. Hubungan kekerabatan dan kefamilian (mushaharah) antara mereka dengan Rasulullah s.a.w. tidak terputus pada hari kiamat.&lt;br /&gt;12. Iman belum benar-benar masuk ke dalam hati seseorang hamba Allah sebelum ia mencintai ahlulbait demi kerana Allah dan kerana kekerabatan mereka dengan Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;13. Barangsiapa yang menghormati dan berbuat baik terhadap mereka, pada hari kiamat kelak ia akan memperoleh balasan baik dari Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;14. Setiap orang beriman wajib mencintai mereka atas dasar kecintaannya kepada Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;15. Orang terbaik di kalangan ummat Islam ialah yang paling besar kecintaan dan penghormatannya kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;16. Seseorang di kalangan ummat Islam tidak akan memperoleh kebajikan di dunia dan di akhirat, kecuali jika ia mencintai mereka demi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;17. Seyogyanya orang lebih menyukai hubungan persaudaraan dengan mereka daripada hubungan persaudaraannya dengan kaum kerabatnya sendiri.&lt;br /&gt;18. Setiap Muslim wajib menyedari bahwa ahlulbait Rasulullah s.a.w. mempunyai hak yang amat besar atas dirinya.&lt;br /&gt;19. Setiap Muslim wajib menghormati dan menjaga keselamatan mereka.&lt;br /&gt;20. Barangsiapa mengganggu mereka bererti mengganggu Rasulullah s.a.w., dan orang yang mengganggu beliau s.a.w. bererti mengganggu Allah s.w.t.&lt;br /&gt;21. Seorang Mu'min belum benar-benar beriman selagi ia belum mencintai Rasulullah s.a.w., dan ia belum mencintai Rasulullah s.a.w. selama belum mencintai ahlulbait beliau.&lt;br /&gt;22. Mereka senantiasa bersama-sama dengan Al-Qur'an hingga saat mereka masuk syurga.&lt;br /&gt;23. Orang yang memperoleh hidayat Ilahi ialah yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan ahlulbait Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;24. Orang yang tidak berpegang pada Al-Qur'an dan ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah sesat.&lt;br /&gt;25. Rasulullah s.a.w. telah mengingatkan kita akan kewajipan kita terhadap Allah s.w.t. mengenai keharusan kita mencintai ahlulbait beliau s.a.w. dan mengenai keharusan kita menghormati mereka. Rasulullah s.a.w. mengaitkan kehormatan mereka dengan kehormatan beliau sendiri dan kehormatan agama Islam.&lt;br /&gt;26. Barangsiapa mengindahkan kehormatan Rasulullah s.a.w. dan ahlulbaitnya, Allah s.w.t. akan memelihara keselamatan agama dan keduniaannya.&lt;br /&gt;27. Barangsiapa yang tidak mengindahkan kehormatan Rasulullah s.a.w. dan kehormatan ahlulbait beliau, Allah s.w.t. tidak akan memelihara keselamatan agama dan keduniaannya.&lt;br /&gt;28. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan kepada kita supaya kita menyampaikan segala hal yang baik kepada ahlulbait beliau.&lt;br /&gt;29. Rasulullah s.a.w. pada hari kiamat akan menggugat setiap orang yang mengurangi hak ahlulbait beliau, dan barangsiapa yang pada hari kiamat akan digugat oleh beliau s.a.w. ia akan masuk neraka.&lt;br /&gt;30. Ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah hablullah (tali Allah) yang kita diperintah supaya teguh berpegang padanya, sebagaimana firman Allah: "Hendaklah kalian semuanya berpegang teguh pada tali Allah". (S. Aali Imran: 103).&lt;br /&gt;31. Kita harus mengerti, bahwa ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah orang-orang yang menjadi sasaran irihati kerana mereka memperoleh limpahan kurnia Allah s.w.t.&lt;br /&gt;32. Seorang hamba Allah belum benar-benar beriman selagi kecintaannya kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. belum melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri dan keluarganya.&lt;br /&gt;33. Persahabatan setia dengan ahlulbait adalah hidayat yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya: "Aku adalah Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat, beriman dan berbuat kebajikan". (S. Thaa Haa: 82).&lt;br /&gt;34. Allah s.w.t. sangat murka terhadap orang yang mengganggu ahlulbait Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;35. Barangsiapa mencintai dan menghormati mereka, Allah akan memanjangkan usianya dan melestarikan kurnia nikmat yang dilimpahkan kepadanya.&lt;br /&gt;36. Barangsiapa yang membenci dan menghina mereka, Allah akan memendekkan usianya dan akan mencabut nikmat yang diberikan kepadanya, dan pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dalam keadaan bermuka hitam.&lt;br /&gt;37. Manusia akan selalu mengikuti mereka dalam kebajikan mahupun dalam keburukan. Dengan kebaikan mereka manusia akan menjadi baik dan dengan kerosakan mereka manusia akan menjadi rosak.&lt;br /&gt;Mengingat kesemuanya itu, sebagai penutup tulisan kami dalam buku ini, kami berseru agar kaum Muslimin tidak enggan membantu kesukaran para keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w., mahu belajar kepada mereka yang berilmu dan mengajar mereka yang kurang mendalam ilmunya. Kebaikan dan kesentosaan kaum Muslimin banyak kaitannya dengan kebaikan dan kesentosaan mereka. Mereka adalah bahtera keselamatan bagi kaum Muslimin, tak ubahnya dengan bintang-bintang di langit yang menjadi petunjuk jalan dalam perjalanan gelap di tengah samudera.&lt;br /&gt;Beruntunglah orang-orang yang memelihara hubungan baik dengan ahlulbait, kaum kerabat Rasulullah s.a.w. dan keturunan mereka. Bahagialah orang-orang yang dengan syafaat Rasulullah s.a.w. akan memperoleh kebahagiaan hidup kekal di akhirat. Alangkah nikmatnya orang-orang yang dengan keridhoan Allah dan Rasul-Nya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aali sayyidina Muhammad, wa sallim wardha 'an shahabat Rasullillahi ajma'in.&lt;br /&gt;Amiin.&lt;br /&gt;16 Rajab 1406&lt;br /&gt;27 Maret 1986&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber : K.H Abdullah bin Nuh (1986), Buku Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4667961915564024904-7648619252963768379?l=www.habibalawiyin.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7648619252963768379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4667961915564024904/posts/default/7648619252963768379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.habibalawiyin.co.cc/2010/06/keutamaan-keluarga-rasulullah-saw_224.html' title='Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. - Penutup'/><author><name>Alfaqir Al-Aidid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01484843697143845971</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_6wzjr-USZ00/S5oSAjPYH6I/AAAAAAAAAAo/2M8HnNaSA6M/S220/Love+Muhammad.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QWmJglWMBUI/Tbg2B-Y-ATI/AAAAAAAAAGE/P110GfP9ceg/s72-c/PDF_logo1.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4667961915564024904.post-8773122872860356993</id><published>2010-06-12T11:16:00.000-07:00</published><updated>2010-06-12T11:26:32.057-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.'/><title type='text'>Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. - BAB VII</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CClient%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CClient%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CClient%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} h6 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 6 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:10.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan lines-together; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:6; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	color:#243F60; 	font-weight:normal; 	font-style:italic;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.Heading6Char 	{mso-style-name:"Heading 6 Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:9; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 6"; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Cambria; 	color:#243F60; 	font-style:italic;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14pt;" &gt;BAB VII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h6 style="margin-top: 0in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14pt;" &gt;KISAH TENTANG TAFSIR AYAT 32 S. FATHIR&lt;o:p&gt;&lt;
